Warsi: Penambangan Emas Ilegal Terjadi di 4 Kabupaten di Sumbar

Warsi Penambangan Emas Ilegal Terjadi di 4 Kabupaten di Sumbar Direktur Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, Rudi Syaf /Foto: Laila Marni

Covesia.com - Provinsi Sumatera Barat memiliki kawasan hutan lebih dari separuh daerahnya atau seluas 2.286.883 ha. (52) persen.  Berdasarkan analisis tim GIS Komunitas Konservasi Indonesia Warsi tutupan hutan baik tinggal 1.744.549 ha atau 41% dari wilayah Sumbar. 

Ada berbagai perubahan kawasan hutan antaranya penggunaan hutan secara legal dan illegal. 

Direktur Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, Rudi Syaf mengtakan pengurangan hutan karena pengelolaan legal adalah diberikannya izin pembukaan hutan menjadi pengelola hutan sesuai peruntukannya (HPH) dan pengelolaan hutan sesuai dengan zonasinya.

"Tindakan ilegal, yaitu Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), Illegal Logging, dan pembukaan areal perladangan. Kegiatan PETI ditemukan di 4 Kabupaten di Sumbar diantaranya, Dharmasraya seluas 1.773 ha, Solok 1.533, Solok Selatan 2.559, dan Sijunjung 1.103," ungkap Rudi di Padang, Kamis (23/12/2021). 

Kemudian Rudi mengatakan juga terjadi tambang emas ilegal, biasanya terjadi di sungai utama atau pun sungai kecil dalam kawasan Area Penggunaan Lain (APL) dan hutan lindung. 

"Penambangan emas mengakibat kerusakan lingkungan dan timbulnya bencana longsor di sekitar kawasan tambang," jelasnya. 

Sepanjang tahun 2021, terhitung 3 kali terjadi longsor di kawasan tambang emas di Dharmasraya dan Solok Selatan. Atas kejadian tersebut, 14 orang meninggal karena tertimbun longsor dan 14 orang mengalami luka-luka, 40 orang ditangkap, dan 4 dompeng serta peralatan tambang lainnya diamankan. 

Persoalan Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA) di Sumbar yaitu konflik lahan antara masyarakat dengan perusahaan dan masyarakat dengan pemerintah. Perubahan lingkungan hidup juga rentan terjadinya konflik satwa dengan manusia. Satwa liar masuk ke perkebunan dan pekarangan  warga yang juga melibatkan hewan ternak.

“Kami mencatat sepanjang 2021, konflik satwa yang terjadi 7 konflik satwa, 2 buaya, 3 harimau, 2 beruang madu. Akibatnya  1 orang meninggal dunia serta hewan ternak mati,” ujarnya. 

(ila/adi)

Berita Terkait

Baca Juga