Mengenang Lagi 7 Pahlawan Nasional Asal Kabupaten Agam Sumbar, 2 Orang Perempuan

Mengenang Lagi 7 Pahlawan Nasional Asal Kabupaten Agam Sumbar 2 Orang Perempuan Istimewa

Covesia.com - Momentum 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Dari sekian banyak pahlawan di Indonesia 7 orang berasal dari Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Bahkan 2 diantaranya adalah perempuan. 

Pertama, Abdoel Moeis. Lahir di Sungai Pua, Kabupaten Agam, pada 3 Juli 1883. Abdoel Moeis adalah pejuang kemerdekaan sejak Zaman Hindia Belanda.

Abdoel Moeis adalah pahlahwan nasional pertama yang dikukuhkan pemerintah Republik Indonesia. Yakni pada 30 Agustus 1959 melalui Kepres No 218 Tahun 1959 ditetapkan oleh Presiden Soekarno. 

Kedua, Masyhudul Haq, atau yang lebih dikenal dengan H. Agus Salim. Lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat pada 8 Oktober 1884. 

H Agus Salim dikenal sebagai diplomat yang handal. Tak ayal dia bahkan menguasai 7 bahasa asing dan terlibat aktif dalam diplomasi pengakuan kedaulatan RI di awal merdeka baik sebagai menteri luar negeri maupun diplomat. 

Haji Agus Salim wafat pada 4 November 1954. Ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 27 Desember 1961 melalui Keppres nomor 657 tahun 1961 oleh Presiden Soekarno. 

Ketiga, Ruhana Kudus. Ia adalah wartawati pertama Indonesia dan pendiri Surat Kabar Soenting Melajoe. Lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat pada 20 Desember 1884. Ruhana merupakan kakak satu ayah Sutan Sjahrir.

Ruhana diketahui sangat aktif meningkatkan pendidikan dan keterampilan kaum perempuan dengan mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang.

Dia wafat di Jakarta pada 17 Agustus 1972. Ruhana Kuddus ditetapkan sebagai pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 120/TK Tahun 2019 tanggal 7 November 2019 oleh Presiden Joko Widodo . 

Keempat, Adnan Kapau Gani atau lebih dikenal A. K Gani, lahir 16 September 1905, di Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Ia adalah seorang dokter, politisi, dan tokoh militer Indonesia yang pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Kabinet Amir Sjarifuddin. 

AK Gani meninggal dunia 23 Desember 1968, di Palembang. Ia banyak membantu perlengkapan militer melalui penyelundupan dari Singapura. AK Gani ditetapkan sebagai pahlawan nasional  pada 2007 melalui Kepres No . 066 / TK / Tahun 2007 Tanggal 6 November 2007 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. 

Kelima, Sutan Sjahrir yang merupakan intelektual, perintis, dan revolusioner kemerdekaan Indonesia. Lahir 5 Maret 1909, Kota Padang Panjang. 

Setelah Indonesia merdeka, ia menjadi politikus dan perdana menteri pertama Indonesia. Sutan Sjahrir juga pernah menjadi Perdana Menteri Indonesia dari 14 November 1945 hingga 20 Juni 1947. Meninggal 9 April 1966, Zürich, Swiss dan 

Keenam Rangkayo Hj. Rasuna Said lahir di Maninjau, Kabupaten Agam pada 14 September 1910. Rasuna adalah pendidik, tokoh politik, pejuang emansipasi sejak zaman Hindia Belanda. 

Tak hanya itu, dia juga salah satu pendiri Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Di zaman penjajahan Belanda, pidato-pidatonya yang menentang pemerintah Hindia Belanda, membuatnya dipenjara pada 1932. 

Di awal kemerdekaan, Rasuda said mewakili Sumatra Barat di KNIP. Pada masa perang kemerdekaan, ia terlibat di Front Pertahanan Nasional. 

Rasuna Said wafat di Jakarta pada 2 November 1965. Rasuna Said diangkat jadi Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 084/TK/Tahun 1974 Tanggal 13 Desember 1974 oleh Presiden Soeharto. 

Ketujuh, Buya Hamka atau nama lengkapnya Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) lahir di Nagari Sungai Batang, Maninjau, Kabupaten Agam pada 17 Februari 1908. 

Buya Hamka adalah ulama besar, pendidik, sastrawan dan pejuang kemerdekaan. Selama hidup ia menulis 94 buku, termasuk Tafsir Al Azhar.

Ia wafat di RS Pertamina, Jakarta bertepatan dengan 22 Ramadan 1401 H, dalam usia 73 tahun 5 bulan.  Dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. 

Buya Hamka ditetapkan sebagai pahlawan nasional, melalui Keppres No. 113/TK/2011, tanggal 7 November 2011 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. 

(lia/adi)

Berita Terkait

Baca Juga