Belasan Ekor Babi Hutan Mati Mendadak di Palembayan Agam.

Belasan Ekor Babi Hutan Mati Mendadak di Palembayan Agam Ilustrasi, Pixabay

Covesia.com - Masyarakat Maua Hilia, Jorong Kayu Pasak Timur, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat dikejutkan dengan kematian belasan ekor babi hutan secara mendadak.

Salah seorang warga Maua Ilia, Imam (34) mengatakan, puluhan babi hutan itu ditemukan warga dalam kondisi mati di perkebunan sekitar selama satu bupan terakhir.

"Sebelumnya ada yang melihat bangkai babi saat pergi ke kebun, kemudian warga yang lain juga mengatakan juga melihat hal yang sama. Jika dihitung sekitar 15 ekor" ujarnya Minggu (5/12/2021).

Menurutnya kematian babi hutan ini tergolong janggal, sebab tidak ada ditemukan luka-luka ataupun bekas olah raga buru babi maupun serangan hewan lainnya.

Kepala Resor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Agam, Ade Putra mengatakan, saat ini  Tim KSDA Agam sedang mengumpulkan data mengingat kejadian sudah berlangsung satu bulan lalu. "Kita sedang mencoba mengumpulkan informasi, dan akan berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya," jelas Ade Putra.

Sebelumnya di Kabupaten Pasaman Barat juga dilaporkan puluhan babi mati secara mendadak pada 2020.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian (Distan) Agam, Farid Muslim mengatakan, pihaknya belum mendapatkan laporan kematian babi dari warga dan apabila memang nanti ditemukan babi mati mendadak perlu dilakukan pengambilan sampel organ tubuh babi tersebut untuk dilakukan uji labor di Balai Veteriner, sehingga dapat diketahui apakah terpapar African Swine Fever (ASF) atau virus flu babi Afrika atau tidak.

"Kita sedang mengumpulkan data. Belum bisa dipastikan  karena perlu uji labor terhadap sampel organ tubuh babi tersebut," katanya.

Farid menjelaskan, tanda-tanda klinis ASF berupa kemerahan di bagian perut, dada, scrotum, diare berdarah, berkumpul bersama dan kemerahan pada telinga, demam (41derajat celcius), konjungtivitis, anoreksia, ataksia, paresis, kejang, kadang-kadang muntah, diare atau sembelit.

Pendarahan kulit sianosis, babi menjadi tertekan, telentang, kesulitan bernapas, tidak mau makan.

Ia mengimbuhkan, ASF dapat menyebar melalui kontak langsung, serangga, pakaian, peralatan peternakan, kendaraan dan lainnya. Untuk babi yang terkena penyakit ASF, isolasi hewan sakit dan peralatan serta dilakukan pengosongan kandang selama dua bulan.

"Untuk babi yang mati karena penyakit ASF dimasukkan ke dalam kantong dan harus segera dikubur oleh petugas untuk mencegah penularan yang lebih luas," pungkasnya.

Pada 2019, Kementerian Pertanian menyatakan Indonesia dalam siaga satu menghadapi virus flu babi ini, berbagai langkah dengan melibatkan para pihak telah dilakukan dalam upaya mencegah dan penanganannya.

(Jhn)


Berita Terkait

Baca Juga