Bagindo Aziz Chan, Pahlawan Sekaligus Wali Kota Padang yang Gugur di Usia Muda

Bagindo Aziz Chan Pahlawan Sekaligus Wali Kota Padang yang Gugur di Usia Muda Sumber: wikipedia/Rhmtdns

Covesia.com - Pada 10 November diperingati sebagai hari Pahlawan. Sumatera Barat memiliki banyak tokoh perjuangan dan pahlawan. Salah satunya, Bagindo Aziz Chan. 

Nama tersebut tentu familiar bagi masyarakat yang tinggal di Kota Padang dan Bukittinggi. Sebab, nama pahlawan tersebut juga dijadikan nama jalan. 

Berikut Covesia.com rangkum sekelumit perjalanan Pahlawan dan juga Wali Kota Padang, yang dibunuh oleh Belanda pada usianya yang masih sangat muda. 

Putra ke empat pasangan Bagindo Montok dan Jamilah ini diberi nama Bagindo Aziz Chan. Tepat 30 September 1910, Bagindo lahir di Kampung Alang Laweh, Padang, Sumatera Barat. 

Seperti anak-anak lainnya, Bagindo juga menempuh pendidikan. Mengawali pendidikannya, Bagindo bersekolah di HIS Padang, kemudian dia melanjutkan sekolahnya di MULO Surabaya dan AMS di Batavia. Kemudian dua tahun duduk di RHS atau perguruan tinggi hukum di Batavia. 

Bagindo bahkan sempat membuka praktik pengacara dan aktif di beberapa organisasi. 

Pemberani, konsisten, tak gentar menghadapi musuh adalah sifat yang melekat pada diri Bagindo Aziz Chan. Dia tidak takut dan tidak mau tunduk dengan kekuatan militer Belanda yang datang ke Padang pada 10 Oktober 1945. Bagindo terus memberikan perlawanan salah satunya dengan menerbitkan surat kabar perjuangan yang bernama Republik Indonesia Jaya. 

Di usianya yang masih muda dan dengan keberanian serta pantang menyerah, dirinya dipercaya menjadi Wakil Wali Kota Padang pada 24 Januari 1946. Tak berselang lama, pada 15 Agustus 1946, ia dipercaya dan dilantik menjadi Wali Kota Padang menggantikan Mr. Abubakar Jaar. 

Bagindo Aziz Chan yang baru berusia 36 tahun, kala itu sempat diragukan kepemimpinannya. Namun dia berhasil menunjukan kepemimpinan yang kuat dan berani. 

Pada 23 Agustus 1946, ia menggempur markas Belanda yang menangkap masyarakat di Gunung Pangilun setelah mereka diserang oleh gerilya. Akhirnya masyarakat dikumpulkan di Lapangan Dipo, Padang Pasir dan Muaro dibebaskan Belanda.

Namun semua berjalan tidak mudah. Saat melakukan tugasnya sebagai kepala daerah ia dihadapkan pada berbagai tantangan. Bahkan dia harus kehilangan nyawanya demi membela daerahnya. 

Bagindo dinyatakan meninggal dunia pada 19 Juli 1947, jasadnya dikebumikan Taman Makam Pahlawan Bahagia, Bukittinggi. Menurut hasil visum di Rumah Sakit Tentara Dr. Reksodiwiryo, Ganting, ia meninggal karena terkena benda tumpul dan ada tiga bekas tembakan di wajahnya. 

Akhir yang tragis untuk seorang pejuang demi membela rakyatnya. Wafatnya Bagindo membuat kondisi di Sumbar menjadi tegang. Kepala daerah adalah simbol rakyatnya, apabila dibunuh tentu masyarakat tidak terima. 

Tak sampai di situ, untuk menghormati jasa-jasa dan pengorbanannya, nama Bagindo Aziz Chan diabadikan menjadi nama jalan di beberapa kota, seperti Padang dan Bukittinggi. 

Kemudian bentuk penghargaan dan penghormatan lainnya untuk Sang Wali Kota yang telah gugur, didirikan sebuah tugu di persimpangan Jalan Gajah Mada dan Jalan Jhoni Anwar, Kampung Olo, Nanggalo. 

Tugu tersebut dibangun pada 1983 dan diresmikan Wali Kota Padang Syahrul Ujud  demi menghormati jasa pahlawan, Bagindo Aziz Chan yang gugur 19 Juli 1947. Namun warga Kota Padang lebih sering menyebut tugu itu tugu simpang tinju. 

Monumen lainnya, terletak di Taman Melati dalam kompleks Museum Adityawarman, hasil karya pelukis Wisran Hadi dan pemahat Arby Samah.

Kemudian, pada tahun 2005 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar pahlawan nasional padanya. Atas jasa-jasanya selama perjuangan ,melalui Keppres No. 82/TK/2005, 7 November 2005.

Saat ini Pemerintah Kota Padang telah  menjadikan Rumah Kelahiran Bagindo Aziz Chan sebagai museum. Museum tersebut untuk mengenang perjuangan yang dilakukan oleh Bagindo Aziz Chan. 

Museum tersebut selain rumah tempat kelahiran Bagindo Aziz Chan juga dipajang foto dan dokumentasi terkait perjuangannya semasa hidup. Berlokasi di Kelurahan Alang Laweh, Kecamatan Padang Selatan Kota Padang. 

Rumah kelahiran Bagindo Aziz Chan berbentuk rumah panggung dengan dinding dan lantai dari kayu. Bagi pengunjung yang ingin datang tidak dikenai tiket. Museum tersebut juga dibuka setiap hari.

Sebagai generasi yang mencintai jasa para pahlawannya, tentu berkunjung ke museum adalah salah satu cara menghargai jasa pahlawan. Yakni, dengan mengenal, mengetahui sejarahnya dan menjadikan contoh untuk terus berjuang mengharumkan nama negara.

Berita Terkait

Baca Juga