Komnas PA Apresiasi Polisi yang Selamatkan Anak Korban Bom di Polrestabes Surabaya

Komnas PA Apresiasi Polisi yang Selamatkan Anak Korban Bom di Polrestabes Surabaya Ketua Umum Komnas PA, Arist Merdeka Sirait (ist)

Covesia.com - Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) memberikan apreasiasi terhadap anggota Polisi yang menyelamatkan (menggotong) anak terduga pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya.

"Komnas Perlindungan Anak juga memberikan apreasiasi terhadap AKBP. Roni Faisal Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya yang telah mengambil langkah menyelamatkan anak pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya," kata Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait dalam keterangan tertulisnya kepada Covesia.com, Selasa (15/5/2018).

Seperti diketahui, usai ledakan seorang anak perempuan berjilbab yang awalnya dibonceng terlihat sempat bangun. Roni, yang melihat anak yang diketahui bernama Ais itu bangun langsung berlari dan mengambil untuk menggendong serta dijauhkan dari titik ledakan karena di titik ledakan.

Menurut Arist, aksi teror bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya dan Sidorajo merupakan kejahatan luar biasa terhadap harkat dan martabat kemanusiaan.

"Apapun alasan dan latar belakang aksi teroris yang melibatkan anak-anak sebagai pelaku aksi teror bom bunuh diri adalah merupakan keji dan tidak berprikemanusiaan," tandas Arist.

Arist menjelaskan, berdasarkan ketentuan pasal 15 dan pasal 76C dari  UU RI No. 35 Tahun 2014 serta Ketentuan Konvensi PBB Tentang  Hak Anak tahun 1989, setiap orang dilarang menyuruh anak untuk mekakukan kekerasan atau turut serta melakukan kekerasan dan melibatkan anak dalam penyalagunaan kegiatan politik, pelibatan anak dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan termasuk mengajak anak terlibat dalam kegiatan aksi teror bom bunuh diri. 

"Dengan demikian anak yang dilibatkan dalam aksi teror bom bunuh diri adakah merupakan korban," tandas dia.

Oleh sebab itu, tambah dia, pelibatan anak dalam aksi teror bom bunuh diri di Surabaya jelas-jelas merupakan perampasan dan penghilangan hak hidup anak secara paksa serta merupakan kejahatan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan. Dengan  demikian  tidak ada toleransi terhadap segala bentuk aksi terorisme terlebih melibatkan anak-anak.

Arist menambahkan, Komnas Perlindungan Anak juga menghinbau masyarakat luas untuk terus mewaspadai modus baru aksi terorisme yang melibatkan anak, serta mendorong seluruh lapisan masyarakat untuk sekalu mewaspadai paham radikalisme dan penanaman ujaran kebencian yang justru di doktrin oleh orangtuanya sendiri.

Dengan demikian, kata dia, atas nama kemanusiaan dan demi kepentingan terbaik anak, Komisi Nasional Perlindungan Anak mendesak segera para pelaku aksi teror untuk menghentikan pelibatan putra putrinya dalam segala bentuk aksi teror, konflik dan penanaman paham radikalisme dan ujaran kebencian.

(jon)

Berita Terkait

Baca Juga