Triwulan II 2018, Jumlah Produksi Industri Mikro Kecil di Sumbar Menurun

Triwulan II 2018 Jumlah Produksi Industri Mikro Kecil di Sumbar Menurun Ilustrasi usaha Mikro masyarakat di Padang

Covesia.com - Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil (IMK) triwulan II 2018 di Sumbar mengalami pertumbuhan negatif sebesar -0,07 persen. Sementara itu untuk skala nasional menunjukkan tren positif sebesar 4,93 persen.

Beberapa jenis IMK yang mengalami penurunan pertumbuhan produksi adalah, industri farmasi turun sebesar -49.69 persen, kemudian pakaian jadi turun sebesar -48,33 persen, industri karet dan pengolahannya turun sebesar -32,98 persen dan yang terakir industri kulit turun sebesar -24,39 persen.

Terkait penurunan jumlah produksi pakaian jadi selama triwulan II, Kepala BPS Sumbar, Sukardi menyebutkan bahwa, penurunan pertumbuhan produksi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya cara masyarakat dalam memperoleh  pakaian.

"Masyarakat dalam mendapatkan pakaian saat ini lebih cenderung secara online, untuk pakaian sehari-hari masyarakat bisa memperolehnya melalui internet dan biayanya relatif lebih murah dibandingkan harga pakaian dari tukang jahit dan pola belanja masyarakat saat ini juga mempengaruhi pendapatan tukang jahit," ujar Sukardi Senin, (6/8/2018)

Kata Sukardi, jadi pergeseran cara membeli masyarakat tersebut yang menjadikan pertumbuhan produksi pakaian jadi menjadi menurun, oleh sebab itu tidak bisa dikatakan daya beli masyarakat turun.

"Contohnya pedagang di Pasar Raya saat ini omsetnya menurun, tetapi bukan daya beli masyarakat juga turun mereka bisa membeli pakaian selain di Pasar Raya," ujarnya

Selain itu kata Sukardi, untuk pakaian sekolah memang jumlah produksinya menurun lantaran bukan waktu permintaan pakaian, sebelumnya bulan Ramadhan dan tentunya produsen menurunkan jumlah produksinya.

Sementara itu, pantauan covesia.com disejumlah tempat di Kota Padang, beberapa tukang jahit mengungkapkan bahwa sebelum dan sesudah bulan Ramadhan omset mereka menurun jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Zai, salah seorang tukang jahit mengungkapkan bahwa saat ini pendapatannya menurun, bisasanya menjelang puasa dan hari-hari pernikahan banyak pengunjung yang meminta dibuatkan pakaian untuk pesta dan keperluan lainnya, namun saat ini sudah mulai berkurang.

"Saya kusus untuk pakaian perempuan, biasanya saat hari hari pernikahan (setelah Ramadhan) banyak pengunjung yang meminta dibuatkan pakaian seragam, namun sekarang sudah menurun," ujar Zai kepada covesia.com

Lebih lanjut, Zai menceritakan bahwa  menjelang Ramadhan ia lebih banyak menerima pakaian telah jadi dari pelanggan untuk dirombak kembali, ketika ditanya kenapa diperbaiki mereka menjawab pakaiannya terlalu besar.

"Rata-rata mereka memperoleh secara online setelah itu diserahkan ke tukang jahit untuk dirombak kembali, hal ini terjadi kepada tukang jahit yang lainnya," ujarnya.

(dil/don)


Berita Terkait

Baca Juga