SAMIN: Anak Terjun ke Dunia Prostitusi Didominasi Pengaruh Gaya Hidup

SAMIN Anak Terjun ke Dunia Prostitusi Didominasi Pengaruh Gaya Hidup Ketua Yayasan Sekertariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) Odi Shalahuddin. (Dok. Jhonrico/Covesia.com)

Covesia.com- Ketua Yayasan Sekertariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) Odi Shalahuddin mengatakan bahwa faktor utama anak terjun ke dunia prostitusi lebih dipengaruhi oleh gaya hidup.

"Faktor resiko yang mempengaruhi anak rentan menjadi korban prostitusi, bukan sekedar karena faktor kemiskinan, melainkan tampaknya didominasi oleh pengaruh gaya hidup. Ini tentu lebih menyulitkan untuk melakukan upaya penarikan anak-anak dari prostitusi," kata Odi kepada Covesia.com, Rabu (8/8/2018).

Menurut Odi, gaya hidup berupa penampilan dan berinteraksi dengan orang lain yang saat ini cenderung di mall atau cafe-cafe mempengaruhi anak rentan menjadi korban prostitusi.

Selain itu, tambah Odi, salah satu faktor resiko anak dapat terjerumus ke dunia prostitusi karena lingkungan atau diajak oleh temannya yang terlebih dahulu terjun ke dunia tersebut.

Ia menyebut, pengungkapan kasus prostitusi online yang melibatkan anak di Kalibata City Jakarta hanyalah sebagian kecil dari praktek prostitusi online yang ada di Indonesia."Penggunaan gadget yang sudah bukan barang mewah, dan dimiliki oleh hampir semua orang, termasuk anak-anak, memang berpengaruh pula pada modus atau cara kegiatan di dunia prostitusi," tutur Odi.

Pada masa lalu, kata Odi, kita kenal adanya spot-spot yang menjadi tempat mangkal prostitusi. Sekarang, tanpa mangkal, mereka dapat berhubungan dan bertransaksi melalui media online. "Hingga saat ini belum ada penelitian yang membuat perkiraan orang atau anak yang berada dalam prostitusi online," jelas dia.

Ia menganggap bahwa ada persoalan yang penting terkait prostitusi anak di Indonesia. Di mana beberapa tahun terakhir tampaknya tidak ada upaya yang serius dari pemerintah untuk melakukan penanganan terhadap anak-anak yang dilacurkan.

"Jaminan anak terlindungi dari prostitusi juga tidak terumuskan secara tegas dalam Undang-undang. Biasanya dimasukkan ke dalam persoalan eksploitasi seksual," jelas Odi.

Saat ini, kata dia, pemerintah sudah selayaknya mempromosikan upaya perlindungan anak, khususnya upaya pencegahan agar anak-anak tidak menjadi korban dalam situasi yang membutuhkan perlindungan khusus. Termasuk dalam hal ini ke dunia prostitusi.

Ini bisa dilakukan dengan pengembangan kelompok- kelompok anak dengan memfasilitasi pengembangan kapasitas, minat dan bakat anak- anak.

 “Dengan kata lain interaksi sosial antar anak yang harus terus dibangun, dengan pemberian ruang kegiatan positif,” tuturnya.

(jon)

Baca juga: Polisi Bongkar Kasus Prostitusi Anak di Kalibata City

Baca juga: Tingginya Pengguna Internet Pengaruhi Kasus Eksploitasi Seksual Online Anak

Berita Terkait

Baca Juga