Kisah Getir Masa Kecil Bupati Ngada Mariaunus Sae

Kisah Getir Masa Kecil Bupati Ngada Mariaunus Sae Ngada Marianus Sae

Covesia.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap kepala daerah.

Dalam ott kali ini, lembaga antirasuah menangkap tangan salah seorang Bupati di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kabiro Humas KPK Febri Diansyah membenarkan bahwa pihaknya melakukan tangkap tangan terhadap salah seorang kepala daerah tersebut.

Ia menjelaskan, ada beberapa orang yang diamankan dalam operasi senyap yang dilakukan di sejumlah daerah itu. Namun, baru 2 orang yang dibawa ke Jakarta.

"Memang ada kegiatan tim di lapangan. Ada kepala daerah dari NTT yang diamankan," kata juru bicara KPK, Febri Diansyah kepada wartawan, Minggu (11/2/2018).

Ada cerita tentang kegetiran dan perjuangan di balik kesuksesan Bupati Ngada Marianus Sae. Masa kecilnya ternyata berat. Tak ada yang menyangka jika Marianus kecil yang dahulu susah itu bisa jadi bupati, bahkan dua periode.

Lahir dari keluarga miskin, Marianus Sae kecil harus berjuang menghadapi kerasnya hidup. Saat berumur lima tahun, Marianus Sae diambil saudari ayahnya, karena kedua orangtuanya meninggal dunia.

Sebagai yatim piatu di umur itu, Marianus tak mengenal siapa ayah ibu kandungnya. Marianus baru mengenal orangtua kandungnya saat hendak menerima komuni suci (sambut baru). Saat itu, guru kelasnya membacakan nama-nama siswa serta nama orangtua calon siswa penerima komunio.

"Saya protes ke guru karena nama orangtua yang dibacakan bukan nama orangtua yang selama ini saya anggap orangtua kandung saya. Barulah, guru kelas sampaikan bahwa itu ternyata orangtua angkat saya," tutur Marianus saat berkunjung ke sekertariat relawan MS-Emy di Kelurahan Oebufu belum lama ini.

Mendengar penjelasan gurunya, Marianus kecil langsung menangis dan berlari keluar dari ruang kelas.

"Saya berlari tinggal di kebun. Sampai orangtua angkat saya mencari saya dan bawa kembali ke rumah. Saya sangat sedih karena mereka bukan orangtua kandung saya," ujar Marianus.

Penderitaan pun kian bertambah setelah Marianus tamat SD. Orangtua angkatnya pindah dari Ngada ke Kupang dan Marianus dititip ke keluarga lain. Hiduplah Marianus bersama keluarga itu dalam kesusahan. Marianus pun memilih putus sekolah.

"Setiap hari saya bantu keluarga saya kerja kebun dan beternak," kata Marianus.

Pada 1980, Marianus memutuskan untuk merantau ke Kota Bajawa. Di sana dia bekerja sebagai penunggang kuda (joki). Lima tahun sebagai joki, Marianus pindah haluan bekerja sebagai buruh di sebuah perusahan batu merah dengan gaji per bulan Rp 6.000.

Di saat itulah Marianus berpikir untuk kembali melanjutkan sekolah. Dengan keberaniannya, dia menghadap pemilik perusahaan, mengutarakan niatnya.

Niat baiknya itu disetujui pemilik perusahaan dengan perjanjian gajinya dipotong setengah. Atas bantuan pemilik perusahaan itu, Marianus didaftarkan ke SMP PGRI Bajawa.

"Siang saya sekolah dan malam kerja. Karena hanya bekerja malam, gaji saya hanya Rp 250," paparnya.

Untuk membiayai uang sekolah di SMP PGRI Bajawa, putra Ngada itu harus bekerja malam. Dengan tubuh mungilnya, dia terus berjuang. Gajinya yang hanya Rp 250 digunakan untuk membayar iuran sekolah.

Karena kelelahan, Marianus pun kerap ketiduran saat jam sekolah. Alhasil, dia sering dipukul gurunya, bahkan hingga pingsan.

"Hampir tiap hari dipukul karena tidur di kelas. Mau berhenti kerja bayar sekolah pakai apa, terpaksa kerja terus," katanya.

Berkat ketabahannya, Marianus pun dinyatakan lulus dan melanjutkan sekolahnya ke SMA. Dari gajinya yang hanya Rp250, Marianus mampu membiayai dirinya di salah satu SMA di Bajawa.

Gigih menjalani pola hidup yang keras itu, pertolongan datang juga. Marianus bertemu seorang ibu yang baik hati. Ceritanya, pada suatu hari Marianus duduk sendiri di bawah pohon. Saat itu Marianus sudah kelas 2 SMA. Tiba-tiba dia dikagetkan dengan kedatangan ibu-ibu.

Ibu itu lalu bertanya kepadanya, "Kamu Marianus kan? Marianus kemudian menjawab bahwa betul dialah Marianus. Ibu itu kemudian mengaku bahwa dia adalah ibu saksi (mama serani) saat Marianus dipermandikan.

Ibu tersebut kemudian membawa Marianus ke rumahnya dan membiayai sekolahnya hingga tamat.

Setelah tamat dari SMA, Marianus memutuskan untuk merantau ke Denpasar. Di Denpasar, Marianus bekerja sebagai petugas cleaning servic di salah satu perusahan ekspor impor dengan gaji per bulan Rp 15 ribu.

Berkat kejujuran dan kesabaran, Marianus kemudian oleh pemimpin perusahaan diangkat sebagai karyawan tetap di perusahaan tersebut. Dari karyawan biasa, Marianus kemudian dipercayakan pemilik perusahaan untuk menjadi manajer operasional.

Sejak itu, kehidupan Marianus mulai membaik. Marianus kemudian membuka perusahaan sendiri sebelum terjun ke politik jadi bupati Ngada. Kini perusahaan itu sudah berkembang pesat.

Rindu akan kampung halaman, pada 2006 Marianus mengunjungi kampung halamannya. Ternyata dia menemukan kehidupan orang desa masih sama seperti dahulu, tidak ada perubahan, bahkan banyak anak-anak putus sekolah.

Melihat kenyataan itu, hati Marianus bergejolak. Dia kemudian membuka sekolah gratis di desanya. Selain sekolah gratis, Marianus juga membuka usaha pengembangan kayu untuk menyerap tenaga kerja warga desa.

"Semua gaji guru sampai fasilitas sekolah saya biayai. Prinsip saya, anak-anak desa harus sekolah," tuturnya.

Baca: Jumlah Harta Kekayaan Bupati Ngada yang di OTT KPK

Melihat kiprahnya, masyarakat meminta Marianus untuk maju menjadi calon bupati. Kecintaan masyarakat itulah kemudian membawa Marianus Sae menjadi Bupati Ngada hingga dua periode.

"Saya waktu itu hanya berijazah SMA dan lawan-lawan saya sarjana, tetapi karena kepercayaan rakyat memilih saya sebagai pemimpin," kata Marianus.

Membangun dari Desa

Dari pengalaman pahitnya di masa kecil itulah Marianus Sae mengusung program unggulannya 'membangun dari desa'. Faktanya, program membangun dari desa ini pun berhasil.

Di masa kepemimpinannya sebagai bupati, Marianus berhasil mengentaskan Ngada keluar dari keterpurukan. Kebijakan pemangkasan anggaran yang kemudian dialihkan ke program pelayanan publik dan perampingan birokrasi, membawa Ngada menjadi salah satu kabupaten dari empat kabupaten lainnya lepas dari julukan kabupaten tertinggal.

Selama berkeliling Nusa Tenggara Timur, Marianus menemukan fakta bahwa 70 persen desa di NTT masih terisolasi. Lantas bagaimana cara membangun desa? "Jika mau membangun daerah maka bangunlah dari desa," katanya.

(sea)

Baca juga: Bupati Ngada Marianus Sae di Tangkap KPK Sehari Sebelum Penetapan Cagub NTT

Berita Terkait

Baca Juga