Akademisi:Pandemi Covid-19 Jangan Jadi Penghalang Penyelenggaraan Pemilu 2024

AkademisiPandemi Covid19 Jangan Jadi Penghalang Penyelenggaraan Pemilu 2024 ilustrasi (Ist)

Covesia.com - Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Diponegoro di SemarangTeguh Yuwono berpendapat pandemi Covid-19, yang belum ada kepastian kapan berakhirnya, jangan sampai menjadi penghalang penyelenggaraan pemilu presiden, pileg, dan pilkada serentak pada 2024.

"Masih banyak cara untuk mengatasinya, seperti pada Pilkada Serentak 2020, ada pengaturan waktu bagi pemilih sehingga tidak terjadi kerumunan orang di tempat pemungutan suara," kata Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin. di Semarang, Minggu pagi.

Begitu pula, kata dia, ketika pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah berkampanye dan debat publik, bisa melakukannya secara virtual guna mencegah penularan virus corona.

Menyinggung soal electronic voting alias e-voting, analis politik dari Universitas Diponegoro ini mengatakan bahwa pilpres, pemilu anggota legislatif, maupun pilkada serentak nasional dapat menggunakan teknologi informasi pada pemungutan suara elektronik.

Jika di sejumlah daerah terkendala jaringan internet, menurut dia, tetap melakukannya secara konvensional atau pemilih mendatangi TPS dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat agar tidak menimbulkan klaster baru penularan Covid-19.

Oleh karena itu, penyelenggara pemilu perlu sedini mungkin mulai memetakan daerah mana saja yang siap melaksanakan pemilihan dengan cara e-voting supaya pemilihan melalui peralatan pemilihan suara secara elektronik ini berjalan lancar.

Teguh Yuwono yang pernah sebagai Ketua Program Magister Ilmu Politik FISIP Universitas Diponegoro mengutarakan bahwa pemungutan suara elektronik ini salah satu solusi dalam penyelenggaraan pemilu serentak di tengah pandemi Covid-19.

"Apalagi, hal ini sudah diatur di dalam pasal 85 UU Nomor 10/2016 tentang Pilkada," kata alumnus Flinders University Australia ini.

Dalam pasal 85 disebutkan pemberian suara untuk pemilihan dapat dilakukan dengan cara memberi tanda satu kali pada surat suara atau memberi suara melalui peralatan pemilihan suara secara elektronik.

Ketentuan berikutnya, pemberian suara secara elektronik dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan pemerintah daerah dari segi infrastruktur dan kesiapan masyarakat berdasarkanprinsip efisiensi dan mudah.

"Hal teknis lain yang belum diatur dalam undang-undang, cukup diatur oleh peraturan Komisi Pemilihan Umum, jadi tidak harus merevisi UU Nomor 7/2017 tentang Pemilihan Umum maupun UU Pilkada," kata dia.

(ant/adi)

Berita Terkait

Baca Juga