BKSDA: Buaya Serang Warga di Agam Akibat Terganggu Racun Ikan

BKSDA Buaya Serang Warga di Agam Akibat Terganggu Racun Ikan Ilustrasi (pixabay)

Covesia.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Agam, mengungkapakan, serangan Satwa buaya terhadap Nasril (50) warga Jorong Muaro Putuih, Nagari Tiku V  Jorong, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) beberapa hari yang lalu disebabkan satwa buaya terganggu oleh aktivitas oknum warga yang meracun sungai untuk menangkap ikan dua hari sebelum kejadian. 

Kepala BKSDA Resor Agam, Ade Putra mengatakan, hasil identifikasi lapangan serta keterangan dari warga sekitar dapat disimpulkan reptil buas tersebut merasa terganggu karena habitatnya tercemar racun ikan.

"Berdasarkan keterangan beberapa warga kepada BKSDA, dua hari sebelum korban dilaporkan hilang, warga melihat ada oknum warga yang berasal dari luar Nagari Tiku Limo Jorong melakukan aksi meracuni sungai dengan cairan tertentu dengan tujuan untuk mendapatkan ikan dan udang dilokasi kejadian," ujarnya Minggu (14/2/2021).

Dilanjutkan Ade, Selain itu masyarakat juga melihat elama dua hari kemudian, terlihat beberapa kali buaya mengapung dan bereaksi dipermukaan air dengan menghempas dan membalik-balikan badannya tepat ditempat kejadian.

Berdasarkan hasil identifikasi lapangan diketahui tempat korban mengambil rumput dipinggir sungai merupakan daratan tergenang air dan berawa serta juga ditemukan beberapa bekas tempat satwa buaya berdiam diri atau rumah sarangnya. 

Terhadap hasil tersebut, BKSDA sudah menyampaikannya kepada wali nagari tiku limo jorong beserta perangkatnya. Dan bksda mendorong nagari membuat peraturan untuk mengendalikan aktivitas meracuni sungai dan penggunaan setrum dalam mencari ikan terutama dilokasi-lokasi yang diduga merupakan sarang buaya. 

Mengantisipiasi terjadinya serangan buaya, BKSDA menghimbau warga untuk waspada dan hati-hati ketika beraktivitas di dalam dan pinggitlr sungai atau muara, tidak beraktivitas pada malam hari karena buaya merupakan satwa yang aktif pada malam hari, selain itu menghindari sungai dengan arus tenang serta tidak beraktivitas sendirian. 

" Kami mengajak warga agar mau berbagi ruang tempat hidup dengan buaya mengingat habitatnya yang semakin menyempit. Menurut prilaku dan siklus hidupnya, sampai bulan Juli merupakan musim kawin dan bertelurnya satwa buaya, mereka akan mencari tempat yang aman untuk bertelur dan bersifat agresif jika terganggu," tutupnya.

(Jhn).

Berita Terkait

Baca Juga