Abdul Karim Rasyid, Dubes RI Pertama Untuk Kamboja yang Tak Tercatat Sebagai Pahlawan Nasional

Abdul Karim Rasyid Dubes RI Pertama Untuk Kamboja yang Tak Tercatat Sebagai Pahlawan Nasional Makam Mayor Jenderal (Purn) Abdul Karim Rasyid

Covesia.com - Sosok Mayor Jenderal (Purn) Abdul Karim Rasyid seorang putra yang berasal dari Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) ternyata sempat menjadi Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia pertama untuk Kamboja pada 1962. Namun, sosok beliau tidak tercatat sebagai pahlawan atau pejuang bangsa. 

Berdasarkan data dan informasi yang dikumpulkan Covesia.com, salah satu bukti sejarah yang tidak bisa dipungkiri bahwa sosok beliau merupakan seroang tokoh yang berperan penting dalam kemerdekaan ini, dapat dilihat dari makam beliau yang dimakamkan di makam pahlawan yang berada di Kalibata, dan makannya tersebut berada di komplek makamnya salah seorang pahalawan yang bernama Rang Kayo Basah. 

"Bukti beliau merupakan seroang tokoh pahlawan negara ini dapat dilihat dari makam beliau yang dimakamkan di pemakaman pahlawan nasional di Kalibata,"ucap Rian salah seorang pemuda Batang Kapas sebagai seorang pemuda Pemerhati Sejarah Daerah di Pessel pada Covesia.com Rabu (10/11/2021). 

Selain dari makam beliau kata Rian, bukti lain sosok penting beliau sebagai seorang pejuang bangsa Indonesia juga dapat ditemukan dari data dan catatan riwayat beliau yang berada di Perpustakaan Nasional, Mabes TNI dan di Kemeentrian Pertahanan RI. 

"Ditiga tempat itu saya menemukan catatan dan riwayat beliau bahwa beliau merupakan pejuang bangsa kita ini diazam sebelum kemerdekaan, Orde Lama dan Orde Baru,"katanya. 

Disampaikannya, berdasarkan dokumen yang ditemukan di Perpustakaan Nasional, beliau merupakan seorang Dubes Pertama RI Untuk Kamboja dan Thailand. 

Kemudian, dokumen yang ada di Mabes TNI ditemukan dokumen catatan beliau dengan NIP dan Kartu Persik sang istri sebagai anggota TNI nasional. 

"Kalau di Menhan ada foto atau dokumentasi lama saat beliau menerima penghargaan yang diberikan Presiden RI pertama Sukarno terhdap beliau sebagai seorang pahlawan yang berjasa untuk negera ini,"ujarnya. 

Dari berbagai sumber data dan cacatan yang berhasil dikumpulkannya dari tiga tempat itu, dituliskan peran penting pertama Abdul Karim Rasyid dimasa penjajahan dipanggilnya beliau oleh presiden Soekarno untuk menjadi penghubung Soekarno dengan Jendral perang jepang Terauchi Hisaichib di Vietnam. 

"Dan disaat itulah beliau Mayor jendral abdulkarim Rasyid yang kemeliterannya di lantik langsung oleh Hisaychi terauchi (PETA),"tuturnya Rian. 

Setelah order lama selesai dan digantikan oleh orde baru yang dinahkodai oleh Presiden RI ke-2 Soeharto. 

Beliau kembali diberikan jabatan oleh Soeharto dan jabatan itu menjadi jabatan terakhir beliau dalam karirnya yaitu sebagai Ketua Mesjid Indonesia. 

"Dalam jabatan beliau, beliau menjalankan program pembangunan 1000 Mesjid di Indonesia bersama Soeharto dengan bentuk bangunan arsitektur yang sama di seluruh Indonesia. Salah satu buktinya ada di Kota Painan yaitu mesjid Al-Amin di samping kantor Pos Painan,"ucapnya. 

Ia menambahkan, bukti sosok dan karir beliau sebagai Dubes Pertama RI Untuk Kamboja dan Thailand di tahun 1962 tersebut juga ada di salah satu rumah beliau yang berada di Kampung Kalumpang, Nagari Koto Nan Tigo IV Koto Hilie, Kecamatan Batangkapas. 

"Dirumah beliau yang dibangun pada tahun 1945 itu banyak tersimpan foto-foto kegiatan Abdul Karim selama menjabat sebagai Dubes. Seperti, ketika ia melakukan kegiatan kenegaraan bersama pejabat Kamboja , namun, tidak ada keterangan tahun di foto itu,"tambahnya. 

Diketahui, saat ini rumah Mayor Jenderal (Purn) Abdul Karim Rasyid dihuni oleh keluarga atau keturunannya yaitu Syamsinar (83) yang merupakan saudara dari istri Abdul Karim bersama anak dan cucunya Erni (43) dan Evi (30). 

Lanjutnya menceritakan, sebelum menjadi Dubes, Abdul Karim Rasyid dulunya pernah mendirikan organisasi yang bertujuan terkoneksinya hubungan perantau dengan kampung halaman yang disingkat dengan nama HKB. 

"Organisasi itu didirikannya pada tahun 1958,"ucapnya. 

Namun dari catatan dan bentuk perjuangan beliau terhadap bangsa dikala itu. Sampai sekarang beliau masih belum tercatat sebagai pahlawan nasional. 

"Bahkan, banyak putra daerah Kabupaten Pesisir Selatan, yang tidak tau dengan jasa dan peran penting beliau dikala itu, dan nama beliau juga tidak masuk dalam sederetan nama-nama tokoh besar yang ada di daerah Pesisir Selatan,"tutupnya. 

Sementara itu, Syamsinar adik dari istri Adul Karim Rasyid yang saat ini masih hidup mengatakan, ia sangat berharap nama besar beliau bisa dikenal dan dicatatkannya sebagai pejuang bangsa. 

Karena menurutnya, peran beliau dalam memperjuangkan bangsa ini sangat banyak dan beliau patut mendapatkan penghargaan itu. Kalau kenangan beliau bisa disamakan dengan pejuang lain. Maka nama besar dan perjuangan beliau tidak akan hilang begitu saja.

"Jadi kami sangat berharap dihari pahlawan tahun ini untuk pemerintah daerah dan Anggota DPRD untuk bisa memperjuangkan hal itu dan mengajukan nama beliau sebagai pejuang bangsa ini. Agar sosok dan nama besar beliau tidak hilang begitu saja,"harapnya. 

(ind/adi)

Berita Terkait

Baca Juga