Takut Gempa Susulan, Warga Lombok Enggan Kembali ke Rumah

Takut Gempa Susulan Warga Lombok Enggan Kembali ke Rumah Foto: Istimewa

Covesia.com - Warga korban gempa bumi 6,4 skala Richter di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, masih enggan untuk kembali ke rumah karena khawatir terjadi gempa susulan di wilayah itu.

"Masih takut kalau kita kembali, kondisi rumah juga sudah hancur. Kalau pun ke rumah paling lihat-lihat saja, mengambil barang-barang yang masih tersisa," ujar Inak Mustakran saat ditemui di lokasi pengungsian di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok, Jumat.

Untuk tempat tinggal dan berteduh dari teriknya matahari dan dinginnya malam, Inak Mustakran dan keluarga bersama tetangganya mendirikan tenda-tenda darurat yang terbuat dari terpal dan bambu sebagai tiang penyangganya, tidak jauh dari rumahnya.

Sedangkan, untuk memenuhi kebutuhan makan, minum sehari-hari, Inak Mustakran dan keluarga hanya bergantung kepada bantuan yang disalurkan melalui pihak desa setempat dan sejumlah donatur yang memberikan secara langsung.

Hanya saja, yang masih kurang saat ini di lokasi pengungsian, menurut Inak Mustakran, adalah perlengkapan bayi seperti popok (pempers) dan obat-obatan.

"Kalau bantuan ada. Cukuplah kalau untuk makan dan minum. Yang kurang ini perlengkapan bayi seperti popok (pempers) dan obat-obatan, karena sudah banyak yang sakit," ucapnya.

Inak Mustakran tidak tahu sampai kapan harus bertahan di tenda-tenda pengungsian. Sebab, selain masih takut terjadi gempa susulan, dirinya dan keluarga juga belum tahu tinggal dimana, sebab rumah satu-satunya yang iya tempati bersama keluarga sudah rata dengan tanah.

"Belum tahu kita kayak apa ini. Paling tetap tinggal di tenda aja, main kemana juga kan sudah gak bisa," sedihnya

Keengganan warga untuk kembali ke rumah ini juga dibenarkan Kepala Desa Sembalun Bumbung, Sunardi. Ia mengakui, jika saat ini warganya masih merasa trauma akibat gempa bumi 6,4 SR yang mengguncang wilayah itu pada Minggu (29/7) pagi.

"Takut semua kalau kembali rumah. Lebih baik mereka tidur di pengungsian daripada balik ke rumah," katanya.

Menurut Sunardi, pihaknya tidak tahu harus sampai kapan warganya akan bertahan di posko-posko pengungsian. Pasalnya, sebagian besar warganya menjadi korban bencana gempa.

"Jumlah pengungsi di desa ini saja ada 8.426 jiwa dan rumah rusak, baik berat dan ringan ada puluhan. Melihat ini kita juga tidak tahu, warga bertahan di tenda-tenda pengungsian," tandas Sunardi. (ant/adi)

Berita Terkait

Baca Juga