Kak Seto Hibur Anak-anak Korban Gempa dan Tsunami Palu

Kak Seto Hibur Anakanak Korban Gempa dan Tsunami Palu Seto Mulyadi

Covesia.com - Ahli pendidikan anak Seto Mulyadi, atau akrab dan terkenal dengan panggilan Kak Seto, mengunjungi  dan menghibur anak-anak korban gempa-tsunami Palu, Sabtu.       

Jangan sampai luka dan trauma akibat musibah ini berkepanjangan, kata Kak Seto di Pondok Ceria Anak, sebutan untuk tenda yang dijadikan tempat anak-anak pengungsi berkumpul bermain bersama para relawan gabungan dari berbagai instansi dan organisasi peduli anak.

Satu cara untuk menyembuhkan luka dan menghilangkan ketakutan itu adalah dengan menghibur anak-anak, yaitu dengan mengajak mereka bermain yang melibatkan gerakan, seperti bertepuk tangan, menghentakkan kaki, menggoyangkan badan.      

Menari dan menyanyi lagu gembira, kata Amrullah, relawan Layanan Dukungan Psikososial. Sejak bertugas di gempa Lombok lalu, Amirullah bahkan menyusun syair Gempa Tak Ganggu Aku untuk dinyanyikan bersama anak-anak.      

Atau mengajak mereka aktif, libatkan mereka saat kita bercerita, kata relawan dari Yayasan Sayangi Tunas Cilik (STC) Nurkumala Dewi. Dari buku cerita bergambar warna-warni , Dewi membacakan cerita seorang anak perempuan yang ingin ikut tampil di Festival Sekura, festival rakyat di Lampung Barat.  

Sekura artinya topeng. Karena tidak ada topeng yang dijual yang disukainya, Izzah akhirnya memutuskan membuat sendiri sekuranya, cerita Dewi. Izzah adalah nama anak perempuan tokoh cerita itu.     

Anak-anak yang merubung Dewi, dalam rentang usia 4 tahun hingga 12 tahun, tak hanya diam mendengarkan. Mereka bergantian membaca lantang ceritanya, menjawab pertanyaan, dan tertawa bersama-sama.    

Saya juga bisa membuat topeng seperti Izzah, kata Azizah Alfauziah, 9 tahun, mengacungkan tangannya saat Dewi bertanya siapa bisa membuat topeng.     

Kak Seto juga turut menemani anak-anak mewarnai gambar dan mengajak mereka mengobrol. Ia bahkan bermain sulap dan anak-anak menyaksikan dengan gembira.   

Tenda Ceria Anak didirikan di tengah tenda-tenda pengungsi di halaman Kantor Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Tengah. Awalnya tenda ini hanya pos tempat warga melapor kehilangan anggota keluarganya.     

Menurut Amrullah, melihat banyak anak-anak di pengungsian itu maka kegiatan di pos kemudian ditambah dengan Layanan Dukungan Psikososial yang kegiatan utamanya menghibur anak-anak tersebut. Nama pos pengaduan kehilangan pun berganti menjadi pondok ceria anak. (ant/adi)

Berita Terkait

Baca Juga