Peneliti: Manuskrip Bisa Jadi Acuan Mitigasi Bencana.

Peneliti Manuskrip Bisa Jadi Acuan Mitigasi Bencana Peneliti sekaligus dosen sejarah dari Universitas Andalas (Unand) Pramono . (Foto: Fadil Mz/ Covesia)

Covesia.com - Peneliti sekaligus dosen sejarah dari Universitas Andalas (Unand) Pramono menjelaskan, bahwa peristiwa alam yang terjadi di daerah Minangkabau kebanyakan disampaikan melalui bahasa lisan dari satu generasi kepada generasi selanjutnya.

"Sangat sedikit sekali kita menemukan naskah yang menceritakan bencana alam. Tetapi masyarakat lebih cenderung memberikan nama suatu daerah berdasarkan peristiwa alam yang pernah terjadi dan ini secara turun temurun diceritakan secara lisan," ujar Pramono di Padang, Selasa, (16/10/2018).

Terkait naskah kuno, Pramono mengungkapkan dari hasil penelusuran tim peneliti, hanya menemukan naskah Kono terkait banjir yang pernah terjadi di Talu “Syair Nagari Talu Taloe

Tarendam 1890”. Naskah tersebut tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Menurutnya sejak tahun 2013-2017 tim  menemukan 4 naskah mengenai takwil gempa dibebeberapa daerah seperti naskah Bab Menyatakan Gempa dari Balaigurah, Alamat Gempa dari daerah Taeh, Payakumbuh. Selanjutnya, Takwil Gempa dari Koto Tuo, dan Ta’bir Gempa dari daerah Padang Panjang.

Selanjutnya, juga ditemukan berapa catatan dari Belanda terkait peristiwa besar yang pernah terjadi di Minangkabau.

"Seperti catatan tentang kerugian Belanda pasca banjir besar yang terjadi di Lembah Anai. Bahkan setelah pengerjaan jembatan di Lemah Andai Belanda mendatangkan bantuan dana dari daerah lain untuk pembangunan jembatan," ujarnya.

Kemudian juga ditemukan catatan dari  Syekh Abdullatif Syakur tentang gempa bumi di Padang Panjang tahun 1926 Masehi. Dalam catatan tersebut, Syekh Abdullatif Syakur menceritakan keadaan gempa dan pasca gempa secara detail.

"Dalam catatan tersebut, diceritakan  bagaimana kolonial Belanda diutus ke daerah pelosok Padang Panjang untuk mendata berapa kerugian dan jumlah korban gempa," sebutnya.

"Soal mitigasi bencana, Belanda sudah lebih dulu melaksanakannya bahkan mereka mencatat semuanya secara detail," lanjutnya.

Menurut Pramono, sebetulnya secara antropologi, informasi dari namuskrip yang telah berusia ratusan tahun tersebut bisa dijadikan rujukan dalam penyusunan skenario mitigasi bencana.

"Naskah ini bisa jadi rujukan. sebab, peristiwa alam mempunyai periode dan  waktunya saja yang tidak kita ketahui," ujarnya.

(dil/utr)

Berita Terkait

Baca Juga