LVRI Minta Pemerintah Jadikan Lima Pejuang Asal Pasaman Sebagai Pahlawan Nasional

LVRI Minta Pemerintah Jadikan Lima Pejuang Asal Pasaman Sebagai Pahlawan Nasional Foto Bupati Benny Utama dan Wakil Bupati Sabar AS bersama Veteran serta forkopimda saat menggelar tabur bunga di TMP Lubuk Sikaping, Rabu (10/11/2021).

Covesia.com -Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) meminta kepada Pemerintah agar lima orang pejuang kemerdekaan asal Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat ini layak dijadikan Pahlawan Nasional.

Ketua Dewan harian cabang LVRI Pasaman, Sumatera Barat H. Moechtazar M ketika diwawancarai oleh Covesia.com, mengatakan kelayakan dijadikan sebagai Pahlawan Nasional karena telah terbukti berkontribusi besar dalam memperjuangkan dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

"Pertama, Prof. Dr. Achmad Mochtar. Ia merupakan anak dari pasangan Omar dan Roekajah asli Bonjol, Kabupaten Pasaman. Beliau adalah seorang dokter dan ilmuwan Indonesia. Ia merupakan orang Indonesia pertama yang menjabat direktur Lembaga Eijkman, sebuah lembaga penelitian biologi di Jakarta yang didirikan pada masa pendudukan Belanda,"terang Moechtazar M disela-sela upacara hari pahlawan 10 November di TMP Lubuk Sikaping, Rabu (10/11/2021). 

Moechtazar M menguraikan bahwa masa pendudukan Jepang, para peneliti di Lembaga Eijkman ditangkap oleh militer Jepang atas tuduhan pencemaran vaksin tetanus. 

"Prof. Dr. Achmad Mochtar merupakan Dokter Virus. Meski tuduhan Jepang tersebut tidak pernah terbukti, Achmad Mochtar menyerahkan diri pada tentara Jepang dan kemudian dieksekusi mati demi menyelamatkan hidup para peneliti di lembaga yang dipimpinnya. Keberadaan jasadnya yang dikuburkan massal beserta beberapa orang lainnya baru diketahui terletak di Ereveld, Ancol pada tahun 2010, setelah berselang 65 tahun. Dari itu sangat layak beliau menjadi salah satu Pahlawan Nasional," tambahnya.

Kedua sebut Veteran ini Prof. Mr. Mohammad Nasroen yang merupakan seorang birokrat dan cendekiawan pelopor kajian filsafat Indonesia. Ia pernah menjadi Residen Sumatra Barat dan Gubernur Sumatra Tengah.

"Prof. Mr. Mohammad Nasroen lahir di Lubuk Sikaping pada tahun 1907. Ia pernah membuka praktik pengacara pada zaman penjajahan Belanda. Pada masa penjajahan Jepang, Mahammad Nasroen menjadi anggota Kerukunan Minangkabau yang tidak bisa dipisahkan dari gubernur Yano Kenzo dan menjadi anggota Chuo Sangi Kai. Perantauannya adalah di Bukittinggi, Padang, Surabaya dan Leiden (memperoleh gelar sarjana 1938)," katanya.

Ia terpilih menjadi anggota DPRS utusan Sumatra Barat dan menjadi Gubernur Muda Sumatra Tengah pada tangal 29 April 1947, serta menjadi Gubernur Militer Sumatra Tengah pada bulan Oktober 1949. 

"Saat menjabat, ia mengeluarkan instruksi Gubernur Mliliter Nomor 10 mengenai pembentukan kabupaten-kabupaten berotonomi beserta dewan perwakilannya di Sumatra Tengah. Luar biasa peran dan kiprahnya dimasa-masa perjuangan kemerdekaan kita," katanya.

Ketiga kata dia Pasrah Lubis yang merupakan Bupati Militer di Pasaman periode tahun 1947-1949. 

"Ia merupakan ahli pemerintahan dan militer. Pada masa pemerintahannya semua pasukan dan masyarakat dikerahkan untuk melawan penjajah semasa agresi militer belanda 1 dan 2," katanya.

Keempat kata dia ada Syamsiar Thaib yang merupakan putri kelahiran Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman yang pernah menjabat sebagai keputrian Indonesia bergerak dibidang Logistik saat perang.

"Kelima ada Muhammad Ajir asli Tanjung Alai, Kecamatan Lubuk Sikaping, Pasaman yang merupakan seorang wedana (camat). Cukup besar jasanya dalam mempertahankan Lubuk Sikaping dari tangan penjajah," tutupnya.

(hri)

Berita Terkait

Baca Juga