Malangnya Nasib Alfath, Siswa SDN 15 Pasar Lakitan yang 'Dibully' dan Dipaksa Pindah Sekolah

Malangnya Nasib Alfath Siswa SDN 15 Pasar Lakitan yang Dibully dan Dipaksa Pindah Sekolah SDN 15 Pasar Lakitan, Pesisir Selatan.

Covesia.com - Malangnya nasib Alfath (11), siswa kelas II Sekolah Dasar (SD) Negeri 15 Pasar Lakitan, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) dipaksa berhenti atau dipindahkan oleh sang kepala sekolah.

Alasan pihak sekolah merasa tidak bisa lagi mendidiknya dengan baik. Akibat harus dipindahkannya siswa itu, orang tua dari Al-Fath merasa kecewa dengan keputusan pihak sekolah. Karena menurutnya pihak sekolah tidak memiliki alasan yang kuat untuk memindahkan anaknya. 

"Alasan yang jelas tidak ada. Pihak sekolah sebut anaknya terlalu nakal dan memiliki kelainan,"sebut orang tua murid Beta Sutriani (30) kepada Covesia.com Kamis (11/11/2021). 

Sementara, menurut Beta, anaknya tidak memiliki kelainan seperti yang ditudingkan pihak sekolah, namun ia memang mengakui daya tangkap anaknya lemah.

Seharusnya meskipun daya tengkapnya lemah, pihak sekolah mau mendidik anaknya, namun yang terjadi malah anaknya mendapat diskriminasi.

"Memang dari kemapuan dan daya tangkap belajarnya anak saya lemah dan sekarang kami pihak keluarga sedang berusaha untuk mengobatinya dan kami bawa ke rumah sakit di Kota Padang. Tetapi, yang tidak menyenangkan perlakuan gurunya terhadap anak saya,"ucapnya. 

Padahal hasil keterangan dokter, ujar Beta, kondisi yang dialami anaknya memang harus mendapatkan perlakuan khusus dari guru dan ditempatkan di sekolah anak-anak normal lainnya. 

Sebab, yang bermasalah bukan mentalnya akan tetapi daya tangkapnya dalam belajar. 

"Secara fisik dan mental, kata dokter dan Psikolog di tempat anak saya berobat anaknya normal. Dan disarankan harus belajar di tempat pendidikan negeri. Kalau tidak nanti akan berdampak parah,"kata Beta. 

Namun terkait kondisi yang dialami anaknya tersebut, pihak sekolah memilih dan menyarankan anak kami di keluarkan atau dipindahkan ke sekolah lain. Dengan dalih anaknya memiliki kelainan dan sering berbuat nakal. 

"Kami tahu dengan anak kami. Kalau memang nakal atau lainnya. Tentu ada sebabnya. Yang menyakitkan guru-guru seolah-olah malah menyudutkan anak saya dan tidak memperlakukan layaknya siswa biasa, dan dia sering mengadu setiap pulang dari sekolah,"sebut orang tua Alfath. 

Sejak disarankan untuk pindah, secara mental sekarang anaknya kian parah dan tidak mau lagi datang ke sekolah.

Karena, ketika disekolah kata-kata dia dikeluarkan sampai ke telinga anaknya dan sekarang dia bilang guru di sekolahnya jahat dan tidak mau untuk mengajarinya. 

"Karena perlakuan guru-gurunya tidak begitu bagus ke anak saya. Anak saya kini tidak mau lagi sekolah. Seharusnya, guru-guru disekolah itu memberikan motivasi. Parahnya, sampai-sampai kini anak saya dibully,"katanya lagi dengan nada sedikit kecewa. 

Lanjutnya, kini ia berharap dan meminta kepada pihak sekolah harus bertanggung jawab atas kejadian tersebut, dan ia selaku orang tua meminta agar pihak sekolah bisa menyampaikan alasan yang kuat kenapa anak saya dipindahkan. 

"Kalau tidak sanggup mengajari anak saya sebutkan saja tidak sanggup. Jangan perlakukan anak saya dengan tidak baik. Saya akui, anak saya lemah. Dan kami bersedia memindahkan anak kami. Kami pengen anak kami bisa belajar normal dengan anak yang lain," tutupnya. 

Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Pasar Lakitan, Yusneli menanggapi terkait persoalan itu, dimana saat ini kepribadian Alfaht dan prilakunya di sekolah sering tidak normal. 

Kemudian, akibat tingkah dan prilakunya yang sering kasar mengganggu teman-teman lainnya, pihak sekolah mengambil keputusan untuk lebih menyarankan Alfath disekolahkan ditempat yang baru. 

"Kami tidak menyalahkan kekurangan Alfath. Tetapi perilakunya akhir-akhir ini cukup parah dan sering menyakiti teman-temannya dan suka berkata yang tidak bagus terhadap guru dan juga teman satu sekolahnya," kata Kepala Sekolah. 

Untuk mengajarkan Alfath untuk lebih baik, pihaknya sudah berupaya mendidik Alfat dengan baik, namun tidak ada perubahan.

"Sudah satu tahun ini kami perhatikan tapi tidak ada perubahan. Ini bukan soal kemampuannya saja. Tetapi, tingkah laku Alfath yang kami nilai tidak selayaknya anak normal lainnnya. Sehingga, kami para guru merasa kewalahan menghadapinya,"ujar Yusneli. 

Keputusan untuk menyarankan orang tua murid itu, lanjutnya, dilakukan berdasarkan kajian dan keputusan bersama dari pihak guru-guru, komite dan pengawas. Agar orang tua murid, mencarikan sekolah baru dan yang cocok dan lebih baik lagi untuk kebaikkan Alfath kedepannya. 

"Bukan kami membedakan dan tidak mau mendidik siswa. Itukan sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai guru. Tetapi, kalau dilanjutkan disini kami rasa akan bermasalah dengan mental Alfath. Sebab, dia sudah 2 tahun tinggal kelas, seharusnya diakan kelas 4 sekarang. Nanti, kalau tinggal sekolah lagi. Pasti akan menjadi beban mental bagi anak itu sendiri. Makanya, kami berikan saran seperti itu kepada orang tua Alfath,"singkatnya. 

(ind)

Berita Terkait

Baca Juga