Abu Ibrahim Tewas di Rutan Mako Brimob, Yuliati: Dia Anak yang Lemah Lembut

Abu Ibrahim Tewas di Rutan Mako Brimob Yuliati Dia Anak yang Lemah Lembut Yuliati, (55) Ibu dari Abu Ibrahim alias Beny Syamsu terpidana teroris yang tewas di Rutan Mako Brimob Depok. (Johan Utoyo/ Covesia.com)

Covesia.com- Yuliati, (55) mengaku bahwa anak sulungnya Abu Ibrahim alias Beny Syamsu yang tewas ditembak polisi saat kerusuhan di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok merupakan sosok yang mudah bergaul dan lemah lembut.

Ia pun merasa bingung apa yang membujuk Beny sehingga mau bergabung ke kelompok radikal. Semasa hidupnya, kata Yuliati, Beny dikenal sebagai pemuda yang santun, dan mudah bergaul. Setiap kegiatan di komplek tempat tinggalnya pun ia selalu ikut serta. Bahkan Beny jarang absen shalat berjamaah di mesjid.

“Dari cara bergaul dan berbicara tidak ada tanda-tanda bahwa ia sudah menyimpang, Ia anak yang lemah lembut, bahkan marah pun tidak pernah dengan nada tinggi,” kata Yuliati saat ditemui Covesia.com, Kamis (10/5/2018)

Menurutnya, Beny ditangkap Densus 88 di perumahan Pandau Permai, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, pada 24 Oktober 2017. Ia diduga kuat tergabung dalam kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan berencana akan melakukan penyerangan di sebuah pos polisi di Pekan baru.

Saat di Rutan Mako Brimob, kata Yuliati, pihak keluarga jarang mengunjunginya karena jarak yang sangat jauh.  Lama tidak mengunjungi, tiba- tiba terdengar kabar bahwa Beny melakukan perlawanan kepada petugas dan tewas terkena peluru.

Ia pun mengaku hanya bisa pasrah melepas kepergian anak sulungnya itu. Ia berharap masih bisa melihat wajah anaknya untuk terakhir kali. "Semoga saya masih diberi kekuatan untuk menjalani cobaan ini,” tuturnya.

Mendengar Beny tewas, meskipun kondisi fisik tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh, Yuliati tetap menguatkan diri bersama anak-anaknya dari Pekan Baru pulang ke kampung halaman di Padang Sintuak, korong Ladang Condong, nagari Malay V Suku Timur, kecamatan Batang Gasan, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, (Sumbar).

Semenjak kepergian sang suami 12 tahun silam, Yuliati mengaku berjuang membesarkan kedelapan anaknya. Ia bekerja sebagai buruh cuci di Pekan Baru.

Kesulitan menghidupi keluarga tidaklah ditanggungnya sendiri. Selepas menamatkan Sekolah Menengah Kejuruan, kata Yuliati, Beny Syamsu sebagai anak tertua turut bekerja membantu meringankan beban keluarganya. Bermodalkan keahlian dibidang listrik dibangku sekolah, membuatnya mendapat banyak tawaran untuk pemasangan instasi listrik.

“Jika tidak ada panggilan pemasangan instalasi, Beny berjualan buah atau gorengan, yang penting halal pasti dikerjakannya,” terang dia.

Menurut Yuliati, paman Beny, Karyanto yang menjodohkan Beny dengan Multriani yang merupakan gadis, asal Pintu Rimbo, Jorong Puduang, Kecamatan IV Nagari, Kabupaten Agam.

Setelah menikah pada tahun 2010, Beny membawa istrinya ke Pekan Baru dan menetap di sana. Dari perkawinannya ia dikaruniai dua orang anak.

(han/jon)

 

Berita Terkait

Baca Juga