Kematian Massal Ikan KJA Maninjau Terus Bertambah Menjadi 552 Ton, Kerugian Ditaksir Rp11 Miliar

Kematian Massal Ikan KJA Maninjau Terus Bertambah Menjadi 552 Ton Kerugian Ditaksir Rp11 Miliar Kematian massal ikan Keramba Jaring Apung (KJA) Danau Maninjau. Foto: Johan Utoyo

Covesia.com - Jumlah ikan Keramba Jaring Apung (KJA) Danau Maninjau yang mati massal semakin bertambah. Data yang dihimpun dari Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Agam, tercatat total kematian mencapai 552 ton dengan kerugian materil mencapai Rp11 miliar.

Kepala DPKP Agam, Rosva Deswira pada Selasa (14/12/2021) mengatakan, jumlah tersebut berdasarkan hasil pendataan penyuluh perikanan dan pemerintah Kecamatan Tanjung Raya.

Dirincikan, kematian ikan terparah masih terjadi di Nagari Koto Kaciak sebanyak 300 Ton dengan kerugian mencapai Rp6 miliar. Kemudian di Koto Gadang jumlah kematian ikan sebanyak 200 ton, dengan kerugian lebih kurang Rp4 miliar.

"Data sementara, Tanjung Sani sebanyak 50 ton kerugian Rp1 miliar, Koto Malintang sebanyak 2 ton kerugian Rp30 juta," kata Rosva menjelaskan. 

Dia menyebutkan, kematian massal ikan ini dipicu cuaca yang sering berubah-ubah disertai angin kencang. Kondisi itu membuat endapan sedimen dan zat beracun lainnya naik ke permukaan, sehingga menyebabkan oksigen di dalam danau berkurang.

“Kurangnya kadar oksigen di dalam danau biasa disebut dengan istilah fenomena upweeling atau pembalikan massa air. Sebelum mati, ikan-ikan itu akan mengalami pusing dan mengawang ke permukaan danau,” jelasnya.

Menurutnya, Potensi kematian ikan masih akan terjadi. Kondisi itu terlihat dari curah hujan tinggi yang masih mengguyur beberapa hari terakhir di lokasi setempat. "Petani harus waspada, curah hujan masih tinggi," katanya lagi.

Agar tidak memperburuk kondisi, pihaknya mengimbau para petani untuk tidak membuang bangkai ikan ke danau. Selain menimbulkan pencemaran lingkungan, membuang bangkai ikan ke danau, juga sangat bertentangan dengan Undang-Undang.

“Jadi, bangkai ikan itu jangan dibuang ke danau. Tapi dikubur di darat untuk mencegah pencemaran lingkungan,” ungkapnya.

(jhn)

Berita Terkait

Baca Juga