SETARA : Demo FPI Atas TEMPO Intimidasi Terhadap Pers

SETARA  Demo FPI Atas TEMPO Intimidasi Terhadap Pers Setara Institute

Covesia.com - SETARA Institute mengecam aksi Front Pembela Islam (FPI) di kantor redaksi majalah TEMPO. Aksi berlangsung ricuh dan diwarnai dengan kekerasan verbal, gebrakan meja, pelemparan gelas air mineral, dan perampasan paksa kaca mata Pemimpin Redaksi TEMPO oleh pengunjuk rasa, Jumat (16/3).

Wakil Ketua SETARA Institute, Bonar Tigor Naipospos menegaskan, demo FPI terhadap TEMPO atas pemuatan karikatur nyata-nyata merupakan intimidasi atas pers sebagai pilar keempat demokrasi.

"Mobilisasi kerumunan massa (mob) secara fisik karena karya dan produk jurnalistik yang dimuat oleh media massa pada dasarnya adalah serangan fisik dan psikis atas media sebagai lembaga pengawal keadaban publik dalam demokrasi," kata Tigor dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (17/3/2018).

Menurut Tigor, sejatinya kekecewaan dan ketidakterimaan terhadap produk dan karya jurnalistik dibenarkan dalam alam demokrasi. Oleh karena itu kontrol terhadap lembaga-lembaga pers disediakan oleh mekanisme negara demokratis melalui institusionalisasi Dewan Pers. 

"Maka apabila terdapat lembaga pers yang memproduksi dan memuat karya jurnalistik yang dinilai tidak sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik dan melanggar kode etik, saluran yang tepat untuk mempersoalkannya adalah melalui Dewan Pers," papar Tigor.

Ia menjelaskan, mekanisme mempersoalkan lembaga pers melalui Dewan Pers merupakan salah satu aspek tata kelola demokratis yang disediakan oleh negara untuk menjamin terwujudnya tertib sosial dan keadaban publik. 

Namun demikian, unjuk rasa juga merupakan hak dasar warga negara untuk mengemukakan pendapat di muka umum secara merdeka yang harus dijamin negara. Dalam konteks itu, aparat kepolisian harus mengambil tindakan proporsional, menjamin kemerdekaan mengemukakan pendapat namun juga melindungi pekerja media dari tindakan intimidasi dan serangan fisik.

Namun, tambah dia, dalam konteks aksi demo FPI di Kantor TEMPO yang ricuh, diwarnai paksaan fisik kepada Arif Zulkifli, Pemimpin Redaksi TEMPO, termasuk dengan cara merampas paksa kaca mata yang bersangkutan dan melemparkannya ke tengah-tengah massa, nyata-nyata merupakan kebiadaban yang seharusnya dicegah oleh pihak kepolisian. 

Aparat kepolisian sebagai representasi negara tidak boleh melakukan pembiaran terhadap intimidasi dan paksaan fisik yang terjadi. 

"Pembiaran demikian dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hak asasi manusia," tandas Tigor.

Lebih dari itu, pembiaran tersebut menegaskan ketundukan negara terhadap kelompok vigilan yang jejaknya dalam melakukan kekerasan dan tindakan main hukum sendiri sudah banyak dicatat publik.

(jon)

Berita Terkait

Baca Juga