Survei: Elektabilitas Gatot Nurmantyo Sebagai Capres Kalahkan Prabowo

Survei Elektabilitas Gatot Nurmantyo Sebagai Capres Kalahkan Prabowo Eks Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo

Covesia.com - Hasil survei The Initiative Institute mencatat elektabilitas mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo sebagai bakal calon presiden pada Pemilu 2019, lebih tinggi dibandingkan Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto.

"Yang menarik, Gatot Nurmantyo dalam survei kami, angka keterpilihannya lebih tinggi daripada Prabowo Subianto. Posisi elektabilitas Gatot ini nomor dua tertinggi setelah Pak Jokowi," jelas CEO The Initiative Institute Airlangga Pribadi di kawasan Menteng, Jakarta, Minggu.

Kajian The Initiative Institute menunjukkan tingkat keterpilihan sejumlah tokoh sebagai bakal calon presiden pada Pilpres 2019, di antaranya adalah Joko Widodo sebesar 77,8 persen, mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo sebesar 63 persen, mantan ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD sebanyak 62 persen, dan Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto sebesar 61,5 persen.

Sementara itu, elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebesar 58,7 persen, Sri Mulyani Indarwati 53,3 persen, serta Tuan Guru Bajang Zainul Majdi sebanyak 50 persen.

"Khusus untuk kasus Gatot, yang mengalahkan Prabowo, kebetulan mereka sama-sama berlatar belakang militer. Perolehan angka itu kemudian menunjukkan bahwa responden ingin melihat figur pemimpin yang lebih muda dan kemudian sudah perlu ada pergantian generasi elit militer dalam politik," tutur Airlangga.

"Tokoh militer yang sudah lama dalam dunia politik, sekarang juga diasumsikan untuk bekerja `di belakang layar` saja," tambah dia.

Dalam pemaparan hasil survei tersebut, Airlangga juga menjelaskan bahwa tingkat keterpilihan calon presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) menjadi yang tertinggi karena dianggap dapat bekerja secara profesional, memiliki pengalaman dalam pemerintahan, serta beragama Islam.

Survei The Initiative Institute yang dilaksanakan pada 10 Juli hingga 15 Juli 2018, menggunakan pendekatan "purposive sampling", yang mana respondennya adalah pihak-pihak yang memiliki informasi cukup baik tentang kebijakan dan karakteristik tokoh.

Kelompok responden yang berpartisipasi dalam survei tersebut, meliputi akademisi, jurnalis, anggota organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan, kalangan profesional, serta anggota organisasi nonpemerintah.  (ant/adi)

Berita Terkait

Baca Juga