BNP2TKI Kawal Kasus TKW Adelina, Korban Penyiksaan Majikan di Malaysia

BNP2TKI Kawal Kasus TKW Adelina  Korban Penyiksaan Majikan di Malaysia Adeline Lisao, pekerja migran Indonesia tewas di rumah sakit Penang, Malaysia. Tubuhnya penuh luka. Ia tidur di teras rumah bersama anjing majikannya di Malysia/ Foto: Istimewa

Covesia.com - Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid menegaskan, pihaknya akan terus mengawal kasus hukum yang menyebabkan tenaga kerja wanita (TKW) asal Kupang, Adelina Lisao meninggal dunia karena disiksa oleh majikannya di Malaysia. 

"Kita memastikan proses hukum terhadap pelakunya dan juga mengawal agar hak-hak dari almarhumah Adelina diberikan kepada keluarganya," kata Nusron, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa (13/2/2018). 

BNPT2TKI pun sudah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk penanganan pemulangan jenazah TKI korban penyiksaan di Malaysia itu. 

Nusron mengungkapkan, hingga Senin (12/2/2018) Satgas KJRI Penang telah bertemu dengan Ms Aida, yang merupakan Agen Malaysia dan telah mendapatkan paspor korban. Bahwa betul namanya sesuai paspor adalah Adelina Lisao, dengan nomor paspor A4725964, yang dikeluarkan Imigrasi Blitar. Alamat yang tertera di paspor yakni Desa Tanah Merah, RT07/03 Kupang Tengah, Kupang, NTT.

Yang bersangkutan, menurut Nusron, pernah bekerja secara resmi di Malaysia, kemudian pulang ke Indonesia tanggal 29 September 2014, dan masuk lagi secara ilegal tanggal 22 Desember 2014 via Agen Malaysia atas nama Ms Lim (agen ke-1). Kemudian yang bersangkutan dijual ke Ms Aida (agen ke-2), dan oleh Aida dipekerjakan ke majikan WN Malaysia atas nama Jaya, sampai meninggal.

"Saat ini polisi sudah menangkap Jaya dan saudara laki-lakinya, sementara diduga bahwa penyiksaan dilakukan oleh Ibu kandung majikan," ungkap Nusron.

Nusron juga sudah mendapatkan informasi bahwa ibu kandung majikan akan segera ditangkap. Mereka akan didakwa dengan hukum pidana dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Sementara mengenai jenazah Adelina, kata Nusron, Satgas KJRI Penang akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengawal kasusnya serta mengupayakan hak-haknya selama bekerja dan proses pemulangan jenazahnya.

"Saya sudah instruksikan BP3TKI Kupang untuk berkoordinasi dengan pihak terkait termasuk juga berkomunikasi dengan keluarga mengenai proses ini," kata Nusron.

Menurut dia, informasi sementara dari satgas yang telah melihat langsung kondisi jenazah dan bertemu dengan DR Amir Sa`ad, pakar forensik RS Sebrang Jaya dan Ins Zul, polisi Kantor Polisi Sebrang Prai Tengah, hasil sementara, kematian korban disebabkan oleh anemia, hemoglobin 3,6 (normal 12-15), malnutrisi 43 kg BMI 16 (normal 18) akibat pembiaran yang dilakukan majikan dalam jangka lama (lebih dari satu bulan) dan bekas luka yang tidak diobati yang berakibat menyebabkan kegagalan fungsi organ tubuh.

Dari hasil forensik sementara tidak ditemui bekas-bekas penganiayaan atau pemukulan dan tidak ada luka dalam. Berdasarkan laporan sementara, penyebab bekas luka ditangan kanan diperkirakan bekas gigitan binatang dan tangan kiri akibat air keras.

"Penyebab luka masih dalam penyidikan. Dan Pemerintah Malaysia akan memanggil pakar forensik gigi dan dokter gigi dari Pusat Forensik Malaysia. Hasil post mortem akan disampaikan ke KJRI Penang," katanya.

(sea/ant)


Berita Terkait

Baca Juga