Rekruitmen Kelompok Radikal di Indonesia Dominan Secara 'Offline'

Rekruitmen Kelompok Radikal di Indonesia Dominan Secara Offline Ilustrasi - Pixabay

Covesia.com - Pengamat Terorisme Universitas Indonesia Solahudin menjelaskan, peran media sosial nyatanya tidak terlalu signifikan terkait proses rekruitmen kelompok ekstrimis.

"Peran medsos bagi kelompok ekstrimis di Indonesia berbeda dengan di negara lain. Di Eropa radikalisasi dan rekruitmen melalui medsos. Demikian juga di Malaysia. Tapi di Indonesia berbeda. Radikalisasi memang menggunakan medsos. Tapi rekruitmen lebih banyak dilakukan secara offline," kata Solahudin dalam acara Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Gedung Kementrian Kominfo Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Diungkapkan Solahudin, dari keterangan 75 napiter, tercatat hanya sebanyak tujuh kasus atau 9 persen yang bergabung dengan kelompok ekstrimis melalui sosmed. Sedangkan, sambung dia, 91 persen direkrut melalui offline, yakni tatap muka dan melalui forum keagamaan.

"Jadi untuk rekruitmen offline dan radikalisasi online. Kenapa offline menjadi pilihan di Indonesia, karena di Indonesia ada kebebasan untuk berekspresi dan berkumpul. Masih sangat mudah menemukan momen-momen offline yang menyiarkan propaganda ISIS. Terlebih di negeri ini, UU Terorisme tidak memiliki satu pasalpun yang bisa menjerat orang yang mempromosikan tentang terorisme. Itulah sebabnya, kelompok ini cenderung tidak memerlukan online," katanya.

Alasan kedua, menurut Solahudin, kelompok ekstrim tidak terlalu percaya pada media sosial untuk melakukan rekruitmen adalah karena dunia maya susah dipercaya.

"Banyak kasus penipuan terjadi di channel telegram yang terkait ISIS. Kasus Susan Elmira, si penipu pemalsuan dokumen untuk kelompok terorisme, dan Elang, penipu perempuan yang hendak berhijrah ke Suriah, menjadi contoh di antara sekian banyak kasus di antaranya," tuturnya.

(jon)

Berita Terkait

Baca Juga