Hasilkan Prosiding Terindeks Scopus, Lima Negara akan Berpartisipasi pada ISoL-4 FIB Unand

Hasilkan Prosiding Terindeks Scopus Lima Negara akan Berpartisipasi pada ISoL4 FIB Unand

Covesia.com - Lima negara akan berpartisipasi pada International Seminar on Linguistic (ISoL) ke-4 FIB Unand pada Rabu, 10 Juli 2019 di Convention Hall Universitas Andalas. 

Kelima negara tersebut beserta pembicaranya ialah Mahyeldi Ansarullah (Walikota Padang), Prof. Dr. Syaiful Haq (Universiti Malaya), Dr. Des Luh Anik Mayani (Masyarakat Linguistik Indonesia), Prof. Dr. Jovi Peregrino (University of The Philipines), Dr. Sato Hirobumi (Universiti Malaya), Dr. Lindawati (Universitas Andalas), Abdulkhaleq Al-Qahtani, Ph.D. (King Khalid University, Saudi Arabia), Chuwong Klinleka, Ph.D. (Kasetsart University, Thailand), dan Baf Kuka M.B.A., B.H.Sc (Australia).

Dr. Gusdi Sastra, M.Hum., selaku Ketua ISol ke-4 menyatakan bahwa peserta dari Indonesia mewakili daerah bagian timur dan barat Indonesia. “Peserta dari Indonesia berasal dari Unand. Kemudian, ada juga dari Solo, dari Kendari, dari Jambi, dari Sumatera Utara, dari Jawa Barat, dari Jogyakarta, dan ada yang mewakili barat dan timur. Paper masuk sampai sekarang hampir sampai 60. Semua paper akan di-review, diseleksi lagi mana yang akan diterbitkan di prosiding scopus,” ujarnya ketika diwawancarai di Ruang Sekretariat ISol ke-4 di Lt. 2 Dekanat FIB Unand pada Jum’at, 5 Juli 2019.

ISoL merupakan kegiatan akademik yang diselenggarakan secara berkala, yaitu satu kali dalam dua tahun oleh Program Studi Linguistik Pascasarjana FIB Unand dan Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) Cabang Universitas Andalas. Tahun 2019 ini, ISol juga bekerja sama dengan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unand dan Walikota Padang. 

ISoL yang memasuki tahun keempat ini mengangkat tema “Language in Disruptive Technology” yang dibagi ke dalam beberapa subtema. Terkait dengan tema seminar tersebut, Gusdi Sastra menjelaskan berkenaan dengan teknologi yang berperan terhadap bahasa dan juga pemakaian bahasa dalam teknologi, baik itu dalam media sosial maupun dalam teks-teks tertulis. 

“Tema itu dipilih karena saat ini sama-sama kita lihat bahwa bahasa sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan sosial, seperti di WA grup dan facebook. Bahasa bisa menyebabkan orang lain salah paham dengan apa yang dimaksud, bahkan bahasa juga menjadi strategi politik untuk mencapai apa yang menjadi tujuan si penuturnya.” 

Kemudian, Gusdi Sastra mengungkapan bahwa dengan adanya research atau sharing informasi tentang berbagai persoalan bahasa dalam kehidupan bermasyarakat, diharapkan seseorang akan menjadi paham bahwa bahasa itu memang sangat penting untuk dikaji, untuk didalami, dan untuk diperhatikan terkait penggunaannya, tidak saja secara linguistik, tapi juga secara pragmatik.

Lebih lanjut, Ketua ISoL ke-4 ini menyatakan bahwa dalam seminar nanti tidak hanya orang linguistik yang memaparkan hasil penelitian, tapi juga akademisi dari berbagai bidang ilmu lain yang interdisipliner untuk melihat bahasa dari sisi keilmuannya, apakah itu komputer, medis, dan bahkan politik, sosial, dan ekonomi yang semuanya terkait dalam penggunaan bahasa, baik itu bahasa lisan maupun bahasa tulisan. 

Acara pembukaan ISoL ke-4 akan diadakan di Palanta Kantor Walikota pada Selasa malam pukul 19.00 WIB, sekaligus penyampaian ucapan keynote oleh Walikota Padang, Mahyeldi Ansarullah, terkait strategi dan kebijakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah terhadap gejala-gejala sosial berbahasa masyarakat dalam berkomunikasi. 

Adapun mengenai jadwal seminar, Gusdi Sastra menyatakan dimulai pada Rabu, 10 Juli 2019. Sehari setelah itu, pada kamis, 11 Juli 2019 nanti, para peserta seminar yang berasal dari luar negeri dan luar Provinsi Sumatera Barat akan melakukan tour. Mereka akan dibawa ke tempat-tempat yang penting untuk diketahui, seperti Pusat Informasi dan Dokumentasi Budaya Minangkabau Padang Panjang, Rumah Puisi Taufik Ismail, Rumah Bung Hatta, dan peserta diberi waktu untuk melihat Bukittinggi pada malam hari, lalu kembali ke Padang.

Menambahkan keterangan yang diberikan oleh Ketua ISol ke-4 sebelumnya, selaku Wakil Ketua, Dr. Ike Revita, M.Hum. menjelaskan bahwa seiring berkembangnya waktu, teknologi katanya juga ikut berkembang. Menurut Ike Revita, perkembangan teknologi itu seharusnya membawa dampak positif kepada masyarakat. Akan tetapi, pada kenyataannya, justru perkembangan teknologi menyebabkan terjadinya kerusakan-kerusakan dalam bahasa atau pengrusakan-pengrusakan saat berbahasa. 

“Kita berharap perkembangan teknologi berbanding lurus dengan perkembangan bahasa. Memang kita tidak bisa lepas dari kenyataan bahwa bahasa manusia itu bersifat dinamis. Manusia pasti berubah, termasuk dalam berbahasa. Akan tetapi, hendaknya perubahan itu menjadi perubahan yang baik. Kita juga tidak bisa mengingkari kreativitas manusia dalam berbahasa sehingga akan menyebabkan munculnya pola-pola berbahasa, pilihan-pilihan kata tertentu yang kemudian jauh dari nila- nilai dan norma-norma seharusnya,” pungkasnya. 

(rilis)

Komentar