Selandia Baru: Kebangkitan China Ancam Keamanan Nasional

Selandia Baru Kebangkitan China Ancam Keamanan Nasional Foto satelit memperlihatkan sesuatu yang menurut deskripsi CSIS Asia Maritime Transparency Initiatives sebagai penyebaran beberapa sistem senjata baru, termasuk sebuah pesawat tempur J-11, di pangkalan China di Woody Island di Paracels, Laut Cina Selatan,

Covesia.com - Laporan pertahanan Selandia Baru yang diluncurkan pada Jumat (06/07/2018), memperingatkan bahwa pengaruh China yang meningkat di Pasifik Selatan dapat merusak stabilitas di kawasan itu.

Selandia Baru dan Australia secara tradisional menjadi dua pemain utama di Pasifik Selatan, tetapi laporan itu mengatakan, Selandia Baru sekarang kehilangan pengaruh di antara negara-negara pulau kecil ke China.

"Keamanan nasional Selandia Baru tetap terkait langsung dengan stabilitas Pasifik. Ketika negara-negara Kepulauan Pasifik berkembang, maka mitra tradisional seperti Selandia Baru dan Australia akan ditantang untuk mempertahankan pengaruh," kata laporan itu.

"China memiliki pandangan tentang hak asasi manusia dan kebebasan informasi yang bertentangan dengan yang berlaku di Selandia Baru," tulis laporan itu.

Selandia Baru mengumumkan akan meningkatkan bantuan luar negeri hampir sepertiga sebagai bagian melawan pengaruh China yang meningkat di Pasifik Selatan.

"Kami hidup di masa yang penuh gejolak, dunia berubah dan muncul kembali persaingan kekuatan besar," kata Menteri Pertahanan Selandia Baru, Ron Mark, kepada wartawan, di Wellington.

Australia adalah donor bantuan terbesar ke Pasifik, dengan komitmen Rp1,8 triliun tahun ini. Tetapi dengan defisit anggaran yang besar, anggaran bantuannya akan jatuh ke level terendah sehingga membuka pintu bagi China, kata para pengamat.

Bantuan ekonomi China ke wilayah ini tumbuh secara signifikan, menurut lembaga pemikir Australia Lowy Institute, dengan perkiraan 1,78 miliar dolar Amerika Serikat yang sudah dibelanjakan sejak 2006-1016.

China membantah mereka menggunakan program bantuannya untuk memberikan pengaruh di wilayah yang diberkati dengan banyak sumber daya alam itu.

Februari lalu, Taiwan menuduh China menekan Papua Nugini, penerima bantuan Beijing yang besar, untuk merusak hubungan.

"Dalam makalah kebijakan terakhir pada 2016, Selandia Baru berbicara tentang perubahan iklim dan kekhawatiran non-tradisional hal-hal seperti pembajakan dan penyelundupan, sementara di posisi selanjutnya ialah kompetisi regional. Sekarang hal ini menjadi elemen sentral," kata Euan Graham, Direktur Program Keamanan Internasional di Lowy Institute Australia.

"Hal ini akan disambut sekutu internasional utama," katanya.

Mengutip dugaan campur tangan dalam politik domestiknya, Australia bulan lalu mengesahkan undang-undang baru untuk membatasi Beijing.

Australia juga berencana untuk menghabiskan porsi yang signifikan dari anggaran bantuan Pasifik untuk membangun kabel internet berkecepatan tinggi untuk Papua Nugini dan Kepulauan Solomon, dan akan meningkatkan keamanan Siber untuk Vanuatu guna melawan pengaruh China yang semakin besar.

Para pemimpin Kepulauan Pasifik, yang meliputi Australia dan Selandia Baru, akan bertemu pada bulan September di Nauru untuk pertemuan tahunan mereka, di mana perjanjian baru yang meliputi pertahanan, hukum dan ketertiban, bantuan kemanusiaan diharapkan akan ditandatangani.

(ant/dnq)

Berita Terkait

Baca Juga