Miris, 56 Siswa SMP di Surabaya Suka Silet Tangannya Sendiri

Miris 56 Siswa SMP di Surabaya Suka Silet Tangannya Sendiri ilustrasi

Covesia.com - Kejadian yang sangat memprihatikan dilakukan oleh 56 siswi SMP Negeri 56 Surabaya karena suka menyayat pergelangan tangannya. Cerita siswa yang suka menyilet pergelangan tangannya tersebut terungkap berkat laporan guru ke kepolisian.

Salah seorang guru dari SMP Negeri itu melapor kepada pihak kepolisian bahwa sebanyak 56 muridnya memiliki sejenis luka sayatan yang sama di pergelangan tangan mereka. 

Setelah diselidiki, ternyata mereka melakukan tindak melukai diri sendiri lantaran mempunyai tekanan batin. Ada yang mengaku karena memiliki masalah di keluarga dan juga masalah psikologis. 

Puluhan siswi yang tak disebutkan namanya itu ditengarai memiliki masalah psikologis sehingga bertindak dengan melukai diri sendiri.

Mendengar hal tersebut, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, langsung mengunjungi salah satu SMP Negeri di Surabaya tersebut. Risma datang memberikan motivasi sekaligus penghargaan bagi siswa berprestasi di sekolah tersebut.

Menurut dia, memotivasi dan menyemangati para siswa di dekat eks lokalisasi sangat penting agar mereka bisa kembali ke jalan yang benar.

SMP Negeri 56 memang berlokasi dekat dengan eks lokalosasi Dolly dan Jarak yang sudah ditutup Pemkot Surabaya beberapa tahun lalu.

"Jadi, ini masalahnya sama untuk sekolah yang dekat lokalisasi. Dia punya masalah di rumah, impactnya ke anak-anak ini dan yang lain, lalu timbul empati," ungkap Risma.

Sampai saat ini masih ada dampak yang dirasakan meski dua lokalisasi tersebut sudah ditutup.

Tri Rismaharini pun mengakui Pemkot Surabaya masih memiliki pekerjaan rumah menyoroti dampak sosial dari penutupan lokalisasi tersebut.

"Terus terang saya pikir setelah kita tutup, saya hanya butuh menangani anak yang membutuhkan penanganan khusus saja. Tapi ternyata kami masih punya PR," ungkap Tri Rismaharini setelah memberi motivasi ke siswa siswi SMP Negeri 56.

Kejadian serupa bukan kali ini saja.

Saat akan menutup lokalisasi Dolly dan Jarak, Risma banyak menemukan anak-anak yang memiliki masalah di rumah dan beban di sekolah. Sehingga tak jarang anak-anak memiliki perilaku menyimpang, dibandingkan dengan anak-anak yang tinggal di lingkungan keluarga normal.

"Sampai ada 22 siswa itu yang pingsan saat saya bicara dengan mereka," kenang Risma.

Oleh sebab itu, masalah anak-anak semacam ini tidak boleh dianggap sepele, termasuk siswi di SMPN 56. Ia mengaku akan melakukan langkah khusus untuk anak-anak.

"Hampir separo anak-anak di sini ini punya masalah. Maka saya sedang minta perlindungan, kami juga memberikan pendampingan psikolog dan memberi mereka hipnoterapi serta trauma healing," tegas dia.

Rencananya Risma akan mengajak siswa SMPN 56 mengunjungi Liponsos Kalijudan guna menengok anak-anak berkebutuhan khusus. Tujuan kunjungan kali ini untuk mengajak siswa melihat kondisi para penghuni Liponsos Kalijuda, kendati punya masalah, ada banyak hal yang tetap mereka harus syukuri.

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga