Pernyataan Liputan6.com Soal Doxing Terhadap Jurnalis Cakrayuri Nuralam

Pernyataan Liputan6com Soal Doxing Terhadap Jurnalis Cakrayuri Nuralam Ilustrasi - pixabay

Covesia.com - Liputan6.com mengecam keras tindakan teror melalui doxing. Kerja-kerja jurnalistik diatur Undang-Undang Pers No.40 tahun 1999, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber. 

"Jika ada yang keberatan dengan pemberitaan Liputan6 com, ada banyak mekanisme yang disediakan oleh Undang-Undang," sebut Pimpinan Redaksi Liputan6.com, Irna Gustiawati dalam keterangan tertulis yang diterima Covesia.com, Sabtu (12/9/2020).

Dia mengatakan, wartawan tidak bekerja atas nama pribadinya, melainkan atas nama institusi dan dalam sistem yang dilindungi serta sekaligus patuh pada ketentuan undang-undang pers. 

Menurutnya, merujuk kepada hal tersebut, wartawan yang dijadikan sebagai sasaran dengan melakukan tindakan kekerasan seperti doxing, bukan saja salah alamat, tapi sangat berbahaya.

"Karena itu kami akan menempuh jalur hukum untuk merespon tindakan ini. Karena doxing adalah bentuk tindakan kekerasan dan jelas sangat berbahaya, apalagi mencantumkan link yang mengarah kepada alamat rumah, foto keluarga, termasuk foto anak bayi sang wartawan, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan materi berita yang ditulis," jelasnya.

Dalam kasus ini, tambahnya, pelaku bukan saja mendoxing wartawan Liputan6.com, tapi juga keluarga, dengan menunjukkan alamat rumah, nomor telepon, dan link akun privat yang mengarah ke foto keluarga, termasuk foto sang bayi. 

Kronologi Doxing terhadap Jurnalis Cek Fakta Liputan6.com

Irna menyebutkan, wartawan Liputan6 yang menjadi korban doxing adalah Cakrayuni Nuralam yang bertugas di unit editorial pada kanal "Cek Fakta."

Dia menguraikan, pada 10 September 2020, korban mempublikasikan artikel cek fakta yang memverifikasi klaim yang menyebut, politisi PDI Perjuangan, Arteria Dahlan merupakan cucu dari pendiri PKI di Sumatera Barat, Bachtaroeddin.

Cek Fakta: Tidak benar anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan cucu pendiri PKI di Sumbar 

Irna menjelaskan, serangan doxing bermula pada Jumat (11/9/2020), dengan skala massif. Sekitar pukul 18.20 WIB, akun Instagram @d34th.5kull mengunggah foto korban tanpa izin dengan keterangan foto sebagai berikut:

"mentioned you in a comment: PEMANASAN DULU BRO‼️

No Baper ye jurnalis media rezim .

Hello cak @cakrayurinuralam .

Mau tenar kah,ogut bantu biar tenar .

#d34th_5kull

#thewarriorssquad

#MediaPendukungPKI"

Kemudian, akun Instagram cyb3rw0lff__, cyb3rw0lff99.tm, _j4ck__5on__, dan __bit___chyd_____, menyusul dengan narasi serupa. Sekitar pukul 21.03 WIB, akun @d34th.5kull mengunggah video dengan narasi:

"mentioned you in a comment: Demi melindungi kawannya yang terjebak dalam pengeditan data di Wikipedia,oknum jurnalis rela melakukan pembodohan publik 

Dan diikuti oleh team kecoa nya di masing-masing media rezim, sementara kita buka dulu 1

monyetnya...sisanya next

One Shoot

One Kill .

Instagram :

@Cakrayurinuralam

Link : https://instagram.com/cakrayurinuralam

Email : sevenjournalist@gmail.com

Facebook :

Cakrayuri Nuralam

Link : https://m.facebook.com/profile.php?id=1692936757

Twitter @cakrayuri

Link : https://twitter.com/Cakrayuri

No 081218065769

https://m.liputan6.com/me/Cakrayuri.Nuralam/bio

https://www.linkedin.com/in/cakrayuri-nuralam-0b83b1110

https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4352565/cek-fakta-tidak-benar-anggota-dpr-dari-fraksi-pdiperjuangan-cucu-pendiri-pki-di-sumbar

#d34th_5kull

#Thewarriorssquad

#AntiBangsatBangsa"

Unggahan seperti itu juga dibuat oleh pemilik akun __bit___chyd____. Mereka membuat video dan mengambil data korban di media sosial.

Selanjutnya pada pukul 22.10 WIB, akun Instagram i.b.a.n.e.m.a.r.k.o.b.a.n.e juga mengunggah video serupa.


(ril/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga