Soal Pemindahan Ibukota, Peneliti: Mau Dipindahkan Kemana? Semua Wilayah di Sumbar Rawan Gempa

Soal Pemindahan Ibukota Peneliti Mau Dipindahkan Kemana Semua Wilayah di Sumbar Rawan Gempa Tatanan tektonik wilayah Pulau Sumatera-Samudera Hindia (Foto: Sumbarprov)

Covesia.com - Keberadaan Kota Padang yang berada di kawasan rawan bencana gempa dan tsunami memunculkan wacana untuk memindahkan Ibukota Sumatera Barat.

Wacana ini sendiri mencuat pascagempa 7,4 SR yang mengguncang Kota Palu dan mendapat persetujuan dari Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno namun tak penampik fakta bahwa Sumbar tak memiliki biaya untuk merealisasi wacana itu.

Sementara itu, Peneliti Sejarah Kegempaan Sumatera Barat, Yose Hendra menilai pemindahan ibukota bukan persoalan gampang, pasalnya butuh banyak aspek yang harus dipertimbangkan untuk merealisasikannya.

Aspek pertama menurut Yose tentu masalah anggaran, kemudian pemilihan lahan dan terakhir kemana ibukota ini akan di pindahkan.

"Untuk masalah dana sendiri, seperti yang sudah dibilang bapak Gubernur, Sumbar tidak memiliki dana untuk itu. Kemudian lahan, ini juga tak kalah rumit karena sangat sulit mencari lahan yang luas untuk membangun pusat pemerintahan yang baru," terang Yose kepada Covesia.com, melalui telepon, Senin (15/10/2018).

Aspek yang paling penting, lanjutnya untuk dipertimbangkan adalah dimana ibukota itu akan di pindahkan mengingat latar belakang Sumatera Barat yang memang berada di kawasan rawan gempa dan dilalui sejumlah sesar.

"Kita misalkan dipindahkan ke daerah daratan atau yang kerap disebut daerah 'darek', Sumbar daratan tak luput dari patahan, seperti Padang Panjang dan Bukittinggi? disana ada Sesar Sianok, kawasan Pasaman dan Bonjol? juga ada sesar," lanjutnya.

Jadi, lanjut Yose, nyaris semua wilayah di Sumbar berada disekitar sesar sehingga pemindahan ibukota tak akan memberikan hasil apapun.

Lebih lanjut ia mengatakan sebaiknya pemerintah lebih meningkankan 'warning' terhadap bencana di masyarakat seperti pembangunan rumah tahan gempa, aturan bangunan di kawasan zona merah dan upaya mitigasi dan penyelamatan diri masyarakat ketika sewaktu-waktu terjadi gempa dan tsunami.

(utr) 

Berita Terkait

Baca Juga