Keluarga Dekat Cabuli Dua Anak di Padang, Ini Pandangan Psikolog

Keluarga Dekat Cabuli Dua Anak di Padang Ini Pandangan Psikolog Psikolog Kassandra Putranto (istimewa)

Covesia.com - Kasus pencabulan yang dilakukan pihak keluarga dan tetangga terhadap dua anak di bawah umur di Kota Padang, Sumatera Barat, menghebohkan warga Kota Bengkuang itu. Psikolog Kassandra Putranto mengatakan, banyak faktor yang dapat mendorong terjadinya kasus tersebut.

Dia menyebutkan, beberapa faktor tersebut yakni masalah tingginya dorongan seksual yang tidak terkendali dan  ketidakmampuan mengendalikan diri, yang disebabkan berlebihan dalam mengakses materi pornografi berupa film, gambar, majalah, permainan. 

Selain itu, bisa disebabkan oleh konsumsi obat dan konsumsi alkohol. Faktor pendidikan, ekonomi, serta minimnya pengawasan dan perlindungan anak dan perempuan.

"Kurangnya ikatan emosional dengan orang tua, serta kurangnya sinergi dalam inisiatif masyarakat sipil untuk menanggulangi kasus pemerkosaan juga menjadi faktor penting," ujarnya kepada Covesia.com, Kamis (18/11/2021).

Menurutnya, sebagian besar kasus pemerkosaan atau kekerasan seksual dilakukan oleh orang yang dikenal oleh korban. Pelakunya bisa tetangga atau bahkan keluarga dekat. Semakin muda umur korban akan semakin besar kemungkinan kekerasan seksual dilakukan oleh anggota keluarganya sendiri.

Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rasa kenal dan percaya yang didapatkan oleh pelaku dari korban sehingga korban lebih mungkin untuk lengah, dan pelaku lebih leluasa dalam menjalankan aksi tercelanya.

Menurut Akinade, Adewuyi, dan Sulaiman (2010), lanjut Kassandra Putranto, beberapa faktor yang mendorong maraknya kasus pemerkosaan adalah pemerkosa bergerak bebas di masyarakat tanpa terdeteksi, korban tidak berani untuk melapor, korban disuap untuk tetap diam. 

"Korban dan keluarganya dipaksa untuk merahasiakan kejahatan karena kemungkinan besar mereka diancam oleh pelaku," jelasnya.

Dilanjutkanya, sebagian besar insiden terjadi di tempat-tempat tertutup dan sepi, orang yang menguatkan biasanya takut melakukan atau memberikan saksi yang kredibel. 

"Pemenuhan fantasi, fetishism, serta tidak tersalurkannya hasrat seksual dengan baik dan benar juga dapat menjadi faktor pendukung terjadinya pemerkosaan tanpa melihat status atau kondisi korban," terangnya.

Menurutnya, upaya yang dapat dilakukan pemerintah dalam menekan terjadinya kasus tersebut adalah dengan cara mendorong sekolah, komunitas, dan kelompok bisnis untuk berbicara tentang, mencegah, dan membiasakan .

Selanjutnya, perlu upaya menentang kekerasan atau kekerasan seksual, mendorong inisiatif masyarakat untuk mengurangi penyalahgunaan alkohol dan narkoba, karena alkohol dan narkoba. 

"Pemerintah juga bisa melakukan kampanye nasional untuk mengubah sikap dan perilaku masyarakat serta mempromosikan representasi media yang positif tentang perempuan," sebutnya.

Selain itu, katanya, peran orang tua sebagai guru juga tidak kalah penting. Orang tua harus mengajarkan pemahaman seks sejak dini. Contohnya, memberikan pemahaman tentang bagian tubuh mana saja yang dilarang untuk dipegang oleh orang lain

"Mendidik juga bisa dilakukan dengan perilaku orang tua sebagai contoh terhadap anak. Contohnya adalah menunjukkan perilaku menyayangi tubuh kepada anak dengan merawat tubuh, dan menunjukkan perilaku yang sesuai dengan jenis kelamin anak, serta memberikan contoh dalam melindungi diri dari kekerasan seksual," terangnya.

Peran orang tua dengan mentoring, yaitu dengan cara mengawasi kelayakan tontonan televisi maupun youtube yang dilihat oleh anak, memberikan ajaran dalam menjalin hubungan atau interaksi dengan lawan jenisnya, dan memberikan fasilitas untuk anak yang layak.

"Harus juga ada peran orang tua melalui organizing, yaitu melalui ajaran dalam mengatur baik dalam berperilaku terhadap diri sendiri dan orang lain. Contohnya, memberikan ajaran terdapat area-area tubuh orang lain yang tidak boleh disentuh dan sebaliknya, dan memberikan kamar yang terpisah pada anak yang berbeda jenis kelamin," imbuhnya.

Mengawasi dan mengontrol anak, yaitu keluarga dapat berperan sebagai pelindung bagi para anggota keluarga lainnya dari gangguan, ancaman, atau keadaan yang menimbulkan ketidaknyamanan fisik dan psikologis. 

"Selain itu, keluarga juga berperan dalam memberikan pengawasan, bimbingan, arahan, ataupun petunjuk terkait dengan segala aktivitas perkembangan anak agar terhindari dari segala bentuk perilaku seks yang tidak diinginkan," tutupnya.

(jhn/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga