Meski Air Danau Maninjau Tercemar, Tak Mempengaruhi Hasil Tangkapan Nelayan

Meski Air Danau Maninjau Tercemar Tak Mempengaruhi Hasil Tangkapan Nelayan

Covesia.com - Kematian Massal ikan di Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat yang terjadi beberapa pekan terakhir tidak berpengaruh kepada hasil tangkapan nelayan setempat.

Salah seorang Nelayan pukat di Nagari Maninjau, St Rajo Intan mengatakan, saat ini rata-rata perharinya ia bisa menangkap 7 - 15 Kg ikan nila. Hasil tangkapan tersebut tidak jauh berbeda dari sebelum dan sesudah musibah tercemarnya air danau.

"Minggu kemaren memang ikan-ikan ini sering muncul kepermukaan mencari udara tapi tidak mati, yang mati hanya di dalam Keramba," ujarnya Kamis (6/1/2022).

Hal senada juga diungkapkan Inan (55), salah seorang nelayan yang menangkap Rinuak hewan endemik Danau Maninjau. Ia mengaku dalam satu hari bisa mengumpulkan 20 -25 Kg rinuak, jumlah tersebut justru meningkat dari bulan lalu yang hanya rata-rata 15-20 Kg.

"Rinuak sedang banyak satu bulan terakhir. walaupun ada tubo danau tapi hasil tangkapan masih banyak," jelasnya

Menurutnya banyaknya populasi rinuak usai tercemarnya air danau berbanding terbalik dengan peristiwa yang sama beberapa tahun yang lalu. peristiwa tercemarnya air danau ini juga pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, bahkan ditahun 2018 silam tercemarnya air membuat ikan-ikan berukuran kecil ini menghilang.

"dulu waktu tubo danau tahun 2018 rinuak ini tidak muncul, akibatnya para pedagang kuliner kesulitan dan akhirnya tidak menjual peyek, atau pun palai yang berbahan dasar rinuak " ulasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan DPKP)  Agam, Rosva Deswira menjelaskan, kematian massal ikan akibat tercemarnya air danau ini beberapa kali terjadi pada Desember 2021 lalu. Bahkan kerugian yang diderita nelayan akibat musibah tersebut ditaksir mencapai  Rp 35,9 miliar.

"Untuk total kematian hingga hari ini tercatat sebanyak 1.695 Ton dengan kerugian materil sekitar Rp 35,9 miliar," katanya.

Menurutnya kematian massal ini dipicu curah hujan disertai angin kencang yang terjadi beberapa waktu terakhir. Hal itu menyebabkan sediment yang mengendap di dasar naik kepermukaan danau, kondisi ini membuat kadar oksigen berkurang di air dan ikan menjadi pusing dan mati.

Tidak hanya itu saja banyaknya bangkai ikan yang mengapung di permukaan danau membuat kondisi air semakin tercamar, hal itu memicu kematian ikan menjadi semakin banyak. "Kita sudah menghimbau masyarakat untuk tidak membuang bangkai ikan ke danau, lebih baik dibawa ke darat dan dikubur," tuturnya.

Pihaknya juga mengimbau para petani untuk segera memanen ikan yang berukuran cukup besar, atau memindahkannya ke kolam air darat hal itu untuk mengurangi jumlah kematian ikan dan kerugian materil.

(Jhn)

Berita Terkait

Baca Juga