KOGAMI: Banyak yang Salah Kaprah Memahami Fungsi Shelter

KOGAMI Banyak yang Salah Kaprah Memahami Fungsi Shelter Shelter

Covesia.com – Sumatera Barat masih terancam dengan potensi bencana gempa dan tsunami yang bersumber dari megathrust di laut barat Sumatera, terutama di segmen Mentawai-Pulau Siberut dengan magnitudo 8,7 dan segmen Mentawai-Pagai bermagnitudo 8,9. Sementara, sistem mitigasi bencana menghadapi potensi tersebut dinilai belum maksimal.

Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI) Padang, menilai pemahaman pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan dalam menghadapai potensi bencana, khususnya gempa dan tsunami, belum terintegrasi maksimal. Bahkan, untuk memahami istilah dan fungsi dari tempat evakuasi, secara implementasi belum benar.

“Yang harus dipahami adalah apa fungsi shelter, dan bagaimana cara agar shelter dapat berfungsi maksimal, bukan ketika terjadi bencana saja,” kata Direktut Eksekutif KOGAMI, Patra Rina Dewi, kepada covesia, Jumat (19/10/2018).

Menurutnya, secara fungsional seharusnya shelter terintegrasi dengan aktivitas keseharian publik di sekitarnya. Shelter tidak semata digunakan ketika terjadi bencana, khususnya tsunami.

“Seharusnya shelter dapat berfungsi untuk kepentingan publik sekitar, ada aktivitas ekonomi di sana, karena setelah berdiri, shelter perlu perawatan, dan perawatan tentu membutuhkan biaya. Pertanyaannya dari mana sumber biayanya, ” jelas Patra.

Dari segi fasilitas, katanya, seharusnya shelter menjadi tempat relokasi sementara, ketika bangungan milik masyarakat sama sekali tidak bisa dihuni pasca terjadi bencana.

Karena itu, lanjutnya, shelter harus dilengkapi dengan fasilitas penunjang kebutuhan dasar manusia, seperti makanan dan minuman, fasilitas MCK, obat-obatan dan fasilitas kebutuhan sekunder lainnya.

“Jika belajar dari Jepang, mereka menjadikan fasilitas publik seperti perkantoran dan sekolah sebagai shelter, lengkap dengan fasilitas penunjang kebutuhan dasar manusia,” sebutnya.

Dia mengatakan, selain itu, perlu evaluasi dari pemerintah terhadap sejumlah shelter yang telah dibangun, terutama yang berada di lingkungan masyarakat.

Evaluasi meliputi, kondisi bangunan, fasilitas pendukung di shelter, serta uji coba secara berkala peralatan kelistrikan darurat, tambahnya.

(rdk)  

Baca juga: BPBD: Pasaman Barat Belum Punya Shelter, Serine Peringatan Dini Tsunami Rusak

Berita Terkait

Baca Juga