Bayi Bermata Satu Lahir di Sumatera Utara, ini Kata Dokter

Bayi Bermata Satu Lahir di Sumatera Utara ini Kata Dokter ilustrasi (foto: Pixabay)

Covesia.com - Seorang bayi perempuan lahir dengan bermata satu di RSUD Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, Kamis (13/9/2018) sore. Bayi ini terlahir hanya dengan satu mata dan tanpa hidung.

Karena kondisi kesehatannya yang tidak normal, bayi perempuan ini meninggal dunia setelah tujuh jam berjuang hidup, tepatnya pada pukul 22.45 WIB.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Mandailing Natal Syafruddin Nasution, dokter yang menangani kondisi sang bayi menyebutkan bahwa ada beberapa penyebab mengapa sang bayi bisa mengalami kondisi ini, salah satunya karena konsumsi obat-obatan saat ibu masih hamil atau karena terpapar virus.

"Jika dikaitkan dengan pekerjaan ayah sang bayi sebagai penambang, bisa jadi. Kita masih kesulitan mendapat informasi karena keluarganya masih tertutup," kata Syarifuddin.

Dalam dunia medis, kasus bayi yang terlahir dengan kondisi satu mata ini disebut sebagai cyclopia. Selain hanya memiliki satu mata, bayi juga tidak memiliki hidung karena tidak tumbuh dengan sempurna sehingga hanya memiliki semacam belalai.

Biasanya, kasus bayi dengan kondisi cyclopia mengalami keguguran atau meninggal saat dilahirkan. Jika selamat saat lahir, besar kemungkinan akan meninggal dunia beberapa jam kemudian.

Dilansir dari Health Line, cyclopia dipicu oleh kondisi langka yang membuat bagian depan otak tidak membelah dan membagi otak menjadi bagian kanan dan kiri. Biasanya, proses pembelahan otak ini terjadi pada hari ke-18 sampai ke-28 kehamilan.

Menurut pakar kesehatan, penyebab dari kondisi ini memang masih belum diketahui dengan pasti, namun ada dugaan jika hal ini terkait dengan diabetes gestasional, diabetes yang hanya muncul tatkala kehamilan.

Bayi dengan kondisi cyclopia juga memiliki kelainan kromosom sehingga mempengaruhi pembentukan wajah atau beberapa bagian tubuh. Karena alasan inilah mereka hanya memiliki satu mata dan tidak memiliki hidung.

“Di seluruh dunia sepertinya baru tujuh kali terjadi. Terakhir muncul di Mesir dan kemudian meninggal beberapa jam kemudian,” ungkap Syafruddin.


(sea)

Berita Terkait

Baca Juga