Dua Anak di Padang Dicabuli Orang Dekat, KPAI: Pelaku Harus Dihukum Maksimal

Dua Anak di Padang Dicabuli Orang Dekat KPAI Pelaku Harus Dihukum Maksimal Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra. Dok. pribadi

Covesia.com - Pencabulan serta kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang dekat atau keluarga sendiri sudah sering terjadi. Kali ini kasus pencabulan terhadap dua anak terjadi di Padang, Sumatera Barat, yang melibatkan kakek, paman, kakak, sepupu serta tetangga korban. 

"Kita mengecam tindakan pelaku kekerasan seksual terhadap anak usia 5 dan 7 tahun tersebut. Pelaku dewasa harus mendapatkan hukuman maksimal. Karena pelaku juga orang terdekat korban bisa ditambah sepertiga dari hukuman asal," ungkap Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra kepada Covesia.com saat dihubungi via telepon, Kamis (18/11/2021). 

Dia menilai, tindakan di luar nalar itu tidak semestinya terjadi. Seharusnya, anak mendapat perlindungan dari orang di dekatnya, terutama pihak keluarga, bukan malah sebaliknya.

"Miris dan sangat menyayangkan, karena ini di luar nalar sehat. Korban yang harusnya dilindungi malah menjadi korban," katanya. 

Dia menyarankan, jika kondisi korban membahayakan dan dikhawatirkan adanya intimidasi, sebaiknya instansi pemberdayaan perempuan dan anak harus memindahkan korban ke "rumah aman."

"Agar kedua korban ini bisa dilindungi, karena pelaku orang terdekat dan bisa saja menghilangkan barang bukti," imbuhnya.

Jika berada di "rumah aman,"  korban akan direhabilitasi secara tuntas, sebab korban butuh dukungan keluarga juga. 

"Bagaimana menghilangkan traumanya yang bahkan tidak bisa hilang seumur hidup. Juga perlu dicek kesehatan korban adakah luka atau penyakit bawaan yng ditularkan pelaku," sarannya. 

Tak hanya itu, menurut Jasra, pihak berwajib mesti mendalami kebiasaan para palaku, kenapa kejadian ini bisa terjadi? Apakah mereka menonton vidio pornografi sehingga melakukan itu pada yang lemah? 

"Rata-rata pelaku kekerasan seksual pernah menonton vidio pornografi, kemudian melakukannya," katanya. 

Dia juga mengusulkan, selain dipenjarakan, hukuman pelaku harus maksimal serta ditambah pemberatan. Jika perlua terapkan hukuman suntik kebiri dan pengumuman identitas pelaku agar menimbulkan efek jera.

Di situasi pandemi saat ini pengawasan terhadap anak cenderung banyak yang lengah. Pemerintah sibuk pada penangan pandemi. 

"Dampak pandemi luar biasa, anak yang sudah lama di rumah ingin keluar, tapi lingkungan tidak aman. Ini kewajiban kita. Butuh orang sekampung untuk perlindungan anak agar aman," jelasnya. 

Jasra juga mengatakan, perhatian orang tua sangat utama untuk melindungi anak dari kekerasan. Orang tua jangan sampai menjadi pelaku kekerasan terhadap anak.

Bahkan, tambahnya, terkait merawat anak, saat pranikah, calon orang tua mesti memahasil pola asuh anak yang benar. Dia mengungkapkan, dari data survei KPAI melalui Google Form, 14 ribu orang tua yang disurvey, hanya 30 persen yang tahu cara mengasuh anak. 

"Ini harus didorong saat pranikah, menjelaskan melatih fungsi keluarga berjalan secara baik, ekonomi, edukasi, sosial dan melindungi," jelasnya. 

Sementara, aspek tersier, diperoleh melalui pendidikan, masyarakat, pemerintahan dalam lingkup kecil. "Harus ada petugas khusus perlindungan anak, ada gelagat mencurigakan yang bisa dicegah. Jangan sampai muncul korban dulu baru bertindak," pungkasnya. 

(ila/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga