Delapan Hari Pascagempa-Tsunami, Pengungsi Kekurangan Susu dan Keperluan Bayi

Delapan Hari PascagempaTsunami Pengungsi Kekurangan Susu dan Keperluan Bayi Anak korban gempa dan tsunami Palu-Donggala tiba di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (2/10). Antara Foto/ Sahrul Manda Tikupadang

Covesia.com - Masyarakat terdampak gempa Sulawesi Tengah kekurangan susu dan keperluan bayi di pos pengungsian maupun di beberapa daerah yang belum terdapat kegiatan ekonomi.

"Di posko kurang susu, susah lagi susu dan keperluan bayi, utamanya keperluan bayi. Di posko pengungsian kami tidak dapat susu," kata salah satu warga Palu yang mengungsi di Posko Kawatuna Septi di Palu, Sabtu (6/10/2018).

Septi membeli susu dan keperluan bayi lainnya di supermarket Transmart Palu yang baru beroperasi secara terbatas. Dia membeli susu dan minyak bayi untuk anaknya karena tidak mendapatkannya di pos pengungsian.

Warga Kabupaten Sigi Ina yang mengungsi di rumah saudaranya yang lebih aman juga datang jauh-jauh ke Kota Palu hanya untuk membeli popok dan susu.

Dia mengatakan belum ada toko yang buka dan menjual popok serta susu untuk anak di daerahnya. "Beli pampers, susu, ini yang perlu.  Anak ada yang 7 tahun, 4 tahun, dan untuk keponakan," kata Ina yang rumahnya hampir terendam limpahan lumpur akibat gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter pada Jumat (28/9).

Nurhayati yang mengungsi di rumah saudaranya di daerah Sungai Lariang Palu Barat juga membeli susu untuk bayinya yang baru berusia dua minggu.

"Beli susu, selain itu tisu, dan baterai untuk senter. Toko belum ada yang buka, karena di sana toko-toko sudah dijarah," kata Nurhayati.

Supermarket Transmart Palu mulai beroperasi secara terbatas pada Sabtu. Sebagian besar warga membeli keperluan bayi seperti popok, susu, dan kebutuhan dasar seperti beras, makanan ringan, serta sabun cuci. 

(ant/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga