TKN Jokowi-Maruf: Pertemuan IMF-Bank Dunia Untungkan Indonesia

TKN JokowiMaruf Pertemuan IMFBank Dunia Untungkan Indonesia Christine Lagarde, Direktur Pelaksana IMF berbicara di forum bertema Digitalization and the New Gilded Age di pertemuan musim semi IMF World Bank 2018 pada 18 April di Washington, DC. Foto: Brendan Smialowski / AFP

Covesia.com - Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma`ruf menyambut baik dimulainya acara Pertemuan Tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (World Bank-International Monetary Fund Annual Meeting) di Nusa Dua, Bali pada 8-12 Oktober 2018, bahkan pertemuan itu menguntungkan Indonesia.   

"Menjadi tuan rumah acara ini bukan hanya mendudukkan Indonesia di posisi penting dunia dalam kancah pendanaan pembangunan, tetapi juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit," kata anggota TKN Jokowi-Ma`ruf, Agus Sari dikutip dari Antara, Senin (8/10/2018).   

TKN Jokowi-Ma`ruf juga menyambut baik diadakannya acara paralel "Tri Hita Karana" dengan tema "Blended Finance and Innovation" pada 10 Oktober-11 Oktober 2018.  

Aktivis Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang akan berada di Bali untuk pertemuan WB-IMF tersebut menyebutkan sebagai tuan rumah, yang telah diperjuangkan sejak masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia akan berkesempatan untuk memasukkan ide dan konsepnya untuk mendorong investasi swasta dalam perubahan iklim, penanganan bencana alam, dan pengembangan keuangan syariah.   

Dari anggaran pemerintah sebesar 57 juta dollar Amerika (sekitar Rp855 miliar) memang tampak besar, tetapi hanya sekitar setengah dari potensi belanja keluarga para peserta yang diperkirakan akan mencapai 100 juta dollar AS (Rp 1,4 triliun) sepanjang acara tersebut.    

"Belum lagi diperhitungkan dampak berantai kepada ekonomi lokal pada usaha kecil masyarakat. Jadi, pertemuan tersebut memberikan keuntungan ekonomi kepada Indonesia," kata Agus.   

Menurut dia, Indonesia telah diakui dunia dalam penanganan ekonominya. Di tengah-tengah situasi ekonomi dunia yang memburukpun, Indonesia memperlihatkan kemajuan yang baik dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.  

Agus mengatakan, pendanaan pembangunan berkelanjutan harus dilakukan dengan cara yang lebih inovatif daripada sekedar pemberian utang.   

"Ini harus menggabungkan sektor publik dan sektor swasta, dan menggabungkan modalitas pendanaan dari hibah, pinjaman, dan ekuitas, dengan campuran yang tepat," katanya.   

Pencampuran modalitas pendanaan ini akan memberikan kesempatan realokasi resiko dengan lebih tepat, setelah menyeimbangkan profil risiko inisiatifnya dengan profil resiko pendananya.  

Merespons kritik bahwa pengadaan acara ini tidak sensitif terhadap bencana alam yang baru saja terjadi di Lombok dan Sulawesi Tengah, Agus Sari mengatakan, pemerintah terus berupaya membantu dan menangani bencana Lombok dan Sulawesi Tengah.  

"Penanganan bencana dan menjadi tuan rumah pertemuan Bank Dunia-IMF bisa dilakukan berbarengan. Jadi, tidak harus meniadakan yang lain. Indonesia memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan keduanya," kata Agus.   

Bencana yang datang dengan tiba-tiba dan tanpa disangka-sangka harus ditangani dengan baik.    

Presiden Jokowi pun sudah beberapa kali mendatangi lokasi bencana untuk menjamin bahwa penanganan di lapangan berlangsung dengan baik. Dana yang dikucurkan untuk penanganan bencana Lombok dan Sulawesi Tengah pun jauh lebih besar ketimbang dana untuk pertemuan di Bali.    

Ia menambahkan, Indonesia telah mempersiapkan pertemuan ini sejak masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono dan tidak mungkin membatalkannya dengan tiba-tiba.    

"Lagi pula, Indonesia tidak berniat menambah utang dengan menjadi tuan rumah pertemuan ini," tegas Agus.

(ant/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga