Beralih ke Mesin, Cara Masyarakat Lawang Agam Tingkatkan Produksi Gula Merah

Beralih ke Mesin Cara Masyarakat Lawang Agam Tingkatkan Produksi Gula Merah Penggilingan tebu dengan menggunakan mesin (Foto: Istimewa)

Covesia.com - Tunjang produksi saka (Gula Merah) para pengerajin di nagari Lawang kecamatan Matur, kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat (Sumbar) berangsur  tinggalkan pengilangan tebu cara tradisional memanfaatkan jasa kerbau dan beralih menggunakan mesin.

Walinagari Lawang, J Dt Lelo Ameh mengatakan, saat ini hanya 5 rumah produksi yang masih memakai jasa kerbau untuk meremas air tabu, selebihnya sudah menggunakan mesin diesel atau traktor yang sudah di modifikasi. 

“Penggunaan kerbau saat ini hanya untuk daya tarik wisatawan jika berkunjung ke objek wisata, ke nagari Lawang,“ ujarnya saat di konfirmasi Covesia.com, Senin (10/9/2018).

Dilanjutkan Walinagari Lawang, banyak keunggulan yang didapatkan jika proses pengilangan dengan menggunakan mesin,  Produk yang dihasilkan meningkat seratus persen serta mengurangi waktu dan tenaga yang dibutuhkan dalam proses produksi. 

“Jika menggunakan jasa kerbau, satu harinya rumah produksi hanya bisa menghasilkan 35 Kg saka, namun jika menggunakan mesin bisa 70 kg hingga 80 kg saka,“ lanjutnya.

Tidak hanya itu, waktu proses pengilangan juga relatif singkat karena putaran kilang dengan mesin lebih cepat dibandingkan menggunakan kerbau, jika menggunakan kerbau hanya bisa 3 jam pengerjaan dan kerbau harus istirahat, namun jika memakai mesin sanggup 6 jam, tidak hanya itu jika pengilangan tradisional dibutuhkan 4 orang pekerja, sedangkan dengan mesin bisa 3 orang saja.

Sementara itu salah seorang masyarakat jorong Gajah Mati, nagari Lawang yang masih mempertahankan pengilangan dengan cara lama, Asrul (50) membenarkan keunggulan tersebut namun menurutnya saka yang dihasilkan dengan cara tradisional lebih manis dibandingkan menggunakan mesin. 

“Untuk produksi cara tradisional memang sedikit, namun sakanya lebih manis dan disukai masyarakat,“ jelasnya.

Diakuinya sebelumnya ia pernah beralih menggunakan mesin namun tidak ada wisatawan yang berkunjung melihat proses pembuatan saka, kemudian atas usulan dari Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Agam ia kembali menggunakan cara tradisional.

“Dulu saya pernah mencoba menggunakan mesin namun daya tarik dan nilai jual wisatanya kurang dan tidak ada wisatawan yang berminat mampir, namun setelah kembali menggunakan cara tradisional, wisatawan kembali mendekat, untuk melihat proses pembuatan, berfoto dan membeli saka untuk oleh-oleh saat kembali ke negara asal mereka,“ terang Asrul.

(han)

Berita Terkait

Baca Juga