Kisah Buya Hamka: Usil, Bolos Sekolah Belasan Hari Hingga Menjadi Ulama Besar

Kisah Buya Hamka Usil Bolos Sekolah Belasan Hari Hingga Menjadi Ulama Besar Dasri, Budayawan yang bertugas memandu di Museum Kelahiran Buya Hamka Di Nagari Sungai Batang Kabupaten Agam

Covesia.com - Sosok Buya Hamka dikenal sebagai ulama besar, tapi juga politisi dan sastrawan.  Kemampuannya bahkan diapresiasi hingga luar negeri, terbukti dengan diberikannya gelar Doktor Honoris Causa (DR HC) oleh Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

Namun siapa sangka, pada masa belianya Hamka kecil terkenal usil bahkan sang ayah Abdul Karim Amrullah pernah dipanggil Shekh Ibrahim Musa, (Kepala Madrasah Attawalib Parabek) karena Hamka bolos sekolah selama 15 hari.

Pada kesempatan ini Covesia.com berkesempatan berbincang-bincang dengan Budayawan yang bertugas memandu di Museum Kelahiran Buya Hamka Di Nagari Sungai Batang Kabupaten Agam. 

Diceritakan Dasri, semasa kecil Hamka tinggal bersama nenek di Sungai Batang, Hamka sangat senang bermain layang-layang, mandi di danau bahkan mencari rinuak dan bada-bada (Ikan endemik di Danau Maninjau)

Pada malam harinya Hamka kecil bersama sang kakek pergi mencari ikan bahkan tidur ke danau.

"Tingga bersama kakek dan nenek, Buya hamka sedikit bebas melakukan aktifitas masa kecil. bahkan Hamka pernah jatuh dari tangga hal itu membuat sang ayah mulai khawatir," ujarnya. 

Pada usia 7 tahun Pria bernama lengkap H Abdul Malik Karim Amrullah, diajak sang ayah untuk tinggal bersama di Padang Panjang.

Selama hidup bersama Ayah, bakat sastra Hamka mulai terlihat, beliau lebih suka membaca buku Kaba dibandingkan buku pelajaran agama, hal ini mulai diperhatikan sang ayah dan pada usia 12 tahun hamka disekolahkan di Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi untuk mulai mendalami ilmu agama.

Namun harapan ayah sepertinya belum terwujud, sang ayah pernah dipanggil ke pondok pesantren, pemanggilan tersebut karena buka prestasi melainkan Hamka kecil bolos sekolah selama 15 hari.

Selain itu, Dituturkan Taufiq Ismail, seorang sastrawan dalam buku "Ayah" yang ditulis putra ke-5 Buya Hamka, Irfan Hamka.

Diceritakan, selama sekolah Hamka kecil pernah menjahili juniornya itu. Dimintanya si junior memejamkan mata sambil membuka mulut. Lantas Hamka menggosok-gosok leher dengan telunjuknya hingga didapati daki sebesar biji jagung. Daki itu oleh Hamka dimasukkan ke mulut junior yang menurut begitu saja. 

Pada umur 17 tahun, Hamka diajak kakak iparnya AR St Mansur ke Pekalongan Jawa Timur, kakak iparnya yang seorang guru mulai menempa karekter hamka sehingga  menjadi seorang tokoh besar.

(Jhn/adi)

Berita Terkait

Baca Juga