PLN dan Energi Tanpa Henti untuk Kebangkitan Ekonomi Negeri

PLN dan Energi Tanpa Henti untuk Kebangkitan Ekonomi Negeri Sumber: web.pln.co.id

Covesia.com - Tahun 2021 menjadi salah satu tahun tersulit bagi Indonesia mengingat pada pertengahan tahun ini kasus Covid-19 meningkat secara drastis. Sejak pertengahan Juni hingga pertengahan Agustus 2021, kasus harian COVID-19 di Indonesia mengalami lonjakan, di atas angka 10 ribu. Masuknya varian Delta atau B 1617.2, mutasi virus SARS-CoV-2 yang sangat menular ditengarai menjadi sebab melonjaknya kasus COVID-19 di Tanah Air.

Upaya pemerintah menekan kenaikan kasus COVID-19 semakin diperkuat dengan menetapkan Pemberlakukan Pembatasan Aktivitas Masyarakat (PPKM), mulai dari mikro hingga darurat. Pandemi Covid-19 sangat berdampak ke banyak sektor; kesehatan, pendidikan, ekonomi hingga sosial.

Selain kualitas kesehatan yang menurun, pandemi COVID-19 secara langsung mendatangkan efek negatif bagi sebagian besar sendi-sendi perekonomian negara, baik skala makro maupun mikro. Di awal pandemi COVID-19, ekonomi Indonesia pada kuartal I/ 2020 tumbuh melambat sebesar 2,97 persen (year on year). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, dibandingkan dengan kuartal IV tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat minus 2,41 persen.

Setahun kemudian, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2021 tumbuh sebesar 7,07 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut dicapai pada saat kasus aktif COVID-19 sekitar 113.218 kasus.

“Hal ini menunjukkan pemulihan ekonomi terus berlanjut dan tingginya angka kepercayaan masyarakat maupun investor terhadap Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) yang dilakukan Pemerintah. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi tersebut ditopang oleh kuatnya pertumbuhan baik dari sisi demand maupun supply,” kata Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers virtual tentang pertumbuhan ekonomi triwulan II 2021, Kamis (5/8/2021), mengutip laman ekon.go.id.

Pertumbuhan ekonomi ini juga terlihat dari aktivitas di masyarakat, khususnya dalam konsumsi listrik. PT PLN (Persero) mencatat terjadi peningkatan konsumsi listrik pada Oktober 2021 mencapai 22 terawatt-hour (TWh), yang memecahkan rekor tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Angka konsumsi bulanan tersebut bahkan lebih tinggi sejak 2017. Sementara secara kumulatif, hingga Oktober 2021, angka konsumsi listrik secara kumulatif telah mencapai 210 TWh atau tumbuh 4,7 persen dibandingkan Oktober 2020. 

"Meskipun sebelumnya ada tekanan Covid-19, tapi bouncing cukup cepat. Hingga November ini, kenaikan energi konsumsi yang tinggi melebihi catatan kita dibandingkan beberapa tahun lalu," kata Executive Vice President Perencanaan Sistem Ketenagalistrikan PLN, Edwin Nugraha Putra, dalam keterangannya, Minggu (28/11/2021) mengutip laman web.pln.co.id.

Peningkatan konsumsi listrik di Tanah Air seiring membaiknya kondisi ekonomi, turut meningkatkan pendapatan PLN hingga kuartal III tahun 2021, sebesar Rp 212,8 triliun (unaudited), atau naik 4 persen dibandingkan periode yang sama pada 2020 sebesar Rp204,7 triliun. Pada periode Januari hingga September 2021, pelanggan PLN juga mengalami penambahan sebanyak 3,6 juta menjadi 82,6 juta sampai akhir September 2021. Selain itu, volume penjualan listrik juga meningkat sebesar 8 juta kWh.

Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN, Bob Saril menyatakan pencapaian tersebut tak lepas dari berbagai strategi dan program unggulan yang diterapkan, dalam menyiasati dampak pandemi Covid-19 yang masih terjadi. Dia menyebutkan, beberapa strategi diantaranya melalui berbagai "bundling" dan promo untuk meningkatkan kenyamanan pelanggan, seperti promo "Super Dahsyat" yang digulirkan dalam rangka memperingati Hari Listrik Nasional ke-76.

"Rangkaian program promo tambah daya yang kami lakukan sepanjang tahun ini ternyata disambut antusias oleh pelanggan. Penambahan daya ini membuat pelanggan lebih produktif dan penggunaan listrik meningkat," kata Bob Saril dalam keterangannya, Rabu (27/10/2021). 

 Selain itu, pencapaian kinerja positif PLN, menurut Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Agung Murdifi, juga didukung sejumlah langkah inovasi dan efisiensi yang dijalankan perusahaan melalui program transformasi PLN. Langkah ini membuat PLN sukses meningkatkan penjualan tenaga listrik dan menjaga Beban Pokok Penyediaan (BPP) tetap stabil. 

"Sejumlah strategi perseroan untuk meningkatkan penjualan tenaga listrik dan efisiensi operasional terbukti mampu mengerek kinerja perseroan pada triwulan III-2021," ungkap Agung, Kamis (11/11/2021).

Dia menambahkan, dari sisi BPP tenaga listrik, keberhasilan efisiensi dengan program transformasi yang dijalankan PLN sejak awal 2020 juga memberikan dampak positif bagi perusahaan. Realisasi BPP triwulan III-2021 menurun sebesar 1 persen atau setara dengan Rp10 per kilo Watt hour (kWh), dari semula sebesar Rp1.355 per kWh di triwulan-III 2020 menjadi Rp1.345 per kWh.

Kinerja PLN dalam peningkatan ekonomi Tanah Air pascapandemi Covid-19 terus terlihat dari berbagai capaian Proyek Strategis Nasional (PSN) yang telah dirampungkan. Di Jawa Tengah, PT PLN (Persero) telah merampungkan investasi kelistrikan dengan nilai investasi mencapai Rp1,7 triliun, dengan membangun dan mengoperasikan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) Pemalang-Mandirancan berkapasitas 500 kilo Volt (kV). Dengan rampungnya pembangunan SUTET ini, maka PLN sudah dapat menyalurkan 4.000 MW listrik dari Jawa Tengah ke Jawa bagian barat.

Direktur Mega Proyek dan EBT PLN, Wiluyo Kusdwiharto menyampaikan, infrastruktur ini akan menyalurkan listrik dari PLTU Batang berkapasitas 2×1.000 Mega Watt (MW) dan PLTU Jawa 4 berkapasitas 2×1.000 MW di Jepara. Proyek SUTET Pemalang-Mandirancan akan melengkapi "backbone" 500 kV jalur utara pulau Jawa SUTET Tanjung Jati B-Pemalang yang sudah beroperasi sejak Juni 2021 lalu.

“Beroperasinya proyek SUTET Batang-Mandirancan ini akan mendukung peningkatan keandalan listrik di jalur utara Pulau Jawa dengan mengevakuasi daya dari 2 PLTU, yaitu PLTU Batang dan PLTU Jawa 4. Kami berharap dengan listrik yang semakin andal ini juga akan membuka peluang baru untuk pertumbuhan investasi dan perekonomian daerah pasca pandemi Covid-19,” kata Wiluyo dalam keterangannya, Sabtu (13/11/2021).

Willuyo menambakan, selain itu, sepanjang 2021, PT PLN berhasil merampungkan 50 proyek infrastruktur kelistrikan senilai Rp8,8 triliun. Penyelesaian proyek-proyek ini bakal memperkuat keandalan pasokan listrik ke wilayah DKI Jakarta, Banten dan sebagian Jawa Barat. Sebanyak 50 infrastruktur yang masuk dalam PSN tersebut terdiri atas 26 proyek gardu induk dengan total kapasitas 1.380 MVA, 23 jaringan transmisi sepanjang 271,5 kms, dan satu pembangkit berkapasitas 171 MW.

Tak hanya di Pulau Jawa, PT PLN juga terus melanjutkan proyek-proyek strategis lainnya yang ada di pulau Sumatera dan Indonesia bagian timur. Guna meningkatkan keandalan listrik di pulau Sumbawa, PT PLN telah menyelesaikan pembanguan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kiloVolt (kV) Bima-Sape dengan nilai Rp120 miliar.

Sementara, di Sumatera Utara, PLN memastikan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan III dengan nilai proyek sebesar Rp5 triliun akan beroperasi pada 2024. Pengoperasian proyek kerja sama antara Jepang dan Indonesia tersebut akan memperkuat keandalan pasokan listrik di Sumatera Utara.

"Jika mega proyek ini selesai akan dihasilkan daya 174 MW dan keuntungan lainnya bahwa pembangkit menggunakan tenaga air ini sangat efisien dan ramah lingkungan. Dengan adanya tambahan pasokan daya, kami semakin siap menyambut para investor yang hendak membangun industri di provinsi Sumatera Utara," kata General Manager PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Octavianus Padudung, mengutip laman web.pln.co.id. 

Kinerja Maksimal dan Dampak Langsung pada Pemulihan Ekonomi Masyarakat

Pertumbuhan pendapatan PLN tahun ini tentu tidak terlepas dari peran pelanggan di Tanah Air. Penambahan 3,6 juta pelanggan hingga menjadi menjadi 82,6 juta sampai akhir September 2021, tentu bukan jumlah yang sedikit. Selain itu, peningkatan volume penjualan listrik juga akan terus meningkat hingga akhir 2021. 

Namun, pelanggan PLN adalah sektor yang juga secara langsung terdampak pandemi Covid-19. Kemampuan ekonomi masyarakat golongan menengah ke bawah khususnya, akan turut memengaruhi daya konsumsi, termasuk listrik rumah tangga. Atas dasar ini, langkah yang diambil pemerintah melalui kompensasi, stimulus, dan subsidi listrik tentu berdampak signifikan menjaga konsumsi listrik masyarakat, di samping pemenuhan kebutuhan pokok lainnya yang juga mesti dipenuhi.

Kebijakan pemberian kompensasi, stimulus, dan subsidi listrik dari pemerintah ini, telah berhasil dijalankan oleh PT PLN. Hingga kuartal III 2021, PLN telah menyalurkan kompensasi, stimulus, dan subsidi listrik Rp63,18 triliun dari pemerintah. 

Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN, Bob Saril mengatakan, diskon diberikan secara langsung kepada pelanggan pascabayar dan prabayar. "Realisasi program stimulus per September 2021 tercatat Rp 9,42 triliun yang telah disalurkan kepada 31,94 juta pelanggan," ungkap Bob Saril, dalam keterangannya, Sabtu (30/10/2021). 

Sementara, PLN juga telah menyalurkan subsidi listrik kepada masyarakat yang kurang mampu, dengan realisasi mencapai Rp37,39 triliun sampai dengan September 2021 atau mencapai 69,8 persen terhadap pagu APBN 2021. Sedangkan, relaisasi kompensasi listrik mencapai Rp16,18 triliun per September 2021. 

Dia menjelaskan, segmen industri merupakan segmen tertinggi dalam penerimaan kompensasi senilai Rp8,16 triliun atau 50,43 persen, dilanjutkan dengan segmen rumah tangga sebesar Rp5,18 triliun atau 32,01 persen, dan terakhir segmen bisnis sebesar Rp2,39 triliun atau 14,77 persen. 

"Adapun realisasi program stimulus Covid-19 pada 2020-2021 tercatat Rp22,58 triliun yang disalurkan kepada 33,04 juta pelanggan," imbuhnya.  

Upaya PLN dalam menjalankan tugas dari pemerintah guna meningkatkan perekonomian Nasional pascapandemi tidak melulu terfokus pada sektor makro, karena perekonomian masyarakat desa juga menjadi perhatian serius pemerintahan Presiden Joko Widodo. 

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar mengungkapkan desa mampu menjadi penyangga ekonomi nasional dalam kurun dua tahun terakhir. “Harus diakui jika ekonomi desa selama pandemi Covid-19 mampu menjadi penyangga ekonomi nasional. Fakta ini tentu bukan sekadar pernyataan kosong tetapi didukung dengan beberapa indikator terukur yang bisa dicek di lapangan,” ujarnya, Kamis (30/12/2021), mengutip laman kemendesa.go.id. 

Dia mengatakan, sepanjang pandemi, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) meningkat dari total Rp117 triliun pada 2019 menjadi Rp121 triliun pada 2021. Tingginya APBDes ini, katanya, berdampak pada pendapatan per kapita warga desa dari Rp882.829 per kapita per bulan menjadi Rp 971.445 per kapita per bulan selama pandemi Covid-19. 

“Peningkatan pendapatan warga desa ini salah satunya karena adanya Program Padat Karya Tunai Desa selama pandemi. Selain itu juga adanya berbagai proyek infrastruktur level desa yang dilakukan secara swakelola di mana semua pekerjanya dari warga desa pun juga belanja barangnya juga dari toko-toko di desa juga,” ujarnya.

Berjalannya program padat karya tunai desa dan proyek infrastruktur level desa tentu tidak terlepas dari peran infrastruktur kelistrikan yang memadai. Atas dasar ini pula, PT PLN dan Kemendes PDTT menjalin kerja sama yang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Menteri Abdul Halim Iskandar dan Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini di Bali, Senin (25/10/2021).

Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar mengatakan, dalam peningkatan ekonomi masyarakat serta produktivitas produk UKM desa, maupun BUMDes dan BUMDesma, diperlukan infrastruktur ketenagalistrikan yang memadai. "Kami berharap, PLN berkomitmen meningkatkan dan mendukung ketersediaan listrik perdesaan terutama di daerah 3T, serta mampu bersinergi bersama dalam percepatan pelaksanaan penyediaan infrastruktur kelistrikan untuk BUMDes dan BUMDesma," ujar Abdul pada acara Penandatanganan MoU Kemendesa dan PLN.

Merespons hal tersebut, Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini menyatakan, PLN siap mendukung program Kemendesa dengan meningkatkan ketersediaan infrastruktur kelistrikan dan melistriki BUMDes dan BUMDesma, sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya di desa.

"PLN, berkomitmen penuh untuk memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh masyarakat dengan keandalan kelistrikan yang prima, serta harga yang sesuai dengan keekonomian di Indonesia," ujarnya. 

Membuktikan hal itu, pada Hari Listrik Nasional ke-76 (Rabu, 27 Oktober 2021), PLN berkomitmen mendorong Rasio Desa Berlistrik (RDB) di Indonesia. Bahkan, hingga September 2021, PLN telah mengalirkan listrik ke 83.125 desa di seluruh wilayah Indonesia. 

Komitmen PLN dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa terus dilakukan di sejumlah kawasan desa di Tanah Air. Memasuki momen Natal 2021 dan Tahun Baru 2022, PT PLN Persero, dua dusun di Desa Sebirang dan tiga dusun di Desa Amboyo Selatan, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat mendapat aliran listrik baru. PLN mengucurkan dana investasi lebih dari Rp4 miliar untuk mengaliri listrik ke lima dusun tersebut.

Selain itu, PLN juga melakukan mengalitkan listrik ke "Negeri di Atas Awan," Desa Fatuulan, Kecamatan Ki’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), yang langsung dinikmati oleh 525 kepala keluarga (KK).

Di sisi lain, melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), hingga Triwulan III 2021, PLN Peduli telah menjalankan 71 program desa wisata yang tersebar di seluruh Indonesia dengan total nilai bantuan lebih dari Rp6 miliar. Program ini juga telah memperoleh apresiasi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 

Guna meningkatkan potensi perekonomian lewat desa wisata, PLN siap mendukung penyediaan kebutuhan listrik untuk Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) dan Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) dengan estimasi kebutuhan listrik sebesar 344 megawatt (MW). 

Inisiatif PLN: Energi “Memurnikan” Indonesia

Presiden Joko Widodo meminta agar transisi energi segera dilakukan di Tanah Air, dengan meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi. "Kita punya potensi EBT mencapai 418 gigawatt (GW) dari surya, panas bumi, bayu, sampai arus laut. Ini semua bisa kita manfaatkan untuk sumber energi," ujar Presiden dalam perhelatan Indonesia EBTKE Connect Expo 2021, Senin (22/11/2021). 

Menanggapi instruksi Presiden, PT PLN akan mengembangkan beberapa proyek EBT pada tahun 2022. Proyek-proyek ini sudah tertuang dalam RUPTL 2021-2030. 

"Dalam RUPTL kami berkomitmen bahwa penggunaan energi bersih akan lebih banyak. Langkah ini kami lakukan untuk mencapai carbon neutral pada 2060," kata Direktur Mega Proyek dan EBT PLN Wiluyo Kusdwiharto.

PT PLN tahun depan juga akan mengembangkan 21 proyek EBT antara lain, proyek PLTA/M yang tersebar di Sumatera, Sulawesi dan di Jawa, sebesar 490 MW. Sedangkan proyek PLTP dengan total kapasitas sebesar 195 MW. Selain itu, PLN juga akan mengembangkan PLTBio tersebar dengan kapasitas total hampir 20 MW. 

Tak hanya itu, PLN juga mendorong penggunaan energi surya dengan PLTS di beberapa kepulauan, termasuk program konversi PLTD sebesar 500 MW dengan lokasi tersebar, serta pengembangan PLTB. 

Sementara, dalam mencapai target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025 juga menjadi perhatian utama PT PLN (Persero) dalam beberapa tahun ke depan. PLN menargetkan pembangunan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) sebesar 10,6 Giga Watt (GW) hingga tahun 2025.  

"PLN telah memetakan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung program percepatan Carbon Neutral 2060. salah satunya adalah peta jalan (roadmap) pengembangan pembangkit EBT sesuai dengan RUPTL 2021-2030 ini," ujarnya Executive Vice President of Engineering and Technology PLN Zainal Arifin, pada acara PLNE International Webinar, Rabu (1/12/2021).

Dalam implementasinya, PLN terus bergerak mengampanyekan pentingnya "energi hijau" dalam aktivitas keseharian di masyarakat. Hal ini sesuai dengan perintah Presiden agar program transisi energi; seperti penggunaan kendaraan listrik dan kompor induksi, segera dijalankan.   

"Kalau kita bisa mengalihkan itu ke energi yang lain, misalnya mobil diganti listrik semuanya, gas rumah tangga diganti listrik semuanya, karena di PLN oversupply. Artinya, pasokan dari PLN terserap, impor minyak di Pertamina turun," tegas Presiden Jokowi, mengutip laman web.pln.co.id, tertanggal 23 November 2021. 

Sejalan dengan itu, PT PLN berkomitmen menjalankan program konversi kompor induksi, dengan menggulirkan program "Satu Juta Kompor Induksi." Program ini juga didukung dengan cadangan daya lebih dari 30 persen di hampir seluruh sistem kelistrikan PLN.

Selain itu, konversi kompor LPG ke kompor induksi dinilai dapat menekan defisit transaksi berjalan (CAD) akibat impor LPG. Pengalihan energi impor ke energi listrik untuk 30 juta penerima manfaat akan menghemat Rp27,3 triliun selama empat tahun. Angka penghematan itu berasal dari penghematan impor LPG sebesar Rp25,9 triliun dan penghematan subsidi sebesar Rp1,4 triliun. 

Guna membumikan penggunakan listrik kepada konsumen rumah tangga, sejak dua tahun lalu, PLN telah meluncurkan program 1 juta kompor induksi. "Dari kampanye 1 juta kompor induksi, kira-kira sudah ada pelanggan yang beralih sebanyak 126.000. Kita perlu mekanisme kebijakan, setelah itu baru memberi insentif," kata Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril. 

Sementara, jika dihitung dari sisi penggunaan, kompor induksi membutuhakan biaya lebih murah dibandingkan dengan bahan bakar LPG. Hasil uji coba tim PLN menunjukkan, untuk memasak 1 liter air menggunakan kompor induksi 1.200 watt hanya memerlukan biaya sebesar Rp158, sementara dengan kompor elpiji tabung 12 kilogram sekitar Rp176. 

"Sehingga dengan pola memasak rata-rata masyarakat di Indonesia menggunakan gas LPG 11,4 kg per bulan, terjadi penghematan Rp28.500 dari biaya memasak setiap bulan," ungkap Executive Vice President Komunikasi Korporat dan CSR PLN Agung Murdifi, Selasa (30/11/2021). 

Kampanye penggunaan kendaraan listrik juga terus digaungkan PLN melalui berbagai kegiatan di sejumlah wilayah. PT PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Kaltimra menggagas konvoi "Electrifying Lifestyle" kendaraan listrik di Balikpapan, Kalimantan Timur. Konvoi melibatkan tiga mobil listrik dan 20 motor listrik.

Selain itu, guna menunjang ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB), PLN terus menambah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di berbagai daerah. 

Pada awal Desember 2021, PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Sumatera Utara baru saja meresmikan SPKLU pertama yang hadir di Kota Medan, Sumatera Utara. Selain di Sumut, PLN juga membangun SPKLU di pintu masuk pulau Sumatera tepatnya di Provinsi Lampung. Tidak saja di Sumatera, PLN juga mengoperasikan SPKLU pertama di Kalimantan, yang berlokasi di halaman kantor PLN UIW Kaltimra. 

Kampanye penggunaan kendaraan bertenaga listrik ini dibuktikan dengan hasil uji tempuh perjalanan dengan jarak 72 kilometer yang hanya memakan biaya Rp10.000 saja. 

Energi, Teknologi dan Pemulihan Ekonomi

Teknologi informasi, berupa perangkat komunikasi semakin hari semakin cepat perkembangannya. Setiap orang juga menginginkan kemudahan dari berkembangnya teknologi perangkat tersebut. Sebut saja, telepon genggam dengan berbagai kemajuan dan inovasi aplikasi di dalamnya. Perkembangan yang kian melesat ini tidak bisa diabaikan begitu saja, mengingat mobilitas masyarakat juga semakin tinggi. 

Hal ini telah menjadi perhatian PLN sejak Desember tahun lalu. Melalui aplikasi New PLN Mobile, PT PLN memahami bergitu antusiasnya pelanggan dalam memperoleh kemudahan akses. Hingga Oktober 2021, aplikasi New PLN Mobile, telah diunduh 13,2 juta pengguna dengan tingkat kepuasan 4,58 dari skala 5. 

Lewat aplikasi ini pula, pelanggan dapat mengakses PLN dengan lebih mudah untuk berbagai kebutuhan, mulai dari, tambah daya dan pasang listrik baru, membayar tagihan dan membeli token listrik, hingga perbaikan instalasi listrik rumah pelanggan. Tak hanya kemudahan, PLN juga mendorong para pelaku Usaha Mikro Kecil (UMK) mengembangkan bisnisnya, dengan menggunakan fitur “marketplace” yang terintegrasi dengan PLN Mobile. 

Perhatian PLN juga merambah ke mitra binaan, melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dan program kemitraan lainnya. Pembinaan UMK juga dilakukan lewat kolaborasi bersama Rumah BUMN dengan berbagai program unggulan antara lain UMK Go Modern, UMK Go Digital, UMKM Go Online, UMK Naik Kelas dan berbagai macam pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dari para pelaku UMK.

"Ada 8.391 UMK binaan di 29 rumah BUMN yang dibina oleh PLN. Melalui kolaborasi antara Rumah BUMN dan PLN maka harapannya banyak UMK yang bisa naik kelas bahkan mampu go global," ungkap EVP Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Agung Murdifi, Kamis (11/11/2021).

Berbagai langkah pemulihan ekonomi dari sektor ketenagalistrikan yang dijalankan PLN terbukti telah mampu memberi dampak positif kepada perekonomian Nasional. Energi PLN yang terus mengalir dari hulu ke hilir, tanpa henti memberi "napas panjang" bagi perputaran perkenomian di masyarakat ketika hantaman gelombang pandemi Covid-19 melanda. 

Energi PLN tak sekadar menerangi. Lebih dari itu, energi yang dialirkan PLN turut berperan penting dalam upaya pemerintah untuk memulihkan semua sektor yang terdampak secara langsung akibat pandemi Covid-19. 

Energi PLN selalu menjadi andalan di semua sektor. Infrastruktur yang dibangun, program yang dijalankan, hingga perhatian khusus terhadap pelanggan, telah membawa PLN kepada titik terbaik di tahun ini, dengan capaian pendapatan perusahaan yang memuaskan.  

Jelas saja, jika pada akhirnya PT PLN meraih penghargaan "The Best State Owned Enterprise In Nation Building" dalam ajang CNBC Indonesia Awards 2021. Prestasi itu diraih atas kerja keras PLN dalam menyediakan pasokan listrik terjangkau dan menjalankan transisi energi hijau. Secara khusus PLN dinilai memberikan andil terbesar di tengah pemulihan pandemi sepanjang tahun ini.

PLN juga telah menerima penghargaan dari berbagai instansi lainnya yakni; Kemendikbudristek (DUDI Awards tahun 2021); Komisi Pemerantasan Korupsi; Jambore PR Indonesia (Pemimpin Humas/Public Relations Berpengaruh 2021); Gatra Awards 2021 (Kategori Teknologi); 51 medali pada ajang The Best Contact Center Indonesia 2021 (TBCCI 2021), serta berbagai penghargaan lainnya.

“Penghargaan ini menjadi cambuk bagi PLN untuk meningkatkan layanan, meningkatkan keandalan pasokan untuk menggerakan roda perekonomian Indonesia," tutup Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo. 

Berita Terkait

Baca Juga