Dapat Kuota 50 GB dari Kemendikbud, Mahasiswa di Padang Ini Malah Curhat Tentang Alokasi Kuota

Dapat Kuota 50 GB dari Kemendikbud Mahasiswa di Padang Ini Malah Curhat Tentang Alokasi Kuota Ilustrasi (Pixabay)

Covesia.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan pemangku kepentingan lainnya resmi mengeluarkan kebijakan dengan memberikan subsidi kuota internet untuk siswa, guru, mahasiswa, dan dosen selama empat bulan senilai Rp7,2 triliun. Namun demikian alokasinya tentu telah dipikirkan oleh pemberi kebijakan. 

Meski banyak yang mengapresiasi kebijakan Kemendikbud ini mahasiswa yang berkuliah di salah satu universitas negeri di Padang memiliki pandangan yang berbeda, Maharani (21) saat dihubungi Covesia.com mengenai pendapatnya terhadap bantuan dari pemerintah ini menurutnya kuota umum sebanyak 5GB tak cukup untuk mencari tugas dari dosen. 

"Kebijakan pemerintah tersebut memang dapat membantu akses informasi bagi guru, siswa, mahasiswa, dan dosen dalam menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama masa pandemi. Apalagi banyak yang mengalami keterbatasan ketersediaan paket data internet," ungkapnya, Jumat (25/9/2020).

Alokasi kuota yang diberikan yakni untuk peserta didik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebanyak 20 GB/bulan, peserta didik jenjang pendidikan dasar dan menengah 35 GB/bulan, pendidik pada PAUD dan jenjang pendidikan dasar dan menengah 42 GB/bulan, serta untuk mahasiswa dan dosen 50 GB/bulan.  Seluruhnya mendapatkan kuota umum sebesar 5 GB/bulan, sisanya adalah untuk kuota belajar.

"Kuota belajar hanya bisa akses aplikasi dan elearning, sementara untuk referensi dari youtube atau sumber laiinnya tidak bisa diakses dengan kouta belajar, jadi untuk apa 45 GB kuota belajar," ujarnya. 

Dikatakan Maharani, kuota umum hanya disediakan 5GB, tentu tidak mencukupi sebab setiap selesai e-learning kebanyakan ujungnya dosen memberikan tugas dan disuruh buka youtube dan materi dari sumber lain, yang menggunakan kuota umum. Namun, tentunya kurang sebab kuota umum hanya 5 GB. 

Lebih lanjut Maharani mengatakan bahwa kuota belajar yang mencapai 45 GB tak semuanya terpakai. "Percuma ada 45 GB tidak terpakai semuanya karena hanya untuk aplikasi zoom dan e-learning. Lalu Zoom hanya sesekali digunakan, tergantung dosennya juga," jelasnya. 

Bahkan, Maharani menyebutkan ada juga dosen yang tidak pakai zoom, tapi belajar lewat artikel sumber dari google scholer atau disuruh melihat di aplikasi youtube. "Bagaimana akan cukup dengan kouta umum yang tersedia cuma 5 GB," ujarnya. 

Maharani mengatakan beda lagi dengan mata kuliah  praktek, sebab  tutornya di Youtube, dosen bahkan juga memberikan materi di youtube, terkadang di zoom lebih kurang hanya 1 jam.

"Semoga pemerintah dapat mengimbangkan, setidaknya 20 GB untuk kouta umum dan 30 GB kouta belajar karena banyak materi pembelajaran digunakan di aplikasi lain," harapnya.

Selain itu, mahasiswa Perpustakaan ini pun mengatakan kuota umum yang senilai 5 GB diberikan secara merata oleh pemerintah. Pada dasarnya kebutuhan siswa dan mahasiswa tentunya berbeda begitu juga dengan guru dan dosen.

(ila/nod)

Berita Terkait

Baca Juga