Terkait Kasus Pencabulan Dua Bocah di Padang, Sosiolog: Keterikatan Keluarga Sangat Lemah

Terkait Kasus Pencabulan Dua Bocah di Padang Sosiolog Keterikatan Keluarga Sangat Lemah Ilustrasi (dok.Covesia)

Covesia.com - Kasus pelecehan seksual terhadap dua orang bocah di Kota Padang menjadi perhatian publik. Pasalnya pelakunya sendiri tidak jauh dari korban bahkan pelaku adalah keluarga kandung korban dan tetangganya sendiri.

Menangapi kasus tersebut, Sosiolog Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Muhammad Taufik, angkat bicara mengenai kasus dianggap tidak bermoral tersebut. Ia mengatakan bahwa anak saat ini sangat rentan terhadap pelecehan seksual, meskipun pelecehan seksual selama ini dibayangkan adalah orang yang jauh dari diri korban ternyata yang paling berisiko malah orang terdekat.

"Di sini keterikatan ditingkat keluarga satu sama lain sangat lemah. Apalagi peran ibu dalam kasus ini sangat dibutuhkan," kata Muhammad Taufik kepada Covesia.com saat dihubungi, Kamis (18/11/2021).

Menurutnya, persoalan moralitas yang paling berbahaya adalah musuh dari anak-anak yakni keluarga korban sendiri. Karena kasus seperti ini puncak persoalan moralitas dan penyakit masyarakat yang harus dihadapi serius oleh masyarakat karena kasus ini tidak bisa seutuhnya menjadi tanggungjawab pemerintah yang mesti masuk ke rumah-rumah karena pemangsanya bisa jadi keluarga kandung.

"Ini sangat memalukan orang masyarakat Sumbar, sebagai masyarakat beragama ternyata lebih biadap dari binatang," ungkapnya.

Memang secara konfrehensif, terang Muhammad Taufik, seluruh stakeholder dan masyarakat harus turun terhadap kasus ini. Ini juga bisa menjadi puncak gunung es, karena mungkin saja ini baru kasus yang muncul kepermukaan bisa jadi banyak kasus lain yang belum muncul kepermukaan. 

"Karena memang kontrol internal keluarga yang lemah, keluarga tidak bisa seperti dulu malah keluarga menjadi pemangsa," ujarnya.

Terhadap kasus tersebut, ia meminta membangunkan masyarakat Sumbar bahwa bahaya terhadap anak tidak jauh malah lingkungan dekat. Maka oleh sebab itu pemerintah dan masyarakat harus turun untuk memikirkan bersama jalan keluar bagaimana melindungi anak-anak dalam situasi seperti itu karena pemangsanya bisa jadi orang yang terdekat yang susah untuk dideteksi dini.

"Anak-anak mestinya juga dibekali dengan pengetahun sederhana tentang prilaku penyimpangan baik itu dari dalam keluarga sendiri. Karena saat ini yang paling aman bagi mereka hari ini adalah ibunya sendiri," tuturnya.

Sebelumnya Jajaran Satreskrim Polresta Padang meringkus para pelaku pencabulan terhadap anak di bawah umur, di kawasan Mata Air, Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (17/11/2021).

Korbannya sendiri merupakan bocah beradik kakak yang berumur 5 dan 7 tahun dicabuli oleh sang Kakek, Paman, Kakak hingga tetangga korban.

Sementara untuk penanganan lebih lanjut terhadap korban, pihak kepolisian menyerahkan kepada PPA Polresta Padang dengan berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Psikolog karena korban saat ini mengalami trauma berat.

Atas perbuatan pelaku tersebut, pelaku disangkakan dengan pasal 82 ayat (1) dan ayat (2) Jo pasal 76E UU RI nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

(deb/don)

Berita Terkait

Baca Juga