Jelang Pergantian Tahun, Harga Pinang di Pesisir Selatan Mulai Anjlok

Jelang Pergantian Tahun Harga Pinang di Pesisir Selatan Mulai Anjlok Foto: pixabay

Covesia.com - Harga komoditi biji pinang kering di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) mulai anjlok menjelang pergantian tahun. Di mana, harga saat ini hanya di angka Rp12-13 ribu per kilogram. 

Diketahui harga komoditi pinang kering di daerah tersebut mengalami penurunan harga dari angka Rp16-17 ribu per kilogram anjlok menjadi Rp12 ribu per kilogram. 

"Harga pinang kini sudah turun menjadi Rp12 ribu per kilogram. Itu terjadi beberapa minggu belakangan ini," sebut salah seorang petani pinang, Idal (40) di Kecamatan Sutera, Pessel, Selasa (14/12/2021). 

Jauh sebelumnya, pada bulan September 2021, harga pinang di Pesisir Selatan mencapai Rp23 ribu per kilogram. 

"Hanya berselang beberapa bulan, harganya terus turun dari Rp23 ribu menjadi Rp16-17 ribu, dan parahnya sekarang hanya Rp12 ribu per kilogram," ujarnya. 

Terkait kondisi tersebut, ia berharap pemerintah daerah bisa melakukan pengawasan khusus dalam mengontrol harga komoditi di Pesisir Selatan, agar tidak terlalu berdampak signifikan terhadap perekonomian masyarakat. 

Sebab menurutnya, kondisi-kondisi seperti ini sering terjadi di seluruh harga komoditi terkusus di bidang pertanian. 

"Setidaknya, pemerintah bisa mengontrol harga komoditi petani agar tetap normal dan tidak anjlok seperti yang terjadi sekarang," harapnya. 

Sementara itu, Andi (30) seorang pengumpul biji pinang di Kecamatan Sutera, membenarkan bahwa harga komoditi pinang anjlok dari harga Rp17 ribu per kilogram menjadi Rp12 ribu per kilogram. 

"Lebih kurang satu minggu ini harganya turun. Tapi, beberapa bulan lalu sempat naik tinggi harganya yaitu mencapai Rp23 ribu rupiah. Namun, harga itu tidak bertahan lama, cuman sebentar saja," kata Andi. 

Akibat terjadinya penurunan harga pinang di bulan ini, lanjutnya, ia sebagai pengumpul biji pinang dari petani yang merasa rugi. Hal itu terjadi karena harganya tiba-tiba anjlok.

"Tiba-tiba harganya anjlok. Jadi saya rugi dan tidak mendapat untung selaku pengumpul. Karena, patokan harga yang dibeli dari petani masih harga lama. Ya, ini memang sudah risiko pengumpul kecil. Rugi banyak tidak, tapi tidak ada untungnya," tutup Andi. 

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Pessel, Widya Dari hingga kini belum mengetahui tentang penetapan harga komoditi pinang.

Untuk lebih detailnya kata Widya, pihaknya akan mengkoordinasikan hal tersebut di internal jajarannya.

"Kalau pinang saya kurang tahu. Nanti, saya coba konfirmasi ke Kabid," singkatnya. 

(idy)

Berita Terkait

Baca Juga