Lewat Surat, Anas Bantah Pertemuan di Sukamiskin Rancang Fitnah SBY

Lewat Surat Anas Bantah Pertemuan di Sukamiskin Rancang Fitnah SBY Foto: Jhon Rico

Covesia.com - Mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum membantah ada pertemuan sejumlah orang dengannya di Lapas Sukmiskin sebelum persidangan yang mengagendakan kesaksian dari Mirwan Amir.

Ia pun menuliskan sepucuk surat bantahan tersebut dari Lapas Sukamiskin. 

Loyalis Anas Urbaningrum yang kini menjabat sebagai Waksekjen Hanura, Tri Dianto pun membenarkan perihal surat yang ditulis langsung oleh Anas tersebut. "Benar mas (surat yang ditulis Anas)," kata Tri saat dikonfirmasi Covesia.com, Minggu (11/2/2018).

Diketahui, Tri pun mengunjungi Anas di Lapas Sukamiskin, Sabtu (10/2/2018).

"Antar jajan dulu ke pondok pesatren sukamiskin buat sahabat mas anas urbaningrum," ujar tri melalui akun facebooknya.

Berikut isi surat yang ditulis Anas Urbaningrum, Sabtu (10/2/2018): 

1. Awalnya saya geli dengar cerita ada tuduhan pertemuan di Sukamiskin untuk merancang fitnah kepada Pak SBY dan Mas Ibas.

2. Tetapi karena jadi berita luas,  dagelan itu perlu diluruskan, Karena bisa menyesatkan.

3. Jelas bahwa tidak pernah ada pertemuan di Sukamiskin yang dihadiri oleh Anas Urbaningrum, Firman Wijaya, Mirwan Amir dan Saan Mustopa.

4. Terpikir untuk bikin pertemuan saja tidak pernah, tidak ada hujan kok tiba-tiba ada banjir hoax," kata dia.

5. Itu cerita hoax yang berasal dari surat hoax yang entah dibikin oleh siapa. Tapi jelas disebarkan oleh siapa saja.

6. Mudah banget untuk membuktikan pertemuan itu fakta atau hoax. Ada CCTV, buku tamu dan banyak warga yang bisa ditanya.

7. Hoax kok dipercaya dan disebarkan. Lalu kemana kampanye anti hoax dan fitnah yang belum lama dideklarasikan?

8. Hoax juga disebarkan hampir bersamaan dengan narasi jihad untuk keadilan. Ada kontradiksi yang nyata di antara keduanya.

9. Citra, kekuasaan, ketenaran dan kekayaan boleh dicapai. Tapi caranya tidak mesti dengan menista orang lain dengan hoax dan tuduhan konspirasi fitnah.

10. Keadilan mesti diperjuangkan dengan cara- cara yang sejalan dengan makna keadilan itu sendiri.

(10/2/18), Anas Urbaningrum

(jon/lif)

Berita Terkait

Baca Juga