Riwayat 'Meri', Orangutan yang Mati Setelah 22 Tahun Huni TMSBK Bukittinggi

Riwayat Meri Orangutan yang Mati Setelah 22 Tahun Huni TMSBK Bukittinggi Ilustrasi

Covesia.com - Meri, seekor satwa Orangutan di Taman Marga Satwa Budaya dan Kinantan (TMSBK) Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar) yang mati pada Jumat (10/8/2018) sore pukul 16.37 WIB di kandangnya karena mengidap penyakit komplikasi sudah menghuni TMSBK selama 22 tahun. 

"Salah satu koleksi satwa TMSBK Bukittinggi itu mati pada hari Jumat sore. Meri, satwa Orangutan berjenis kelamin betina itu mati pada usia 32 tahun karena kondisi fisiknya yang semakin melemah," ungkap Ikbal, Kabid TMSBK Bukittinggi saat diwawancarai, Sabtu (11/8/2018).

Dijelaskan Ikbal dalam satu tahun belakangan kondisi Meri terlihat memang menunjukkan kesehatan yang kurang hal tersebut terluhat dengan pola makan yang cenderung menurun karena ketika setiap diberi makanan buahan, Meri hanya mengambil sarinya dan membuang ampasnya.  

"Kita selalu kasih support dan memberikan vitamin serta obat-obatan. Namun tiga hari yang lewat kondisinya memburuk dan kemaren kritis jadi tim medis dan BKSDA melakukan infus dan penambahan oksigen dan setelah berusaha nyawa Meri tidak tertolong lagi, "jelasnya. 

Orangutan yang diberi nama Meri berusia 32 tahun telah menjadi penghuni TMSBK Bukittinggi selama 22 tahun dari tahun 1996 hingga ia mati dikandangnya. 

"Meri pertama kali kita bawa dari Jogya tahun 1996 dan merupakan spesies asal Sumatera, "ucapnya. 

Ia menerangkan bahwa Orangutan Meri dilakukan otopsi dan diambil beberapa sampel seperti hati, paru dan pencernaan untuk dilakukan pemeriksaan.

"Namun diduga kuat Orangutan itu mati karena komplikasi yang diidapnya selama satu tahun ini. Dan kini bangkai Meri telah dikubur di kawasan TMSBK, "katanya. 

Saat ini hanya tersisa satu ekor satwa Orangutan berjenis kelamin jantan yang diberi nama Pampam yang telah berusia 48 tahun dan hanya pampam yang menjadi satwa orangutan satu-satunya di TMSBK Bukittinggi.

(deb)  


Berita Terkait

Baca Juga