Komnas HAM Apresiasi Polri Kendalikan Situasi di Mako Brimob dengan Pendekatan Humanis

Komnas HAM Apresiasi Polri Kendalikan Situasi di Mako Brimob dengan Pendekatan Humanis Sejumlah narapidana teroris di rutan Mako Brimob yang menyerah setelah diultimatum Polri. (Istimewa)

Covesia.com- Komnas HAM mengapresiasi Polri yang bisa mengendalikan situasi di Rutan Cabang Salemba Mako Brimob saat terjadi kerusuhan dan penyenderaan dengan cara pendekatan humanis sehingga tidak ada korban jiwa lainnya.

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik menegaskan, bahwa perubahan pendekatan Polri yang lebih humanis dalam penindakan terorisme tersebut tidak terlepas dari adanya keinginan Polri untuk terus berbenah serta adanya kerjasama yang erat dengan berbagai pihak termasuk Komnas HAM melalui pendidikan dan pelatihan, pembuatan buku saku HAM serta koordinasi yang intensif dalam penanganan berbagai peristiwa.

“Komnas HAM menyampaikan penghargaan dan apresiasi atas kinerja Polri yang luar bisa dapat mengendalikan situasi dengan menggunakan pendekatan humanis serta pendekatan lunak (soft approach) sehingga tidak ada korban jiwa dalam proses pembebasan sandera yang berakhir pada Kamis 10 Mei 2018,” kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima Covesia.com, Kamis (10/5/2018).

Komnas HAM pun merasa prihatin serta menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam kepada jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia yang mana terdapat sebanyak 5 anggota Polri yang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. “Kepada korban yang luka-luka semoga segera mendapatkan kesembuhan dan lekas sehat kembali,” ujar dia.

Taufan pun mengutuk tindakan pembunuhan tersebut yang dilakukan secara kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia sehingga mengakibatkan tercerabutnya hak hidup para korban yaitu lima orang anggota Polri.

Hal ini secara tegas bertentangan dengan jaminan hak asasi manusia yang mana hak hidup adalah hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun sebagaimana dijamin dalam Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 maupun peraturan perundang-undangan di bidang HAM.

Peristiwa kerusuhan dan penyanderaan yang dilakukan oleh para terpidana teroris terhadap anggota Polri ini mengakibatkan jatuhnya korban meninggal dunia sebanyak 5 (lima) orang Anggota Polri yakni Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji Siswanto, Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi, Brigadir Luar Biasa Anumerta Fandy Setyo Nugroho, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli dan Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas serta satu orang yang meninggal dunia terpidana teroris atas nama Abu Ibrahim alias Beny Syamsu.

Sesuai dengan temuan awal yang ada bahwa lima anggota polisi yang tewas dalam peristiwa tersebut dibunuh secara kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia yakni dengan cara ditembak dan luka tusuk dengan senjata tajam pada sekujur tubuh. Selain itu, dalam peristiwa tersebut telah mengakibatkan sebanyak empat orang anggota Polri mengalami luka- luka diantaranya anggota Polri yang sempat disandera atas nama Bripka Iwan Sarjana.

 (jon)

Berita Terkait

Baca Juga