Piala Meta, Kisah Sukses Wirausaha Bermodal 0 Rupiah

Piala Meta Kisah Sukses Wirausaha Bermodal 0 Rupiah Williya Meta (dua kanan) merakit piala di toko miliknya di Jalan Adinegoro No. 21A, Bungo Pasang, Koto Tangah, Kota Padang. (Foto: Covesia/ Rudriks)

Covesia.com - Piala adalah simbol kemenangan, kebanggaan, dan kemegahan. Penyerahan piala menjadi momen penting di puncak suatu rangkaian kompetisi. Kepemilikannya, mewakilkan eksistensi diri, kelompok atau tim, bahkan menyemat di dalamnya semangat juang suatu bangsa. 

FIFA World Cup 2018 sudah usai di pertengahan tahun. Masih hangat di ingatan, ketika Prancis kembali berada di kasta tertinggi sepak bola dunia, setelah melalui rangkaian babak demi babak hingga tiba di puncak juara. Pada Sabtu (11/8/2018), atlet sepakbola Indonesia yang tergabung dalam Tim Nasional U-16 mengangkat trofi di ajang AFF U-16 2018, menjadi penawar kerinduan masyarakat Indonesia akan prestasi sepakbola.  

Di skala akar rumput, juga sudah diperebutkan piala demi piala di berbagai rangkaian acara HUT Kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia. Meski tidak terlalu prestisius, membawa pulang piala dari rangkaian acara HUT RI, tentu memiliki nilai tersendiri bagi seseorang. 

Namun, sebelum piala-piala itu menjadi milik para pemenang, sudah terjadi rangkaian demi rangkaian oleh orang-orang yang membuatnya menjadi barang berharga. Bukan perihal ekonomi pastinya, tetapi makna dalam piala tersebut, yang akan dikenang di kemudian hari.

Kegiatan inilah yang dilakoni sejumlah karyawan di pusat penjualan piala Meta Trophy di Jalan Adinegoro No. 21A, Bungo Pasang, Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat. Mereka sibuk merakit bagian-bagian piala, sementara karyawan lainnya melayani pelanggan yang membeli piala. 

Di sudut ruko, juga sudah tersusun sejumlah paket yang siap di kirim ke beberapa provinsi, seperti Jakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, bahkan ke Nusa Tenggara Barat, yang tengah pulih dari duka akibat bencana gempa. 

Kesibukan sejumlah karyawan ini sudah menjadi bagian dari rutinitas toko piala yang didirikan sejak 2013 oleh Williya Meta, perempuan yang hampir genap berusia 26 tahun.  

Mungkin, tidak banyak anak muda yang berkecimpung di bidang usaha piala, plakat dan sejenisnya, di saat “Industri Empat Titik Nol (4.0)” berbasis teknologi dan internet sedang gencar-gencarnya.

Namun, berbeda bagi Meta. Kejelian menangkap peluang di bidang industri kreatif ini, justru membuatnya mampu membangun bisnis yang bermodal nol rupiah. Kini, dari usaha itu, ia telah mendulang pendapatan hingga ratusan juta rupiah setiap bulan. 

Tidak ada yang kebetulan. Apa yang dicapainya bermula dari tekad untuk tetap bisa berkuliah dengan jerih payah sendiri. 

“Tahun 2012 saat semester tiga, ibu ‘berpulang’ karena sakit, tabungan sudah terkuras, dan tidak ada biaya untuk bayar uang kuliah,” ungkapnya, kepada Covesia, ketika ditemui di toko miliknya, beberapa pekan lalu.

Untuk memenuhi kebutuhan kuliah di UIN Imam Bonjol Padang, dia bekerja paruh waktu menjadi operator warnet, serta menjadi pelayan toko hijab ketika libur semester.

Usaha piala yang ditekuninya, justru berawal dari lampion benang yang ketika itu cukup diminati masyarakat. Dia berjualan lampion benang itu di lokasi wisata Pantai Padang pada malam hari. 

Belum banyak keuntungan kala itu. Namun, semangat berwirausaha mengantarkan dirinya pada episode awal kisah sukses di usaha ini.

Kala Lampion Menjadi Piala

“Di tahun 2012 itu, saya pernah berkunjung ke salah satu pusat perbelanjaan di Pasar Raya Padang dan mendapati sekelompok murid TK menangis,” ungkap lulusan S2 Manajemen Universitas Andalas.

Meta lalu bertanya ke petugas keamanan perihal kejadian itu. Petugas mengatakan, “yang menangis itu merupakan murid-murid yang tidak menang dalam lomba mewarnai yang digelar di lokasi tersebut.” Sementara, beberapa di antara mereka mendapat piala karena berhasil memenangi lomba. Dari peristiwa itu, berkelebat ide di kepalanya, “bagaimana agar setiap anak tetap mendapat piala meski tidak memang lomba.” 

Ide awalnya adalah mengubah lampion benang menjadi piala dalam bentuk boneka dengan harga relatif terjangkau, hanya Rp15 ribu. 


“Saya mencari tahu lebih dulu berapa harga satu piala yang dijual di pasaran. Dari acuan harga itu, saya membuat produk piala boneka dengan harga lebih murah,” katanya.

Persoalan utama ketika itu adalah di saat Meta sama sekali tidak memiliki modal guna membuat produk percontohan. Dengan memberanikan diri, dia tawarkan produk yang akan dibuatnya kepada Kepala TK yang berada di dekat kawasan kampus UIN Iman Bonjol Padang.  

Dengan “bujuk rayu,” Meta akhirnya mampu merebut hati sang Kepala TK, untuk menggunakan produk piala boneka di acara yang akan digelar dua pekan lagi. 

“Modal awalnya hanya ‘DP’ Rp200 ribu dari si ibu,” ujar Meta.

Ukuran lampion benang yang semula cukup besar, dikurangi dan diberi “riasan” emotikon warna-warni bernuansa ceria. Untuk tatakan piala, ia menggunakan potongan kayu balok, lalu memberi warna menggunakan cat semprot.

Kala itu, ia lakukan pekerjaan seorang diri. Termasuk harus berjibaku menggergaji kayu balok untuk disesuaikan dengan ukuran ideal.

“Alhamdulilah, saya bisa menyelesaikan 30 piala boneka,” katanya.

Sembari itu, ia mempromosikan produk karyanya di media sosial dan situs jual beli online. Bak “durian runtuh,” setelah dua hari diunggah, kerja kerasnya “dihadiahi Tuhan” dengan pesanan sebanyak 800 piala boneka. 

“Pesanan itu berasal dari Tangerang,” sebutnya.

Dari sinilah “episode kedua” perjalanan usahanya bertumbuh. Sejak saat itu, Meta berbagi rezeki ke teman-temannya di kampus, untuk bersama mengerjakan pesanan yang sangat banyak baginya, kala itu. 

“Gayung bersambut,” tawaran Meta diterima teman-temannya dengan senang hati. Satu bola benang yang diselesaikan diganjar dengan upah Rp800. 

“Sambil ‘ngerumpi’ pekerjaan sebanyak itu akhirnya selesai juga,” imbuhnya.

Sejak mengunggah produk di beberapa situs belanja online nasional, pesanan piala boneka semakin banyak berdatangan. 

“Setelah itu masuk pesanan dari Bandung dan semakin banyak dari penjuru Nusantara,” sebut Meta.

Semakin banyak pesanan, karakter piala boneka juga semakin beragam. Selanjutnya, banyak para pemesan meminta karakter-karakter tokoh kartun anak-anak. 

“Setiap ada yang pesan, selalu saya terima. Saya terus kembangkan kemampuan untuk membuat berbagai karakter yang disukai anak-anak,” tambahnya.

Semakin lama, usahanya di bidang ini berkembang dengan permintaan konsumen yang semakin baragam pula. 

“Episode ketiga” pun berlanjut. Suatu waktu ia mendapat permintaan untuk membuat plakat. Walau belum pernah membuat plakat, Meta tetap menyanggupi permintaan itu. 

Terus semangat untuk berlajar, membuat Meta mendapatkan cara baru hingga bisa memproduksi sejumlah produk, termasuk plakat, secara mandiri.

Hingga saat ini, Meta sudah bisa menyediakan permintaan hingga 12 jenis produk, mulai dari piala boneka benang, piala boneka resin, piala boneka akrilik, wedding trophy,  piala maskot, plakat kayu, plakat akrilik, mug foto, jam foto, baju foto, tumbler foto, dan gantungan kunci.

Berawal dari Rumah Hingga ke Ruko

Sejak pesanan semakin banyak, Meta mulai mempekerjakan tiga karyawan tetap. Semua proses produksi dan penjualan pada awal 2013 masih dilakukan di rumah. 

Wanita yang aktif mengikuti berbagai pelatihan dan promosi produk di kegiatan pemerintah daerah ini, semakin menemukan peluang pasar. Usahanya semakin berkembang. Satu tahun kemudian, luas lokasi produksi semakin bertambah. 

“Yang semula dikerjakan di ruang tamu, kini sudah pindah ke ruang kosong di samping rumah,” ujarnya.

Dari piala boneka, dua tahun berikutnya, permintaan piala semakin beragam. Wilayah pemasaran juga tidak semata diandalkan di Kota Padang. 

Di tahun 2015, Meta berhasil memanfaatkan musim pertandingan burung berkicau, baik dari dalam maupun luar Provinsi Sumatera Barat. Di tahun ini, dia meraup untung relatif besar. 

Keuntungan di tahun ini menjadi modal tambahan bagi Meta guna menyewa satu rumah toko (ruko) di tahun berikutnya. Tepatnya pada 2016, Meta sudah menyewa satu ruko di jalan Adinegoro Padang, yang sampai saat ini menjadi kantor pusat pemasaran dan produksi. Seiring permintaan produk semakin bertambah, dia lalu membuat satu cabang usaha di kota Pariaman. 

Pada awal 2018, Meta Trophy bahkan berhasil mengembangkan usaha ke Provinsi Riau. Dia membeli satu ruko sebagai tempat produksi dan pemasaran produk untuk wilayah itu. Pemasaran dan produksi di Riau akan “ditukangi” langsung olehnya.

“Pengelolaan di kantor Padang sudah bisa dipercayakan dengan adanya sembilan karyawan tetap di sini, sementara yang di Pariaman dikelola oleh saudara,” sebutnya.

Pengembangan ke Provinsi Riau bukan tanpa perhitungan. Dia memilih provinsi itu mengingat dalam periode lima tahun, persentase permintaan cukup dominan berasal dari Riau yang mencapai 40 persen dari penjualan berbagai produk.

Manajemen, Pemasaran dan Inovasi Produk

Memanajemen karyawan tetap saja bukan perkara sebelah mata. Perempuan kelahiran 27 November 1992 ini fokus terhadap pemberdayaan perempuan. Inilah salah satu alasan seluruh karyawan yang direkrutnya adalah perempuan. 

Sementara saat ini, dia mengaku belum ada sistem khusus yang diterapkan dalam memanajemen pekerjaan setiap karyawan. Sederhananya, kata dia, yang diterapkan adalah “sistem kekeluargaan.” 

Setiap karyawan ditekankan menjalankan tugas pokok dan fungsi masing-masing dan punya kesadaran bahwa toko tersebut adalah rumah kedua bagi mereka. 

“Secara psikologis, bagi saya lebih mudah memahami karyawan yang seluruhnya perempuan. Selain itu, saling pengertian sesama karyawan juga ditekankan,” jelasnya.

Sadar akan nilai karya yang sudah dibuatnya, Meta telah mematenkan nama toko Meta Thropy, merek dan produk Piala Boneka ke Dirjen Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kementerian Hukum dan HAM pada 27 Desember 2016 dengan nomor pendaftaran IDM000603987.

Saat ini, dari sisi pemasaran, permintaan piala boneka cenderung relatif kecil dibandingkan produk piala lainnya. Permintaan produk piala didominasi oleh piala berbahan plastik, lalu fiber, disusul akrilik dan resin. 

“Sebanyak 80 persen permintaan berasal dari luar Sumbar atau secara online. Sementara, 20 persen dari Kota Padang dan beberapa daerah lain di Sumbar,” sebut perempuan berhijab. 

Dia menyebutkan, wilayah pemasaran dibagi menjadi dua. Contohnya, untuk wilayah Sumbar lebih banyak mengandalkan pembelanjaan toko. Sementara, untuk daerah di luar Sumbar didominasi pembelajaan online.

Dia mengaku, ada waktu-waktu tertentu saat pesanan piala meningkat. Siklus tahunan itu, dirasakan masih sama sampai saat ini.

“Pesanan terbanyak itu saat musim acara massal, jelang dan saat bulan Agustus, lalu pada bulan Ramadan dan pergantian tahun ajaran baru,” ungkapnya.

Untuk meningkatkan jumlah pemasaran dia menjaring kerja sama dengan sejumlah perusahaan Event Organizer (EO), di Sumbar maupun luar Sumbar. Keuntungan dari kerja sama ini dinilai cukup besar, karena produk yang terjual lebih bervariasi dalam satu paket.

Pun demikian, penjualan melalui kerja sama EO tidak selalu ada sepanjang tahun. Khususnya, saat penjualan toko meningkat, maka penjualan dari kerja sama EO cenderung turun, jelasnya.

“EO tidak berkegiatan ketika musim acara massal terjadi di sejumlah daerah, maka pesanan dari EO juga relatif turun,” katanya dan menambahkan, “siklus setiap tahunnya selalu begitu.” 

Dia menyebutkan, sejak berbagai situs jual beli online nasional muncul, penjualan tidak lagi bertumpu di toko saja. Selain itu, daerah bukan lagi menjadi batasan. 

Meta menguraikan, dalam lima tahun berkecimpung di bisnis ini, ia sudah mendulang pendapatan tertinggi mulai dari Rp80 juta sampai Rp150 juta per bulan.

Pada tahun 2013, dia bisa membukukan penghasilan sebesar Rp20 juta setiap bulan, dan meningkat sekitar 100 persen di tahun berikutnya. Pada 2015 omzet tahunan yang dibukukan mencapai angka Rp900 juta. Bahkan, di tahun 2016, omzet yang dihasilkan dari penjualan toko dan situs online sudah lebih dari Rp1,2 miliar.

Tahun sebelumnya, pada 2015, Meta Trophy bahkan mampu membukukan omzet mencapai Rp900 juta. Peningkatan omzet terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya, hingga mencapai Rp1,3 miliar di tahun 2017. 

Hingga di awal 2018, usahanya berkembang ke provinsi tetangga dengan target penjualan yang diperkirakan dapat menyamai pencapaian di wilayah Sumbar. Keberhasilannya membangun usaha ini, tidak terlepas dari upaya untuk terus berinovasi. Dia terus menciptakan ide-ide baru. 

“Yang penting tidak boleh berhenti belajar,” ujarnya.

Setelah memahami permintaan pasar yang cenderung berubah, dia mulai memproduksi piala dengan tema berbeda. Dari  ide itu maka muncullah wedding trophy yang menjadi tren hingga saat ini. Seiring perkembangan tren, pasar wedding trophy juga relatif umum dilakukan banyak produsen lain.

Menyiasati itu,dia kembali menciptakan produk yang menjadi ciri khas tersendiri. Maka lahirnya produk baru yang diberi nama “Piala Batik Indonesia” yang terinspirasi dari motif ukiran khas dari Ranah Minang. 

“Ada 13 jenis seni ukir Minangkabau yang diaplikasikan ke dalam produk ini,” sebutnya. 

Nama-nama seni ukir Minang tersebut yakni Carano Kanso, Aka Cino, Aia Bapesong, Jarek Takambang, Lapiah Ampek Jo Bungo Kunyik, Sajamba Makan, Kaluak Paku Kacang Balimbiang, Lumuik Anyuik, Anyaman, Siku Badaun, Itiak Pulang Patang, Pucuak Rabuang dan Siriah Gadang.

Dalam setiap piala batik akan disematkan keterangan tentang nama motif yang digunakan dan filosofi yang terdapat dalam motif tersebut.


“Saya ingin mengangkat tema kearifan lokal Minangkabau dalam produk ini. Sehingga nilai budaya Ranah Minang semakin menyebar dalam bentuk lain ke berbagai penjuru nusantara hingga mancanegara,” ulasnya.

Sementara, harga per Piala Batik Indonesia sekitar Rp100 ribuan, bergantung kerumitan motif seni ukir yang diaplikasikan.

“Saya targetkan penjualan dari produk ini bisa mencapai 50 unit per bulan,” imbuhnya.

Perjalanan usaha mulai dari piala boneka hingga piala batik Indonesia, mampu mengantarkan dosen Kewirausahaan di UIN Imam Bonjol Padang ini, mencapai prestasi cukup gemilang.

Melalui produk inovatif Piala Batik Indonesia, pada 15 Agustus 2018, Meta terpilih sebagai Pemuda Pelopor Bidang Inovasi dan Teknologi, mewakili Sumatera Barat ke tingkat nasional dalam ajang pemilihan Pemuda Pelopor Nasional Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

“Semoga saya bisa membawa nama baik Sumatera Barat dan menginspirasi masyarakat, terutama generasi muda untuk giat bekerja, berwirausaha dan bermanfaat untuk orang banyak,” harapnya. 

(rdk) 

Berita Terkait

Baca Juga