ACT Bangun 5.000 Hunian Sementara di Palu

ACT Bangun 5000 Hunian Sementara di Palu Ilustrasi

Covesia.com - Yayasan kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) siap membangun 5.000 hunian sementara bagi korban yang kehilangan tempat tinggal akibat bancana gempa, tsunami dan pencairan tanah (likuifaksi) di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi.

"Saat ini yang kita prioritaskan akan membangun 1.000 sampai 5.000 hunian sementara. Kita mulai dari minggu ini," kata Senior Vice President  ACT Syuhelmaidi  Syukur di Palu, Jumat sore.

Syuhelmaidi mengatakan saat ini ACT tengah merancang model hunian sementara untuk korban di tiga wilayah tersebut . Puluhan ahli konstruksi  profesional dilibatkan untuk membangun hunian sementara itu. Setidaknya ACT menemukan delapan titik wilayah yang layak didirikan hunian sementara bagi korban di Palu, Donggala dan Sigi.

"Setelah kita melakukan assessment (penilaian) kita menemukan delapan titik. Di antaranya terletak di Kelurahan Duyu Kota Palu dan di Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala,"ujarnya.

Meski demikian ACT akan berkomunikasi dan berkoordinasi terlebih dulu dengan pemerintah pusat dan daerah agar pembangunan hunian sementara nantinya tidak menuai polemik di kemudian hari.

"Nantinya di hunian sementara yang kita bangun kita bagi tiap kompleks. Tiap kompleks misalnya memiliki luas 1.5 hektare. Di atasnya dapat dibangun sekitar 300 hunian sementara ," katanya.

Seperti halnya perumahan nasional (perumnas) , hunian sementara yang dibangun nantinya akan dilengkapi dengan berbagai sarana dan fasilitas meliput tempat ibadah , tempat berkumpul masyarakat dan tempat bermain anak.

Sementara itu sebanyak 100 unit hunian sementara (huntara) mulai dibangun untuk korban gempa dan likuifaksi di Kelurahan Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, oleh relawan asal Provinsi Jawa Tengah. 

"Pembangunan ini merupakan tahap awal dan diprioritaskan untuk keluarga yang sakit dan memiliki balita, ibu hamil, lansia dan janda," kata Budi Laksono, koordinator tim pembangunan hunian itu saat ditemui di lokasi pengungsian, Jumat. 

Bangunan 4x5 meter itu berada di lokasi kelurahan Petobo bagian timur yang tidak terkena dampak likuifaksi dan rencananya bisa dimanfaatkan sampai satu hingga dua tahun ke depan sambil menunggu bantuan hunian permanen dari pemerintah. 

Dia menjelaskan bahwa bangunan itu akan didirikan semi permanen berbahan baku baja ringan dan dikerjakan 29 relawan asal Jawa Tengah.

Pembangunan hunian sementara, katanya, bukan hanya terpusat di Petobo melainkan kedepan juga dibangun di wilayah terdampak lainnya seperti Kelurahan Balaroa, Kota Palu, Jono Oge, Kabupaten Sigi dan Donggala.

(ant/lif)

Berita Terkait

Baca Juga