Dianugerahi Pahlawan Nasional oleh Jokowi, Ini Sosok Usmar Ismail Bapak Perfilman Indonesia

Dianugerahi Pahlawan Nasional oleh Jokowi Ini Sosok Usmar Ismail Bapak Perfilman Indonesia Ilustrasi, Mural Usmar Ismail di dinding sebelah Janjang 40, Bukittinggi (Foto: Laila Marni/Covesia)

Covesia.com - Dalam rangka peringatan hari pahlawan 10 November 2021, Presiden Joko Widodo menganugerahi Usmar Ismail sebagai pahlawan nasional bersama 3 tokoh lainnya. 

Sebelum lebih lanjut, berikut Covesia.com rangkum siapakah sosok Usmar Ismail ini. Kenapa bisa dinobatkan sebagai pahlawan nasional. 

Usmar Ismail, namanya tidak asing lagi, apalagi oleh sineas perfilman Indonesia. Ia adalah sutradara film, sastrawan, wartawan, juga pejuang Indonesia.

Lahir di Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat, 20 Maret 1921. Merupakan anak pasangan Datuk Tumenggung Ismail, guru Sekolah Kedokteran di Padang, dan Siti Fatimah.

Diketahui, Usmar memiliki seorang kakak yang juga terjun di dunia sastra, yakni Dr. Abu Hanifah yang menggunakan nama pena, El Hakim.

Saat kecil, Usmar bersekolah di HIS di Batusangkar, lalu melanjutkan ke MULO di Simpang Haru, Padang. Kemudian ke AMS (SMA) di Yogyakarta.

Setamat dari AMS, Usmar melanjutkan pendidikannya ke University of California di Los Angeles, Amerika Serikat.

Bakat sastra Usmar sudah nampak semenjak ia duduk di bangku SMP. Kemudian di SMA, Usmar semakin banyak terlibat dengan dunia sastra.

Tak hanya itu, Ia juga menambah pengetahuan dramanya dan aktif dalam kegiatan drama di sekolahnya. Ia bahkan mengirimkan hasil karangannya ke berbagai majalah.

Tahun 1943, Usmar mendirikan kelompok sandiwara bersama kakaknya, El Hakim, dan bersama Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, serta H.B. Jassin diberi nama Maya.

Saat itu, Maya menampilkan sandiwara berdasarkan teknik teater Barat. Kemudian hal itu dianggap sebagai tonggak lahirnya teater modern di Indonesia.

Ada berbagai jenis sandiwara yang dipentaskan Maya, antara lain, Taufan di Atas Asia karya El Hakim, Mutiara dari Nusa Laut, Mekar Melati, dan Liburan Seniman karya Usmar Ismail. 

Tak hanya itu, Usmar juga aktif di dunia jurnalistik semenjak masa proklamasi kemerdekaan. Bersama dua rekannya, Syamsuddin Sutan Makmur dan Rinto Alwi,  mendirikan surat kabar yang diberi nama Rakyat.

Tak tanggung-tanggung Usmar bahkan pernah dijebloskan ke penjara oleh Belanda

Saat menjalankan profesi sebagai wartawan karena dituduh terlibat kegiatan subversi.

Usmar memang memulai debutnya di panggung teater, namun belakangan lebih banyak dihabiskan di dunia perfilman.

Sewaktu masih di Yogya, Usmar hampir setiap minggu bersama teman-temannya berkumpul di suatu gedung di depan Stasiun Tugu untuk berdiskusi mengenai seluk-beluk film.

Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan 33 karya film dari berbagai genre mulai dari drama, komedi satir, musikal, hingga film aksi.

Sejumlah film telah dibuat Usmar Ismail sejak 1949 antaranya, bertajuk Harta Karun. Darah dan Doa (1950) Film pertama yang diproduksi oleh Indonesia setelah resmi menjadi negara berdaulat.

Enam Djam di Jogja (1951) film kedua yang diproduksi oleh PERFINI setelah Darah dan Doa.

Tiga Dara (1956) Film komedi musikal tak hanya sukses di tanah air dan memenangkan Tata Musik Terbaik di Festival Film Indonesia 1960, tapi juga sempat tampil di Festival Film Venesia 1959. Ananda (1970) Ananda menjadi karya terakhir Usmar Ismail sebelum wafat pada 1971.

Usmar mendirikan Studio film pertama Indonesia, 30 Maret 1950 diberi nama Perfini. Namun usia Usmar tidaklah panjang. Pada 2 Januari 1971 dia menghembuskan nafas terakhirnya tanpa meninggalkan pesan apapun. Usmar dikuburkan di Pekuburan Karet, Jakarta.

(lia)

Berita Terkait

Baca Juga