Dibandingkan Sanksi, Pendekatan Persuasif Dinilai Jauh Lebih Tepat Berantas LGBT

Dibandingkan Sanksi Pendekatan Persuasif Dinilai Jauh Lebih Tepat Berantas LGBT Ilustrasi (Foto: pixabay)

Covesia.com - Lesbi, gay, biseksual dan transgender (LGBT) terus menjadi pro dan kontra di Indonesia, mengingat masyarakat Indonesia masih menjunjung tinggi nilai, norma, agama dan budaya ketimurannya.

Tidak hanya itu potensi menularnya masalah kesehatan serius seperti HIV dan kanker rahim yang semakin besar akibat LGBT semakin membuat resah masyarakat seiring bertambahnya mereka yang terjangkit LGBT.

Trakhir, Himpunan Konselor VCT HIV Indonesia menyebukan 14.469 laki-laki di Sumatera Barat penyuka sesama jenis (gay). tentu angka itu terbilang cukup besar di Provinsi yang ajaran agamanya masih sangat kental.

Baca: PKVHI: 14.469 Pria di Sumbar Gay

LGBT bagaikan fenomena gunung es dimana perlu penanganan serius, lalu bagaimana cara memberantasnya?

Sosiolog Universitas Andalas (Unand) Padang Sumatera Barat Prof. Damsar mengungkapkan perlu adanya pemikiran dan pembicaraan serius antara pemerintah, tokoh adat, agama, akademisi, kesehatan, psikolog untuk mengembalikan mereka yang 'tersesat' (LGBT) dengan cara merangkul.

Baca: Sosiolog: LGBT Diwarisi Lingkungan Sosial di Luar Keluarga.

Menurutnya hujatan yang timbul dimasyarakat sebagai bentuk kontra sosial akibat perilaku menyimpang yang mereka lakukan. Namun pemberian pemahaman secara persuasif jauh merupakan cara yang lebih tepat untuk mengembalikan mereka dari orientasi seksual yang menyimpang.

"Oke di aceh sudah ada semacam saksi adat seperti hukum rajam di depan umum untuk mereka yang LGBT tapi menurut saya lebih baik memberikan pemahaman terhadap mereka ketimbang diberikan saksi, karena saksi belum tentu akan merubah perilaku mereka," ungkapnya melalui telepon seluler kepada Covesia.com, Kamis (27/4/2018).

"Rangkul mereka tidak dikucilkan, tidak di inklusikan beri pendekatan dan dengan memberi pemahaman bahwa mereka tidak harus egois dengan kemauanya dan mengingat keluarga," tambahnya.

Tidak hanya itu lanjut Damsar, keluarga merupakan benteng terbesar, tameng utama untuk mengembalikan mereka menjadi manusia normal lagi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Psikolog Unand Kuswardani Susan Putri. Bersikap keras dan frontal terhadap mereka yang LGBT belum tentu merubah prilaku mereka, bahka hal itu bisa menimbulkan dendam sehingga menimbulkan niat dari dalam diri mereka untuk menulari orang lain dan bahkan anak-anak gaya hidup seperti itu.

Baca: Psikolog Sebut LGBT Berpotensi Alami Gangguan Jiwa

"Kita sebaiknya persuasif terhadap mereka, kita bangun kekhawatiran terhadap diri mereka. Saya tahu kamu happy dengan ini tapi saya khawatir dengan kesehatan kamu. Ungkapkan itu, atau saya juga sering bilang, I know you happy with this tapi ada norma sosial lo jika kamu tampilkan prilaku gay kamu di depan umum itu akan menjadi pedang utama untuk diri kamu. Kita harus persuasif seperti itu," ungkapnya kepada Covesia.com, Kamis.

Tidak hanya itu, untuk keluarga, teman terdekat, lanjut Susan, kita harus menentukan sikap yang tepat jika tiba-tiba keluarga kita, teman kita secara tiba-tiba mengaku 'i'm gay'. Ini tidak main-main lanjut Susan karena itu kita harus persuasif untuk mengajak mereka ke jalan yang benar.

Baca juga Belasan Ribu Pria Sumbar Gay, Pemuda Muhammadiyah: Kembalikan Fungsi Adat!

(utr)

Berita Terkait

Baca Juga