KPK Periksa Menteri PUPR Terkait Proyek Kementerian 2016

KPK Periksa Menteri PUPR Terkait Proyek Kementerian 2016 Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono. (Foto: Setkab)

Covesia.com - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono memenuhi panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi dalam kasus penerimaan hadiah terkait proyek di kementeriannya tahun 2016.

"Kalau dari undangannya sih untuk RE," kata Basuki saat tiba di gedung KPK Jakarta, Senin (14/5/2018), merujuk pada Bupati Halmahera Timur Rudi Erawan yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

KPK menjadwalkan kembali pemeriksaan Basuki hari ini sebab dia tidak memenuhi panggilan pemeriksaan pada Jumat (11/5/2018) karena sedang dinas di luar kota.

KPK menetapkan Rudi sebagai tersangka pada 31 Januari 2018 dan saat ini dia sudah ditahan di Rutan Klas 1 Jakarta Timur Cabang KPK. Rudi merupakan tersangka ke-11 dalam kasus penerimaan gratifikasi tersebut.

Sebelumnya, KPK telah menetapkan 10 orang lainnya sebagai tersangka dalam perkara korupsi terkait proyek di Kementerian PUPR Tahun Anggaran 2016, antara lain Direktur Utama PT Windu Tunggal Utama Abdul Khoir, Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) IX Maluku dan Maluku Utara Amran Hi Mustary, dan komisaris PT Cahaya Mas Perkasa So Kok Seng.

Selain itu ada Julia Prasetyarini dari unsur swasta, Dessy A Edwin serta anggota DPR Damayanti Wisnu Putranti, Budi Supriyanto, Andi Taufan Tiro, Musa Zainudin, dan Yudi Widiana Adia.

Sembilan dari 10 tersangka tersebut telah divonis di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, sementara Yudi Widiana Adia masih menjalani proses persidangan.

Penyidik mendapatkan fakta-fakta yang didukung dengan alat bukti berupaka keterangan saksi, surat, dan barang elektronik bahwa tersangka Amran Hi Mustary selama menjabat Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) IX Maluku dan Maluku Utara beberapa kali telah menerima sejumlah uang dari tersangka Abdul Khoir dan berbagai kontraktor lainnya.

Sebagian uang tersebut kemudian diberikan oleh Amran Hi Mustary kepada Rudi Erawan, yang diduga menerima uang total sekitar Rp6,3 miliar.

Perkara ini bermula dari tertangkap tangannya anggota DPR RI Damayanti Wisnu Putranti bersama-sama tiga orang lainnya, yaitu Julia Prasetyarini, Dessy A Edwin, dan Abdul Khoir di Jakarta pada Januari 2016.

Saat itu, penyidik mengamankan uang 33 ribu dolar Singapura dari tangan Julia Prasetyarini dan Dessy A Edwin. Uang tersebut merupakan bagian dari suap yang diberikan kepada anggota DPR RI untuk mengamankan proyek di Kementerian PUPR Tahun Anggaran 2016.

(ant/utr)

Berita Terkait

Baca Juga