Berkualitas dan Unggul, FIB Universitas Bung Hatta Menunggu Anda

Berkualitas dan Unggul FIB Universitas Bung Hatta Menunggu Anda

Covesia.com - Hei, kamu! Ya, kamu yang siswa kelas XII! Masih bingung mau kuliah di universitas mana dan jurusan apa? Hmmm …. Daripada bingung tak karuan, lebih baik kamu kuliah di Universitas Bung Hatta (UBH) saja.

Berdiri sejak 1981, UBH saat ini memiliki 24 program studi (Prodi) yang diakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional. Berdasarkan rilis Kementerian Ristekdikti tahun 2017, UBH masuk 71 besar universitas nonpoliteknik di Indonesia.

Menyandang nama besar sang proklamator Dr Mohammad Hatta, kampus ini memiliki visi menjadi perguruan tinggi unggul dan bermartabat menuju universitas berkelas dunia. 

Kampus ini memiliki misi melaksanakan pendidikan dan penelitian yang berkualitas dalam iklim yang demokratis dengan menjunjung tinggi kebebasan akademis dan menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia.

Selain itu, kampus ini juga mempunyai tujuan mulia menghasilkan lulusan yang berkualitas dan profesional untuk memenuhi tuntutan global, berpikir kritis dan analitis, serta memiliki rasa percaya diri yang tinggi, berlandaskan iman dan takwa.

Pokoknya, kampus ini keren banget deh sebagai pilihan tempat menimba ilmu bagi kamu yang berdomisili, baik di dalam maupun di luar Provinsi Sumatera Barat.

Perlu diketahui, di UBH, ada Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Fakultas ini telah banyak mencetak alumni yang suskses, karena memang keunggulannya.  FIB memiliki tiga program studi, yaitu Sastra Indonesia, Sastra Inggris, dan Sastra Jepang. 

Fakultas ini memiliki dosen-dosen yang unggul, berpengalaman, dan berkualitas. 

FIB memiliki 21 orang dosen bergelar master dan doktor untuk mengembangkan studi ilmu budaya dan humaniora berkelas dunia. 

Dalam mengelola pembelajaran, segenap sivitas akademika juga didorong untuk menerapkan karakter seperti Bung Hatta. Wow, luar biasa, bukan!


Prodi Sastra Indonesia FIB UBH memiliki keunggulan prodi dibandingkan prodi yang sama pada universitas lain. Di Prodi Sastra Indonesia, mahasiswa dibekali dengan bidang penulisan dan penyajian berita agar mereka dapat membuat berita dan membacakannya sebagai news anchor. 

Mahasiswa juga dibekali dengan komunikasi publik dan kehumasan. Ya, di prodi ini, mahasiswa dapat belajar belajar menjadi pembawa acara dan reporter. Selain itu,

kemampuan mahasiswa dilengkapi pula dengan bidang desain grafis, dan pengetahuan literasi sampai bidang penerbitan.

Staf pengajar di prodi ini adalah dosen-dosen dengan SDM yang luar biasa. Sebut saja misalnya Dr Endut Ahadiat M.Hum yang merupakan Sekretaris Hiski Komda Sumbar. 

Ada pula Dra Iman Laili M.Hum yang merupakan penerima grand penelitan Dikti tahun 2014 untuk Skim Hibah bersaing selama tiga tahun.

 Lebih dari 50% dosen bergelar doktor lulusan dalam dan luar negeri. Diana Chitra Hasan, M.Hum, M.Ed, Ph.D adalah lulusan Monash University Australia, dan Temmy Thamrin, M.Hum, M.Ed, Ph.D adalah lulusan La Trobe University, Australia. Dr.Elfiondri, M.Hum adalah lulusan UUM, Malaysia dan Dr.Yusrita Yanti, M.Hum, adalah lulusan Universitas Atmajaya, Jakarta.

Prodi Sastra Inggris, calon lulusan prodi ini dibekali dengan pilihan keahlian lain yaitu pengetahuan kepariwisataan melalui mata kuliah paket pariwisata yang mencakup bidang perhotelan (hotel industry) dan perjalanan wisata (travel industry).

Selain itu, mahasiswa dibekali dengan kemampuan english for specific purpose (ESP) melalu mata kuliah English for Tourism. 

Ya, bagi kamu yang ingin menjadi translator, penerjemah lisan, MC, public speaker, peneliti bahasa, sastra, dan budaya, atau pelaku pariwisata cocok sekali masuk prodi ini. 

Dosen-dosen di prodi banyak yang doktor lulusan luar negeri. Misalnya, Diana Chitra Hasan M.Hum, M.Ed, Ph.D doktor Monash University Australia, dan Temmy Thamrin, M.Hum, Ph.D ta g merupakan doktor La Trobe University Australia, dan sebagainya.

Sementara keunggulan proses belajar, mahasiswa menggunakan kemampuan bahasa Inggris dalam kegiatan drama yang ditampilkan sebagai pementasan drama setiap tahun. Kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris juga diperoleh mahasiswa melalui pelajaran Public Speaking, yang bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan yang baik untuk berkomunikasi di depan publik, seperti menjadi presenter di berbagai media elektronik, MC untuk berbagai acara dan kesempatan.

Lulusan memiliki kemampuan penerjemahan yang tidak diperoleh hanya melalui perkuliahan di dalam kelas, akan tetpi mahasiswa juga diberi kesemapatan untuk mengikuti workshop dengan pemateri yang merupakan praktisi penerjemah yang handal, melalui kerjasama yang dijalin oleh prodi Sastra Inggris dengan Litara Foundation dan Asia Foundation. Hasil terjemahan mahasiswa ini juga dipubikasikan di websitewww. letsreadasia.org.


Kemudian ada Prodi Sastra Jepang. Keunggulan Prodi Sastra Jepang dibandingkan prodi yang sama di universitas lain yaitu memiliki labor bahasa dan labor sulih suara standar studio rekaman yang dapat digunakan mahasiswa. 

Selain itu, prodi ini juga memiliki kerja sama dengan lembaga kejepangan dalam dan luar negeri sebagai penunjang kegiatan perkuliahan.

Calon lulusan prodi ini diarahkan untuk menjadi interpreter dan translator, administrator perusahaan atau pemerintahan, pelaku sulih suara, pelaku industri pariwisata, peneliti pemula dan instruktur bahasa Jepang di lembaga pendidikan, serta wirausaha berbasis kompetensi bahasa dan budaya Jepang.

Prodi Sastra Jepang juga memiliki kerja sama nasional dan internasional. Yaitu, The Japan Foundation, Konsulat Jendral Jepang di Medan,  Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Sonoda Women’s University Hyogo, Jepang (beasiswa belajar selama 1 tahun dan Joint Research). 

Lalu, kerja sama lainnya dengan Minang Kikin, ASJI, dan APBJSI. Dosen yang mengajar pada jurusan ini merupakan tenaga pengajar yang tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. 

Misalnya seperti Prof. Dr. Diana Kartika. Beliau merupakan Profesor Sastra Jepang pertama di Sumatra dan berprestasi dalam bidang akademik.

Diana Kartika yang juga sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerjasama dan Alumni UBH, merupakan sosok yang dekat dengan mahasiswa, bahkan oleh mayoritas anak didiknya Diana Kartika lebih populer dipanggil mami.

"Jadi begini, FIB ini merupakan salah satu fakultas unggulan, banyak alumni FIB ini yang sudah berhasil dan bekerja baik dalam maupun luar negeri," ujar Diana.

Menurutnya, bagi calon mahasiswa yang ingin bergabung di FIB nantinya kan bisa bergabung dengan sistem perkuliahan yang menarik dan diyakini akan bisa bersaing ketika nanti sudah wisuda.

"FIB ini fakultas yang unggul karena sudah teruji dan terbukti," imbuhnya.

Lebih lanjut Diana Kartika mengungkapkan, ketiga jurusan yang ada di FIB itu merupakan jurusan unggulan dan diproyeksikan para alumni untuk bisa terjun dan bersaing dalam dunia kerja, baik dalam dan luar negeri. 

Seperti jurusan Sastra Inggris, sudah jelas arahnya untuk menciptakan mahasiswa yang kompeten di bidangnya. Baru-baru ini mahasiswa jurusan ini mengikuti kegiatan Exchange Student and  Voluntary Work melalui AIESEC  sebagai pengajar Bahasa Inggris di Vietnam.

Tak hanya itu, ujar Diana, jurusan Sastra Indonesia juga tak kalah hebat.  Salah satu pasal dalam UU Nomor 24 Tahun 2009 menyebutkan Bahasa Indonesia diajukan sebagai bahasa internasional. Faktanya, bahasa Indonesia sudah dipakai dan diajarkan di lebih dari 45 negara. Di Vietnam, bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar kedua. Hal ini cukup beralasan karena Bahasa Indonesia di kawasan ASEAN menjadi bahasa pengantar utama. Di Korea, terdapat tiga universitas yang mengajarkan bahasa Indonesia dan Melayu.

"Dengan adanya fakta tersebut, tentunya mahasiswa Sastra Indonesia akan bisa bersaing secara Internasional," imbuh Diana Kartika.

(adv)

Komentar