Peneliti: 85 Persen Teroris Beraksi Dalam Kurun Waktu 1 Tahun Sejak Terpapar ISIS

Peneliti 85 Persen Teroris Beraksi Dalam Kurun Waktu 1 Tahun Sejak Terpapar ISIS Ilustrasi - Pixabay

Covesia.com - Berdasarkan hasil penelitiannya, Pengamat Terorisme Universitas Indonesia Solahudin menjelaskan bahwa sebanyak 85 persen narapidana teroris (Napiter) di antaranya melakukan aksi teror hanya dalam rentang kurang dari satu tahun, sejak pertama kali terpapar paham ISIS.

"Kemudian saya mencoba membandingkan dengan terpidana terorisme sejak 2002-2012. Ternyata, para napiter ketika itu rata-rata memerlukan waktu 5-10 tahun, sejak pertama kali terpapar sampai dengan terlibat dalam aksi terorisme," tuturnya dalam acara Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Gedung Kementrian Kominfo jakarta, Rabu (16/5/2018).

Solahudin mengatakan, dirinya juga menemukan bahwa hampir semua terpidana kasus teroris itu memiliki akun sosial media. "Sehingga saya berkesimpulan semua pelaku aksi terorisme memang memiliki keterkaitan dengan sosial media," tegasnya.

Salah satu contoh peran media sosial mendorong percepatan peradikalisasian, Solahudin menjelaskan terkait terpidana teroris bernama Anggi, yang ditangkap aparat pada Agustus 2017, terkait rencana peledakan bom di Bandung dan Jakarta.

"Anggi yang merupakan buruh migran di Hongkong, ditangkap pada Agustus 2017 karena merencanakan pemboman di Bandung, bahkan sebagai pengantinnya, dan Jakarta. Anggi itu berasal dari Klaten. Pada November 2016, Anggi masih diketahui bukanlah sosok perempuan yang agamis, bahkan tidak berhijab. Tapi, pada Desember 2016, teman-temannya mulai melihat adanya perubahan," tuturnya.

Kemudian, Solahudin membeberkan, pada Februari - Maret 2017, Anggi meng-upload dirinya tengah di-baiat di sebuah taman di Hongkong oleh Abu Bakar al Bagdadi. Pada April 2017, sambung dia, Anggi ditangkap aparat Hongkong dan dideportasi ke Indonesia.

"Di tanah air, Anggi menjalani proses deradikalisasi selama 2-3 minggu oleh Kemensos. Dan kemudian, dipulangkan ke kampungnya di Klaten. Namun sebulan kemudian, Anggi menghilang dari kampungnya. Dan pada Agustus 2017, dia ditangkap Densus 88," terang dia.

Bagaimana hal itu terjadi, Solahudin mengungkapan, ternyata Anggi dalam kurun singkat bergabung dengan lebih dari 30 private chanel Telegram. Bahkan kemudian, kata dia, Anggi membuat chanel Telegram sendiri dan menjadi admin.

"Artinya, selama 24 jam Anggi terpapar pesan-pesan radikal sehingga proses radikalisasi ke dirinya berjalan sangat kencang. Inilah sebabnya sosial media sangat penting terkait radikalisasi. Bahkan, berperan sangat signifikan," tuturnya.

 (jon)

Berita Terkait

Baca Juga